Satu nyawa kembali melayang di tengah jalan. Bukan karena tabrakan biasa, bukan pula karena nasib sial semata. Seorang pengemudi ojek online, yang tengah menjalani hari-hari mencari nafkah, tewas terlindas mobil rantis Brimob di tengah demonstrasi yang menyuarakan tuntutan rakyat. Bagi sebagian orang, ini sekadar “insiden.” Tapi bagi publik yang menyaksikan rekaman video kendaraan itu meninggalkan tempat kejadian tanpa berhenti, ini adalah pengkhianatan terhadap rasa keadilan.
Tagar-tagarnya keras, brutal, dan tak mengenal sensor: #PolisiPembunuhRakyat, #IndonesiaGelap. Kita menyaksikan bagaimana suara publik berubah menjadi badai digital. Tapi di balik gelombang kemarahan ini, ada arus lain yang lebih tenang namun berbahaya—arus propaganda dari kelompok ekstremis yang melihat ini sebagai panggung emas untuk menyusupkan agenda mereka.
Kemarin yang Luka, Hari Ini yang Murka
Kemarahan publik bukan tanpa sebab. Luka lama tentang kekerasan aparat, impunitas, dan krisis kepercayaan seolah dikoyak lagi oleh kejadian ini. Di negeri yang trauma dengan represi dan kekuasaan tanpa koreksi, satu tragedi cepat membesar menjadi simbol.
Dan simbol itu kini digenggam erat oleh masyarakat yang merasa tak lagi punya ruang untuk didengar. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran negara yang dingin, lambat, atau bahkan menghindar hanya memperparah luka kolektif. Ketika tidak ada empati, maka amarah akan menjadi bahasa utama.
Ketika Ekstremisme Menunggang Emosi
Salah satu rekan peneliti media sosial menunjukkan hasil pantauannya pagi ini kepada saya. Bahwa kelompok pendukung Islamic State (IS/ISIS) mulai menyusup ke ruang-ruang digital yang penuh emosi ini. Mereka menyisipkan narasi yang mengaitkan tragedi ini dengan delegitimasi sistem demokrasi:
“Inilah akibat mengikuti agama demokrasi.”
“Lawan pelindung agama demokrasi!”
Mereka tak hanya menghujat aparat, tapi juga menyulut keraguan terhadap sistem negara itu sendiri. Narasi seperti ini tidak hanya berbahaya, tapi juga licik—karena menyaru sebagai bentuk keberpihakan kepada korban dan rakyat.
Di tengah kemarahan, publik yang marah bisa saja terbius. Aksi balas dendam terhadap aparat bisa dengan mudah disulap menjadi “perlawanan.” Dalam kondisi masyarakat yang marah dan frustrasi, bahaya tak selalu datang dari suara yang paling keras, tetapi justru dari diam yang menyimpan niat.
Berdasarkan catatan dan pengalaman saya selama ini, saya mulai mengkhawatirkan satu hal yang jarang dibicarakan: bahwa kemarahan publik yang meluas bisa menginspirasi sel-sel tidur pendukung ISIS untuk melakukan aksi serangan individu terhadap aparat kepolisian.
Bagi kelompok radikal, momen ini adalah peluang. Saat citra polisi berada di titik rendah di mata masyarakat, serangan terhadap aparat bisa dianggap bukan lagi sebagai aksi teroris, tetapi sebagai bentuk “perlawanan.” Mereka bisa menyelinap dalam kemarahan kolektif, dan menyalakan api kekerasan—dianggap sebagian sebagai “balas dendam rakyat.”
Inilah titik paling rawan dari semua ini: ketika terorisme kehilangan wajah aslinya karena dibalut oleh kemarahan publik. Ketika masyarakat yang kecewa memilih diam, atau bahkan diam-diam mendukung, maka batas antara protes dan teror mulai kabur.
Ini bukan sekadar krisis keamanan. Ini adalah krisis kesadaran, krisis tentang bagaimana kita membedakan antara suara protes yang sah dan kekerasan yang memanipulasi luka rakyat.
Aksi teror yang dibungkus sebagai “pembelaan terhadap rakyat” bisa menjelma menjadi narasi yang berbahaya: membuat pelaku kekerasan tampak seperti pahlawan, dan membuat aparat, betapapun kompleks situasinya, tampak sebagai musuh satu-satunya.
Negara Perlu Hadir, Tapi Bukan Sekadar dengan Pernyataan Pers
Tulisan ini tidak bertujuan menyudutkan siapa pun secara serampangan. Tapi kita perlu menatap realita secara jujur: kepercayaan itu rapuh, dan dalam masyarakat yang diliputi rasa marah serta trauma kolektif, tindakan yang kecil pun bisa berarti besar.
Andai mobil rantis itu berhenti dan memberi pertolongan, narasinya mungkin bisa berbeda. Tapi ketika ia pergi, maka luka terbuka.
Kini, tugas negara bukan hanya mengusut kejadian ini secara transparan, tetapi juga hadir dengan empati, menenangkan publik, dan menutup celah radikalisasi. Kita sedang berada di titik kritis: antara membiarkan api kemarahan meluas atau menyiramnya dengan keadilan dan akuntabilitas nyata.
Menjaga Akal Sehat dalam Badai Emosi
Kami percaya bahwa dalam keadaan sesulit apa pun, ruang dialog dan nalar sehat harus dijaga. Marah adalah hak. Tapi bagaimana kita mengelola kemarahan bersama, agar tidak ditunggangi kekerasan dan kebencian, adalah tanggung jawab.
Tragedi ini harus menjadi momen refleksi: tentang siapa yang kita percaya, bagaimana kita bereaksi, dan siapa yang diam-diam mengintai di tengah kekacauan.
Jangan sampai nyawa yang hilang ini menjadi bahan bakar bagi kekerasan berikutnya.[]
Ilustrasi: By AI (ChatGPT)
Komentar