Pendengaran Sosial dan Pencegahan Radikalisme

Analisa

by Munir Kartono Editor by Munir Kartono

“Saya tidak marah karena saya berbeda. Saya marah karena saya merasa tidak dianggap manusia.”
— Yusuf (Nama samaran), mantan narapidana terorisme

Hari ini, anak lelaki saya memasuki hari kedua masa MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) di sekolahnya. Kemarin dia meminta bantuan untuk membuat poster tentang bullying atau perundungan, dan ingatan saya pun tertuju pada seorang teman lama di Pusderad BNPT. 

Bukan Melulu Soal Ideologi

Dalam banyak diskusi tentang radikalisme dan terorisme, kita terlalu sering terjebak pada narasi besar tentang doktrin agama, jaringan global, dan isu politik internasional. Padahal, dalam banyak kasus, yang menjadi akar dari tindakan radikal bukanlah ideologi, melainkan luka batin — penolakan, penghinaan, pengucilan —  yang dikenal oleh banyak remaja dengan istilah “bullying.”

Kita melihat fenomena radikalisasi sebagai masalah keamanan nasional, tapi melupakan bahwa sebagian aktor ekstremisme lahir dari kubangan pengalaman pribadi yang getir. Ketika korban bullying merasa dunia tak lagi memberi tempat, mereka mencari makna di tempat lain. Ketika dunia nyata mengejek, dunia maya menawarkan pelukan — meski gelap dan penuh jebakan.

Mencari Pengakuan di Dunia Maya 

Penelitian menunjukkan bahwa korban bullying berisiko tinggi mengalami krisis identitas, depresi, bahkan keinginan membalas dendam. Dalam laporan National Academies of Sciences (2016), disebutkan bahwa korban bullying lebih mungkin mengalami gangguan psikologis jangka panjang dibanding pelaku. Dan dalam konteks dunia maya, luka itu bisa menjadi pintu masuk yang sangat efektif bagi jaringan radikal. 

Internet menjadi tempat pelarian, tempat mencari teman, tempat mencari harga diri. Dan di sinilah kelompok ekstremis menyusup. Mereka tidak langsung bicara tentang jihad atau bom. Mereka mulai dengan sapaan lembut, menawarkan solidaritas, menyebut “akhi” dan “ukhti” yang berarti saudara, memberi makna baru bagi rasa sakit lama.

Ketika Yusuf Menemukan Makna Dirinya

Yusuf adalah salah satu contoh nyata. Ia lahir dengan disabilitas fisik. Tapi yang paling menyakitkan bukan tubuhnya yang tak sempurna, melainkan cara dunia memperlakukannya. Sejak kecil, ia dihina, diejek, dikucilkan. Teman menolak saat ia ingin bermain, dan dunia tak pernah benar-benar memberinya ruang. Demikian juga saat remaja, penolakan itu terus berlanjut. Ia gagal mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan tubuhnya. Ia mencoba berjualan, tapi pembeli dagangannya yang mayoritas anak-anak sering kabur tanpa membayar — karena tahu Yusuf tidak bisa mengejar. Di kampung, ia seperti bayangan hidup — ada, tapi tak pernah dianggap.

Dalam kesepian itu, Yusuf mencari pelarian di internet. Di sana, ia menemukan komunitas yang bisa menerimanya. Mereka tidak menertawakan fisiknya, bahkan mereka mau mendengarkan ceritanya. Mereka berkata bahwa Yusuf adalah pejuang, seorang mujahid yang sedang diuji Allah dengan keistimewaan dirinya. Bagi Yusuf, ini adalah pelukan yang tak pernah ia dapatkan seumur hidupnya. Namun di balik itu, komunitas itu ternyata berafiliasi dengan jaringan radikal. Perlahan, Yusuf ditarik ke dalam ideologi ekstrem. Ia dilatih membuat bom. Ia dilibatkan dalam rencana aksi pengeboman di salahsatu fasilitas olah raga di Bandung pada 2017 silam. Untungnya, aksi itu gagal dan Yusuf pun ditangkap sebelum rencana dilaksanakan.

Dalam penjara, ia mengikuti program deradikalisasi. Di sanalah ia sadar, bahwa yang selama ini ia cari bukan kekuasaan, bukan pula jihad. Yang ia cari hanyalah tempat untuk didengarkan dan dianggap manusia.

“Kalau saja dulu ada satu orang saja yang mendengarkan saya... Mungkin saya tidak akan sampai di titik ini,” ucap Yusuf dalam obrolan melalui telepon.

Dari Khazanah Ilmu Komunikasi

Kisah Yusuf bukan anomali. Dalam berbagai literatur komunikasi, proses radikalisasi melalui luka sosial bisa dijelaskan melalui beberapa teori. 

Dalam jurnal ilmiah Public Opinion Quarterly, yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1973, Elihu Katz, Blumler, dan Gurevitch, menjelaskan teori Uses and Gratifications sebagai pendekatan yang menempatkan khalayak sebagai konsumen media. Khalayak merupakan pihak aktif dalam memilih dan menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam hal ini, Yusuf secara aktif mencari media untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Ia sebagai korban bullying yang kesepian, marah, dan kehilangan makna lalu mencari pelarian—dan internet menjadi ruang yang paling mudah diakses.

Sementara itu, dalam jurnal Journal of Communication, yang diterbitkan oleh University of Chicago Press pada 1984, Elisabeth Noelle-Neumann memperkenalkan teori Spiral of Silence yang menjelaskan bagaimana ketakutan akan isolasi sosial menyebabkan individu enggan menyuarakan pendapat yang bertentangan dengan opini mayoritas. Yusuf yang merasa berbeda atau tersingkir di dunia nyata lebih memilih diam, karena menyadari bahwa keterbatasan dan perbedaan mereka merupakan minoritas. Tapi saat Yusuf menemukan ruang maya, diamnya berubah menjadi ledakan — terutama saat menemukan kelompok yang memberikan ruang bersuara, meski dalam wujud perilaku kekerasan.

George Gerbner  Dalam jurnal Journal of Communication, yang terbit pada 1976 juga memperkenalkan teori Cultivation yang menyatakan bahwa paparan jangka panjang terhadap televisi (media) dapat membentuk persepsi individu terhadap realitas sosial, terutama dalam hal kekerasan dan stereotip. Di masa kini, di saat media tidak hanya berupa televisi dan radio, paparan terus-menerus juga bisa disajikan di ruang maya melalui internet yang menampilkan narasi kekerasan dan kebencian dapat membentuk persepsi bahwa dunia memang sedang memusuhi mereka, menghakimi mereka dan bahwa kekerasan adalah bentuk validasi dari tindak keberanian.

Mari Lebih Banyak Mendengar

Kita sering lupa bahwa radikalisme bukan hanya tentang keyakinan yang salah, tapi juga tentang siapa yang dulu tidak pernah didengarkan. Kita sering mengira bahwa terorisme hanya tumbuh dari akar ideologi yang kokoh, padahal banyak teroris lahir dari luka sosial yang tak diobati. Pencegahan pun pada akhirnya tidak bisa hanya dilakukan melalui pengawasan digital, razia ideologi, atau pemblokiran konten. Pencegahan harus dimulai dari lingkungan sosial yang sehat seperti sekolah yang ramah, kampung yang inklusif, dan keluarga yang hadir secara emosional.

Yang lebih penting, kita harus menciptakan sistem pendengaran sosial —  memastikan koneksi antarindividu, antar elemen masyarakat — agar tak ada lagi Yusuf-Yusuf  yang merasa dunia ini bukan tempatnya. Karena ketika dunia nyata menolak, maka dunia maya yang gelap akan suka cita menyambutnya.

Kisah Yususf bukan untuk membenarkan, tetapi untuk memperingatkan. Bahwa jika kita membiarkan bullying dan pengucilan terjadi, kita sedang menciptakan ladang subur bagi ekstremisme. Dan jika kita mengabaikan jeritan diam mereka yang terluka, maka jeritan itu akan mencari tempat lain untuk didengar—meski dalam bentuk ledakan.

“Saya bukan ingin dibebaskan. Saya hanya ingin orang lain tidak melalui jalan sesat yang saya tempuh.” — Yusuf

Mencegah radikalisme bukan hanya tugas negara. Itu adalah tanggung jawab kita semua—untuk menciptakan dunia yang tidak hanya pintar, tapi juga penuh kasih dan mampu mendengar. [ ]

Komentar

Tulis Komentar