Kita sering mendengar kalimat “NKRI harga mati” diteriakkan dengan penuh emosi. Kadang dari mimbar resmi, kadang dari linimasa media sosial. Kalimat itu selalu terdengar final—seolah tidak menyisakan ruang untuk bertanya, apalagi meragukan. Tetapi justru di situlah kegelisahan saya bermula: mengapa sesuatu yang katanya kita cintai, tidak boleh dipikirkan ulang?
Kegelisahan itu menemukan artikulasinya ketika saya mendengar pernyataan Rocky Gerung di YouTube dalam orasinya di talkshow “Spirit of Humanity and Human Solidarity: Kemanusiaan dan Tata Peradaban Kota” di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (17/1/2026). Ia berkata: “Tanpa human solidarity, tanpa prinsip humanity, hilang yang namanya NKRI. NKRI dihasilkan dari dua prinsip itu.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam lapisan terdalam dari cara kita bernegara.
Sebagai warga negara, saya sangat memahami dorongan untuk mempertahankan NKRI. Negara ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari luka penjajahan, perdebatan panjang, dan kompromi yang tidak selalu mudah. Tetapi saya juga belajar, dari pengalaman hidup dan perjumpaan dengan banyak orang, bahwa cinta pada negara tidak selalu harus diekspresikan dengan suara keras.
Sering kali, yang lantang justru menutupi kekosongan. Kita sibuk membela simbol, tetapi lupa bertanya: apakah manusia di dalam simbol itu masih diperlakukan secara manusiawi?
Ketika nasionalisme kehilangan empati, ia berubah menjadi pagar. Ia menentukan siapa yang pantas disebut “Indonesia” dan siapa yang harus dicurigai. Di titik itu, NKRI tidak lagi menjadi rumah bersama, melainkan alat eksklusi.
Jika kita kembali ke dasar pembentukannya, NKRI bukan sekadar bangunan politik. Ia adalah kesepakatan etis. Para pendiri bangsa sadar bahwa Indonesia terlalu beragam untuk disatukan oleh keseragaman. Yang memungkinkan persatuan justru pengakuan atas perbedaan dan kesediaan untuk saling menjaga.
Human solidarity dan prinsip humanity—seperti yang disampaikan Rocky Gerung— adalah bagian dari fondasi. Tanpanya, NKRI hanya tinggal struktur administratif tanpa jiwa.
Saya percaya, negara ini bertahan bukan karena aparatnya semata, melainkan karena jutaan tindakan kecil warga biasa: saling menolong saat bencana, melindungi tetangga yang berbeda, dan memilih berdialog ketika konflik mengancam.
Pengalaman yang Mengubah Cara Pandang
Dalam perjalanan hidup saya, saya bertemu banyak orang yang tidak sempurna, bahkan pernah berada di sisi gelap sejarah. Tetapi justru dari merekalah saya belajar satu hal penting: manusia tidak bisa direduksi menjadi label.
Ketika negara—atau mereka yang mengatasnamakan negara—berhenti melihat manusia sebagai manusia, maka nasionalisme kehilangan legitimasi moralnya. Kita mungkin masih menyebutnya NKRI, tetapi yang tersisa hanyalah nama, bukan nilai.
Di sinilah saya merasa pernyataan Rocky Gerung itu penting, bukan sebagai provokasi, melainkan sebagai pengingat.
Saya semakin yakin bahwa NKRI yang sejati tidak selalu hadir dalam slogan. Ia hidup dalam keputusan-keputusan kecil yang sering luput dari sorotan: memilih tidak ikut menyebar kebencian, menahan diri untuk tidak menghakimi, dan berani mendengar cerita orang lain meski berbeda pandangan.
Itulah bentuk nasionalisme yang tidak berisik, tetapi berakar. Nasionalisme yang tidak sibuk membuktikan diri paling benar, melainkan berusaha tetap manusiawi.
Jika NKRI memang “harga mati”, maka yang pertama-tama harus kita jaga adalah "harga kemanusiaan". Tanpa itu, NKRI tidak runtuh oleh serangan dari luar, melainkan oleh kekosongan makna dari dalam.
Pernyataan Rocky Gerung itu mengingatkan saya bahwa membela NKRI bukan soal siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang paling konsisten merawat nilai-nilainya. Dan nilai itu, sejak awal, adalah kemanusiaan dan solidaritas.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti sejenak, menurunkan suara, dan bertanya dengan jujur: apakah cara kita membela NKRI hari ini masih setia pada alasan kelahirannya?
Jika jawabannya ragu-ragu, barangkali bukan NKRI yang perlu kita pertahankan mati-matian, melainkan cara kita memanusiakan sesama warga di dalamnya.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi
Komentar