Dunia maya memang sulit diprediksi. Terkadang, saat kita berusaha keras mencari sesuatu, justru terasa begitu sulit ditemukan. Namun ketika kita mulai menyerah, hal yang dicari itu justru datang dengan sendirinya. Barangkali begitulah pertemuan saya dengan si X, seorang remaja perempuan berusia 19 tahun yang hingga kini masih berada di kamp pengungsian di Suriah.
Ia adalah bagian dari generasi yang dulu terseret dalam proyek besar “khilafah” ISIS di Irak dan Suriah. Perkenalan kami terjadi tanpa rencana, melalui jejaring yang saling terhubung dari satu anak ke anak lain, mereka yang pernah dan masih terpapar radikalisme di media sosial.
Dari Zona Panas, Cerita yang Nyata
Ada rasa lega sekaligus waspada dalam menjalin komunikasi dengannya. Dari percakapan itu, saya mendapatkan gambaran situasi yang relatif real-time dari wilayah yang selama ini kita kenal sebagai “zona panas”. Namun, yang lebih menarik bukan sekadar situasinya, melainkan fakta-fakta yang ia ungkapkan.
Menurut penuturannya, dari para perempuan dan anak-anak asal Indonesia yang masih berada di sana, justru lebih banyak yang memilih tetap tinggal di Suriah dibandingkan pulang ke Indonesia. Alasannya, sebagaimana bisa kita duga, berkaitan erat dengan keyakinan yang telah mereka pegang selama ini. Mereka enggan mengakui NKRI dan pemikiran-pemikiran filosofis yang melandasinya.
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Selama kurang lebih tujuh tahun hidup di kamp pengungsian al-Hawl, ia menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapi setiap hari, seperti keterbatasan tempat tinggal hingga razia alat komunikasi oleh prajurit PKK/YPG, milisi bersenjata Kurdi yang dulu mengelola wilayah tersebut.
Namun belakangan, menurutnya, kondisi mereka sedikit membaik. Otoritas baru di Suriah memindahkan sebagian penghuni ke lokasi di luar kamp. Tempat tinggal mereka kini berupa bangunan yang lebih kokoh dan bersih, tidak lagi sekadar tenda-tenda bantuan UNHCR seperti sebelumnya. Meski demikian, lebih layak tidak selalu berarti lebih mudah.
Keteguhan yang Perlu Dipahami
Yang patut menjadi perhatian adalah keteguhan sikap mereka. Bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, namun tetap bertahan pada keyakinan lama dan rela menanggung segala konsekuensinya.
Fenomena ini bukan sekadar cerita kemanusiaan biasa, tetapi juga menjadi catatan penting bagi para praktisi yang bergerak di bidang pencegahan radikalisme dan terorisme. Ada dimensi psikologis, ideologis, dan sosial yang terus hidup dan menguat, bahkan dalam kondisi yang serba terbatas. Dan ini perlu ditelaah lebih jauh dan serius, karena merupakan bahan bakar terbesar bagi bertahannya pemikiran radikal dalam kepala seseorang.
Lebaran di Antara Jarak dan Kenangan
Ia juga berbagi cerita tentang suasana Lebaran yang mereka jalani. Baik saat masih berada di kamp al-Hawl maupun di lokasi baru, tradisinya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia seperti saling mengunjungi dan bersilaturahmi ke kerabat dan tetangga sekitar tempat tinggal.
Namun, di tempat yang baru, ruang gerak menjadi lebih terbatas. Jarak antar tempat tinggal yang berjauhan membuat interaksi tidak seintens dulu. Berbeda dengan kondisi di dalam kamp, di mana tenda-tenda berdiri rapat dan berdekatan, sehingga kehidupan sosial terasa lebih hidup meski dalam keterbatasan.
Lebih dari Sekadar Cerita Lebaran Biasa
Dari percakapan itu, saya menyadari bahwa kisah-kisah Lebaran di sana menyimpan lapisan cerita yang jauh lebih kompleks. Lebih dari sekadar kegelisahan khas anak muda yang kerap kita jumpai di Indonesia seperti pertanyaan “kapan nikah” atau perhitungan berapa banyak THR yang berhasil dikumpulkan.
Ada realitas lain yang mereka hadapi, yaitu tentang ketidakpastian masa depan, tentang pilihan hidup yang tak mudah ditarik kembali, dan tentang dunia yang terasa semakin jauh dari rumah.
Makna yang Berbeda
Di tengah keterbatasan, Lebaran bagi mereka menjadi momen untuk meneguhkan identitas, menjaga harapan, sekaligus mempererat ikatan dengan sesama yang senasib. Bukan tentang kemeriahan atau materi, melainkan tentang bertahan, saling menguatkan, dan merawat keyakinan yang telah mereka pilih, apa pun konsekuensinya.
Di sanalah kita diingatkan, bahwa di balik perayaan yang bagi sebagian dari kita terasa sederhana dan penuh kebahagiaan, ada cerita-cerita lain yang jarang terdengar. Cerita tentang pilihan hidup, tentang keteguhan, dan tentang manusia yang terus berusaha menemukan makna, bahkan di tempat yang paling tidak terduga.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar