Ada masa ketika percakapan mengalir begitu saja — di teras rumah, di perjalanan pulang, atau di sela makan malam sederhana. Kini, banyak dari momen itu perlahan tergantikan oleh notifikasi yang tak pernah benar-benar selesai. Kita tetap terhubung, tetapi tidak selalu benar-benar hadir. Mungkin bukan karena kita tak ingin mendengar, melainkan karena lupa bagaimana memulai obrolan yang tulus.
Membuka ruang obrolan secara langsung atau tatap muka menjadi sesuatu yang perlu diusahakan di zaman ini, mengingat hampir 24 jam kita banyak menghabiskan waktu di gawai atau dunia digital. Ruang obrolan, khususnya tatap muka, semakin sempit karena kita sudah terlalu terlena dengan layar masing-masing. Sebenarnya hal ini tidak sepenuhnya salah, mengingat tuntutan zaman dan juga “in this economy”. Mulai dari kerja, mencari nafkah, pendidikan, hiburan, hingga kebutuhan informasi dari hal yang paling remeh sampai serius, semuanya tersedia dalam genggaman kita.
Meskipun kita bisa mendapatkan banyak teman lewat kanal digital seperti platform gim dan media sosial, sebagai manusia kita juga perlu bersosialisasi secara langsung. Sudah banyak diskursus yang membahas hubungan anak dan orang tua yang perlahan merenggang karena tidak ada waktu untuk berkumpul di meja makan atau ruang keluarga untuk membicarakan hal remeh-temeh sampai serius. Bahkan, terkadang anak enggan berbicara dengan orang tuanya dan lebih memilih teman onlinenya.
Hal ini juga tidak sepenuhnya salah, namun orang tua perlu memastikan bahwa mereka mengetahui, memahami, dan tidak melepas anak begitu saja tanpa tahu apa yang dilakukan di dunia maya, khususnya bagi yang masih di bawah umur.
Saat berkumpul, terkadang kita merasa canggung dan bingung karena belum terbiasa mengobrol. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memulai suatu percakapan, salah satunya lewat board game atau kartu-kartu edukatif yang juga menghibur.
Saturday Gathering IofC Indonesia
Untuk itulah IofC Indonesia menghadirkan banyak varian kartu yang biasa disebut card game. Bermain card game menjadi salah satu kegiatan yang diadakan saat Saturday Gathering IofC Indonesia pekan lalu di Ciputat.
Sebelum lebih jauh, IofC Indonesia atau Initiatives of Change Indonesia berdiri pada tahun 2002. Organisasi ini berawal dari inisiatif delegasi pemuda Indonesia yang mengikuti Konferensi Pemuda Asia Pasifik X di Malaysia. IofC Indonesia merupakan bagian dari IofC internasional di Caux, Swiss, yang merupakan organisasi non-profit yang fokus menginspirasi, membekali, dan menghubungkan banyak orang agar siap menghadapi berbagai tantangan dunia. Semua berawal dari prinsip utama mereka, yaitu “Change starts with me” — perubahan berawal dari diri sendiri. IofC percaya bahwa setiap individu memiliki peran penting dan tanggung jawab untuk menciptakan perdamaian, membangun rasa saling percaya, serta menjadi pemimpin yang baik dan beretika.
Kegiatan pekan lalu menjadi ajang silaturahmi, temu kangen, sekaligus berkenalan dengan teman baru dari anggota atau teman-teman yang pernah terlibat dalam program-program IofC. Dalam kegiatan tersebut, kami bermain card game, berbagi cerita mengenai beberapa program IofC, ngobrol bersama, hingga makan bersama.
Card game yang dimainkan adalah Inner Listening Card. IofC sebenarnya memiliki banyak jenis card game yang bisa menjadi pemantik atau pembuka percakapan, seperti kartu Friends for Life, Pest Attack, dan Ngobrol Yuk.
Semuanya berisi berbagai pertanyaan dengan tema yang berbeda-beda. Namun, semuanya dapat menjadi ruang aman untuk berbagi cerita, menciptakan koneksi antarsesama, lebih mengenal diri sendiri dan orang lain, mengeksplorasi cara meningkatkan hubungan yang lebih harmonis dan inklusif, belajar terbuka dalam perbedaan, mendapatkan inspirasi dari refleksi teman, bahkan saat kehabisan bahan obrolan.
Dalam card game Inner Listening, setiap individu mendapatkan tiga kartu: Reflective Questions, Quotes, dan Action. Masing-masing dari kami membaca pertanyaan dari kartu refleksi, lalu diajak untuk berdialog dengan diri sendiri guna menemukan jawaban. Ini menjadi ajang untuk menyelami dan mengenali diri lebih dalam. Ternyata, kita memang jarang sekali berefleksi atau mengajak diri sendiri berdialog.
Setelah selesai berefleksi, tiap anggota membacakan pertanyaan dan jawabannya. Bagian ini menjadi yang paling seru! Kita bisa belajar banyak dari refleksi orang lain sekaligus memperkaya perspektif. Bahkan, kita ikut mempertanyakan hal yang sama kepada diri sendiri. Setelah itu, kartu Quotes dibacakan. Ketika semua anggota sudah membacakan refleksi dan kutipan, kami membuka kartu Action secara bersamaan untuk mengetahui langkah atau tindakan yang bisa dilakukan.
Jika ingin pertanyaan yang lebih santai, kita bisa menggunakan kartu Friends for Life. Untuk membangun bonding, saya sangat merekomendasikan card game tersebut.
Program di IofC
Setelah sesi permainan, kegiatan dilanjutkan dengan panel diskusi. Kali ini, IofC Indonesia mengenalkan empat program yang telah berjalan serta satu program yang akan datang. Pengenalan program diwakili oleh peserta yang pernah terlibat langsung di dalamnya.
Adapun program-program tersebut meliputi:
• Women Creator of Peace (CoP)
Menjadi ruang aman bagi perempuan untuk berbagi tentang diri mereka, menjadi diri sendiri, serta melihat lebih dalam relasi yang sedang diperjuangkan.
• Trust Building
Program yang berfokus pada upaya mengatasi perbedaan dan membangun kepercayaan lintas etnis dan agama, terutama di kalangan anak muda. Program ini mengintegrasikan prinsip-prinsip trust building dalam kerja Initiatives of Change Indonesia untuk dialog antaragama dan antarbudaya menuju penyembuhan dan rekonsiliasi.
• Sekolah Rekonsiliasi
Program pembelajaran bagi orang dewasa untuk menemukan jati diri yang sesungguhnya dalam suasana yang aman dan suportif. Melalui pendekatan berbasis komunitas, peserta didorong untuk bertumbuh bersama. Selain menjadi ruang belajar, program ini juga membentuk support group yang solid serta membantu peserta berdamai dengan orang-orang di sekitar mereka, baik di masa lalu maupun masa kini.
• Men Talk
Sebuah safe space bagi laki-laki untuk bercerita. Sering kali laki-laki tidak memiliki ruang untuk curhat, bahkan untuk menangis pun dianggap tabu karena tekanan budaya yang mengharuskan mereka selalu kuat. Melansir dari Pijar Psikologi, WHO menyebutkan bahwa prevalensi kematian akibat bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki, dengan risiko tiga kali lebih besar dibandingkan perempuan. Dalam program ini, ada sesi khusus laki-laki, namun ada pula sesi yang terbuka bagi perempuan melalui kelas daring.
• Teachers for Change
Program khusus bagi para pendidik untuk memperkuat nilai integritas serta pengembangan kapasitas menjadi change makers dalam literasi keberagaman dan pembangunan perdamaian bagi peserta didik.
Ternyata, untuk bisa ngobrol dan saling mendengarkan bukanlah hal yang mudah. Namun, dengan kemauan untuk berubah, selalu ada jalan. Metode dan teknik yang dilakukan oleh teman-teman IofC sangat mungkin diimplementasikan oleh orang tua, keluarga, saudara, teman, maupun guru di sekolah. Terkadang, anak-anak — bahkan kita sebagai orang dewasa — hanya membutuhkan seseorang yang mau bertanya, mendengarkan, dan menjadi ruang aman untuk berbagi cerita.
Harapannya, kita bisa menjadi orang tua, keluarga, atau sosok yang membuat mereka merasa nyaman untuk berbagi dan berkeluh kesah.
Sudahkah kita berefleksi atau berdialog dengan diri sendiri hari ini?
Sebagai penutup, saya ingin membagikan kartu refleksi yang saya dapatkan:
Reflective Question:
Bagaimana saya menyadari motif-motif saya dalam berelasi atau bertindak secara tulus tanpa maksud tersembunyi?
Quote:
“Semua orang ingin melihat orang lain berubah. Setiap bangsa ingin melihat bangsa lain berubah. Namun, semua orang menunggu orang lain untuk memulai.” — Frank Buchman
Action:
One day at a time (Selesaikan satu per satu).
Mungkin perubahan besar memang tidak selalu lahir dari forum besar atau keputusan yang megah. Kadang ia bermula dari pertanyaan sederhana, dari keberanian membuka kartu pertama, atau dari kesediaan mendengarkan tanpa terburu-buru menjawab. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat, barangkali yang kita perlukan hanyalah ruang kecil untuk berhenti sejenak — lalu kembali belajar hadir, satu percakapan pada satu waktu.
Foto: Dokumentasi IoFC
Komentar