Perang yang Bertahan Lewat Narasi

Analisa

by Ilham Alfarizi Editor by Arif Budi Setyawan

Only the Dead Have Seen the End of War. Mungkin pepatah itulah yang sejauh ini dapat menjawab pertanyaan akan ujung dari War on Terror atau Global War on Terror (GWOT), sebuah kampanye militer besar-besaran pimpinan Amerika Serikat untuk memerangi terorisme yang diinisiasi pasca serangan kelompok al-Qaeda ke gedung World Trade Center (WTC) di Manhattan, New York pada 11 September 2001. Pepatah ini terasa begitu dalam dan seakan menggambarkan bahwa beberapa hal memang bukan untuk dijawab dan diketahui oleh orang-orang yang masih ada di dunia ini.

Bagaimana tidak, peperangan dan permusuhan yang kini makin kompleks, melibatkan keyakinan serta menetapkan vonis yang berat bagi lawannya seakan menambah rumitnya atmosfer konflik yang ada. Di satu sisi ada kelompok yang memiliki keyakinan yang sangat kuat berdasarkan naskah-naskah keagamaan untuk melegitimasi aksi-aksinya. Di sisi lain, ada pula kelompok yang menjadi korban tanpa tahu apa kesalahannya.

Semakin tidak jelas siapa kawan siapa lawan, di mana front-front pertempurannya, serta siapa yang salah dan siapa yang benar. Nilai-nilai kebenaran juga semakin buram, entah harus melihatnya dengan menggunakan kacamata keagamaan atau kemanusiaan. Orang-orang yang lugu dapat seketika menjadi monster yang tak takut mati ketika dicekoki doktrin yang sesuai dan orang-orang yang hendak beribadah dapat seketika menjumpai Tuhan mereka secara paksa karena menjadi korban orang-orang lugu ini.

Di banyak tempat, pola ini berulang tanpa henti. Di Timur Tengah, seorang ayah kehilangan anak karena bom, lalu dibujuk seseorang untuk melihat kematian itu sebagai “panggilan balas dendam”. Di Indonesia, seorang remaja bisa mulai terseret bukan dari medan tempur, melainkan dari sebuah video pendek yang memuja mati syahid, atau dari obrolan daring yang seolah memberi jawaban atas kemarahan yang ia pendam. Meski konteksnya berbeda, narasi yang membungkus luka itu sering kali sama: menjanjikan kehormatan, kemuliaan, dan kepastian—sesuatu yang sulit didapat di dunia nyata.

Narasi-narasi perjuangan terasa sangat dekat di telinga tanpa tahu betul siapa dan apa yang diperjuangkan. Pada titik tertentu, perang bukan lagi soal menang atau kalah. Ia menjelma menjadi pusaran besar yang menelan siapa saja yang berada terlalu dekat, termasuk mereka yang tidak pernah berniat terlibat sejak awal. Ketika narasi perjuangan disebarkan tanpa konteks, tanpa kritik, dan tanpa ruang untuk bertanya, maka ia berubah menjadi alat untuk mengikat manusia dalam lingkaran kekerasan yang tidak pernah benar-benar mereka pahami. Konflik pun berlipat ganda, tidak hanya pada medan pertempuran fisik, tetapi juga di ruang-ruang batin, di media sosial, di rumah-rumah ibadah, bahkan di dalam percakapan sehari-hari.

Seorang pemuda yang pernah saya temui bercerita bagaimana ia dulu mulai “merasa tergerak” setelah melihat foto-foto anak Suriah yang menjadi korban perang. “Saya pikir waktu itu, saya harus melakukan sesuatu,” katanya. Namun “sesuatu” itu ternyata bukan bantuan kemanusiaan yang ia bayangkan. Ia justru diarahkan masuk ke ruang-ruang tertutup yang berisi kemarahan, dendam, dan janji-janji surgawi. Ia tidak tahu bahwa emosi yang tulus bisa dijadikan pintu masuk menuju kekerasan. Pengalaman seperti ini bukan satu-dua—di banyak kota, banyak pemuda lain merasakan tarikan yang sama ketika rasa marah mereka diberi arah yang salah.

Inilah ironi terbesar dari perang melawan teror: semakin keras ia diperangi, semakin pandai ia beradaptasi. Ideologi yang dibentuk oleh rasa sakit, luka sejarah, kemiskinan, ketidakadilan, dan identitas yang retak akan selalu menemukan medium baru untuk tumbuh. Ia dapat disebarkan melalui khotbah, video pendek, ruang obrolan tertutup, hingga algoritma yang secara tidak sengaja mempertemukan manusia dengan narasi yang menenangkan rasa marah mereka. Perang yang dimaksudkan untuk menghentikan kekerasan justru menyuburkan kondisi yang membuat kekerasan terus memiliki alasan untuk bertahan hidup.

Pada akhirnya, kita dipaksa melihat bahwa peperangan modern tidak lagi berdiri di atas garis yang tegas. Tidak ada lagi dua kubu yang jelas. Tidak ada lagi panduan moral tunggal yang bisa dijadikan patokan. Yang tersisa hanyalah manusia dengan ketakutannya, kesedihannya, kesalahannya, dan harapannya, yang mencoba mencari tempat berpijak di tengah dunia yang terus berubah.

Namun justru dalam kabut ketidakpastian itulah muncul pertanyaan yang lebih dalam: sampai kapan kita harus menerima bahwa perang adalah bagian abadi dari kehidupan manusia? Apakah tidak ada pilihan lain selain terus saling menekan, saling membalas, dan saling mencurigai?

Sebab jika perang adalah lingkaran, maka seseorang harus berani menjadi titik berhentinya. Tidak dengan senjata, tetapi dengan keberanian untuk melihat manusia sebagai manusia—bukan sebagai musuh, bukan sebagai angka korban, bukan sebagai ancaman. Melainkan sebagai sesama yang sama-sama ingin hidup dengan rasa aman. Mungkin perang tidak pernah benar-benar berakhir, tetapi setidaknya cita-cita untuk mengakhirinya tidak boleh ikut mati.



Ilustrasi: By AI (Canva)

Komentar

Tulis Komentar