Tragedi Bondi Beach dan Kontestasi Identitas yang Gagal Dikelola

Analisa

by Munir Kartono Editor by Redaksi

Entah semesta mengaturnya bagaimana, namun saat tema perkuliahan membahas tentang The Social Identity Theory of Intergroup Behavior karya Henri Tajfel dan John C. Turner, peristiwa berdarah itu pun terjadi. Minggu sore, 14 Desember 2025, Bondi Beach di Sydney menjadi saksi dari kontestasi identitas yang berujung tragis. Ratusan warga Yahudi yang sedang bergembira berkumpul merayakan Hanukkah, festival cahaya yang melambangkan kebebasan beragama, harus berakhir dengan mengenaskan ketika dua orang Muslim bersenjata, Sajid dan Naveed Akram, membuka tembakan. Dalam hitungan menit, 16 orang tewas, dari anak berusia 10 tahun hingga penyintas Holocaust berusia 87 tahun (Reuters, 2025).

Di tengah kekacauan itu, muncul narasi yang mengguncang. Ahmed al Ahmed, 43 tahun, seorang Muslim pengungsi dari Suriah, berlari menuju tembakan. Dengan tangan kosong, ia melucuti senjata pelaku. Ahmed tertembak empat hingga lima kali, namun bertahan dan menyelamatkan puluhan nyawa (ABC News, 2025). Pelaku dan penyelamat, keduanya adalah Muslim. Namun mereka mewakili dua konstruksi identitas yang bertarung: identitas kolektif radikal versus identitas sosial inklusif. Tragedi Bondi bukan sekadar serangan teroris, tetapi manifestasi dari kontestasi identitas dalam komunitas Muslim tentang siapa yang berhak mendefinisikan “Muslim sejati” dan nilai-nilai apa yang mewakili Islam.

Korban: Simbolisme Hanukkah yang Ditargetkan

Korban bukanlah individu acak; mereka adalah komunitas Yahudi yang merayakan Hanukkah, festival yang memperingati kemenangan atas penindasan pada abad ke-2 SM (Goldstein, 1976). Di tengah eskalasi antisemitisme di Australia—1.713 insiden pada 2024, lima kali lipat rata-rata historis (ECAJ, 2024)—perayaan publik ini adalah sebuah pernyataan: “Kami ada, kami tidak bersembunyi.”

Bagi pelaku dengan identitas kolektif radikal, simbolisme ini adalah provokasi. Mereka melihat bukan “orang yang merayakan”, tetapi “musuh yang harus dimusnahkan”. Alex Kleytman, 87 tahun, penyintas Holocaust, meninggal saat melindungi istrinya dari peluru (BBC News, 2025). Korban direduksi menjadi kategori abstrak “Yahudi” yang kehilangan kemanusiaannya. Inilah dehumanisasi yang memungkinkan kekerasan tanpa empati (Haslam, 2006).

Pelaku: Identitas Kolektif Radikal

Naveed Akram, 24 tahun, telah diselidiki sejak 2019 (saat berusia 19 tahun) terkait keterhubungannya dengan ISIS (The Australian, 2025). Sejak remaja, ia menginternalisasi identitas kolektif radikal, yakni konstruksi di mana keanggotaan kelompok menjadi satu-satunya sumber makna dan tujuan (Kruglanski et al., 2014).

Narasi ini memiliki empat komponen. Pertama, konstruksi “Muslim sejati” versus “Muslim palsu”; hanya mereka yang bersedia berperang dianggap autentik (Wiktorowicz, 2005). Kedua, Yahudi dikonstruksi sebagai musuh eksistensial, bukan individu dengan kompleksitas kemanusiaan (Stern & Berger, 2015). Ketiga, kekerasan memberikan sense of significance, dari bukan siapa-siapa menjadi “prajurit Allah” (Kruglanski et al., 2014). Keempat, dehumanisasi total memungkinkan pembunuhan tanpa empati.

Yang krusial, identitas radikal ini bukan representasi Islam. Ini adalah konstruksi ideologis yang ditolak mayoritas Muslim (Pew Research Center, 2013). Namun, ia menarik bagi individu dengan krisis identitas karena menawarkan narasi yang sederhana dan kuat.

Penyelamat: Identitas Sosial Inklusif

Ahmed al Ahmed adalah antitesis pelaku. Sebagai pengungsi Suriah sejak 2006, ia menyaksikan ke mana identitas yang kaku berujung: kehancuran negara asalnya (The Age, 2025). Dalam 19 tahun hidup di Australia, Ahmed membangun identitas yang kompleks dan multipel sebagai seorang Muslim, pengungsi, warga Australia, penjual buah, ayah, sekaligus tetangga (Roccas & Brewer, 2002).

Ketika melihat pembantaian, Ahmed berkata, “Saya tidak tahan melihat lebih banyak pembunuhan” (ABC News, 2025). Sepupunya menambahkan, “Dia Muslim, tapi dia tidak percaya pada pembunuhan” (The Guardian, 2025). Ahmed mendefinisikan ulang “Muslim sejati” bukan melalui kekerasan, melainkan melalui penolakan terhadap kekerasan. Bukan kebencian terhadap Yahudi, tetapi penyelamatan nyawa manusia. Ayahnya menjelaskan, “Dia tidak memikirkan latar belakang orang yang diselamatkan. Dia tidak membeda-bedakan” (The Age, 2025).

Ahmed mengaktifkan identitas superordinat: manusia yang melihat manusia lain menderita, melampaui kategorisasi “Muslim versus Yahudi” (Tajfel & Turner, 1979).

Perbedaan Ahmed dengan pelaku bukan pada agama—karena keduanya Muslim—melainkan pada konstruksi identitas. Pelaku memiliki identitas radikal yang eksklusif dan dibangun di atas kebencian, sedangkan Ahmed memiliki identitas inklusif yang multipel dan berakar pada kemanusiaan.

Kontestasi yang Gagal Dikelola

Dalam komunitas Muslim, terdapat kontestasi intens mengenai narasi identitas (Reicher et al., 2008). Narasi radikal (ekstremis) menggambarkan Muslim sejati sebagai mereka yang bersedia berperang melawan “musuh Islam” dan menganggap kekerasan sebagai jihad mulia. Mereka juga memandang penolak kekerasan sebagai pengkhianat.

Di sisi lain, terdapat narasi moderat (pluralis) yang menegaskan bahwa Muslim sejati mempraktikkan nilai-nilai Islam seperti keadilan dan kasih sayang, menganjurkan hidup berdampingan dengan non-Muslim, serta menolak kekerasan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Selain itu, terdapat pula narasi progresif (reformis) yang memandang Muslim sejati sebagai mereka yang mengadaptasi Islam dengan konteks modern, menekankan nilai-nilai universal, dan menjadikan Islam sebagai inspirasi spiritual, bukan kode hukum yang kaku.

Kegagalan mengelola kontestasi ini adalah akar tragedi Bondi. Ketika narasi ekstremis tidak mendapatkan tantangan yang memadai, ketika dialog sehat tentang “menjadi Muslim di Australia” tidak terjadi, narasi radikal dapat dengan mudah merekrut individu yang sedang mencari makna. Naveed terpapar narasi ISIS pada usia 19 tahun—di mana suara alternatif yang dapat mengimbanginya?

Sebaliknya, Ahmed adalah produk dari pengelolaan identitas yang berhasil. Sebagai pengungsi yang terintegrasi, ia memiliki akses ke berbagai komunitas. Identitasnya kaya dan kompleks, tidak bergantung pada satu narasi eksklusif. Ketika Gaza menciptakan tekanan emosional, Ahmed tidak terjebak dalam dikotomi “Muslim versus Yahudi” karena memiliki kerangka berpikir yang lebih luas.

Pengelolaan Identitas: Intervensi Praktis

Solusi atas persoalan ini bukan semata pengetatan keamanan, tetapi juga pengelolaan identitas.

Level komunitas: Komunitas Muslim perlu aktif membangun narasi alternatif yang berimbang dan kuat. Ahmed harus dijadikan role model bahwa “inilah Muslim sejati: mereka yang menyelamatkan nyawa orang lain atas dasar kemanusiaan” (Braddock & Horgan, 2016). Dialog yang jujur dan terbuka tentang Gaza, antisemitisme, dan kekerasan perlu digalakkan, termasuk bagaimana bersikap pro-Palestina tanpa menjadi anti-Yahudi.

Level masyarakat: Perlu promosi common ingroup identity (identitas bersama), seperti Bhinneka Tunggal Ika atau identitas sebagai warga Australia yang inklusif (Gaertner & Dovidio, 2000). Bukan asimilasi yang menyiratkan “meninggalkan Islam”, melainkan integrasi identitas sebagai Muslim yang bangga sekaligus warga negara yang loyal. Program konkret dapat berupa dialog antar-kelompok Muslim–Yahudi, pendidikan kewargaan tentang kompleksitas identitas, serta kampanye media yang menyoroti solidaritas lintas kelompok.

Level individu: Literasi identitas perlu dikembangkan melalui kemampuan mengelola identitas diri (Sen, 2006): kesadaran diri atas identitas yang multipel, kemampuan berpikir kritis terhadap narasi ekstremis, pengambilan perspektif seperti yang dilakukan Ahmed, serta pemahaman bahwa identitas yang diaktifkan selalu merupakan sebuah pilihan.

Level institusi: Program deradikalisasi perlu berfokus pada rekonstruksi identitas dengan membangun identitas alternatif yang kompleks dan inklusif (Koehler, 2017). Program kontra-narasi juga penting dengan memproduksi kisah-kisah seperti Ahmed sebagai intervensi ideologis.

Kesimpulan: Identitas sebagai Pilihan

Tragedi Bondi Beach pada 14 Desember 2025 merupakan manifestasi kontestasi identitas yang gagal dikelola. Pelaku mewakili identitas kolektif radikal yang eksklusif dan penuh kekerasan, Ahmed mewakili identitas sosial yang inklusif, empatik, dan humanis, sementara korban ditargetkan karena identitas mereka sebagai Yahudi yang merayakan Hanukkah.

Kontestasi ini belum berakhir. Respons global menunjukkan hadirnya narasi tandingan yang kuat, tetapi narasi tersebut membutuhkan dukungan aktif, amplifikasi, dan institusionalisasi. Tidak cukup hanya menyatakan penolakan terhadap ekstremisme dan kekerasan; kita juga harus membangun narasi alternatif yang seimbang dan menyatukan.

Tragedi Bondi memberi pelajaran bahwa kontestasi identitas yang gagal dikelola—ketika narasi ekstremis tidak ditantang dan dialog tidak terjadi—akan berujung pada kekerasan. Namun, ketika dikelola dengan baik melalui teladan, identitas bersama yang inklusif, dan intervensi yang membangun identitas kompleks, kemanusiaan dapat menang. Ahmed, di bawah ancaman peluru, menunjukkan bahwa pilihan kemanusiaan tetap mungkin dalam situasi paling ekstrem. Tugas kita adalah memastikan bahwa pilihan seperti yang diambil Ahmed menjadi lebih mudah, lebih terlihat, dan lebih didukung.

Tragedi Bondi bukanlah Islam versus Yahudi. Ini adalah pertarungan antara identitas yang membunuh dan identitas yang memberi kehidupan. Dan pilihan itu ada di tangan kita semua.

Foto: Para pelayat memberikan penghormatan terakhir dengan meletakkan karangan bunga bagi korban penembakan Pantai Bondi, Australia, Senin (15/12).[Saeed Khan/AFP]

Komentar

Tulis Komentar