Perempuan, Doxing, dan Luka yang Tak Terlihat dalam Reintegrasi Sosial

Analisa

by nurdhania Editor by Arif Budi Setyawan

Waktu sudah menunjukan pukul 22.15. Namun Kinan belum mematikan laptopnya. Sebagai pekerja di salah satu usaha kecil milik seorang pengusaha yang baru merintis bisnisnya, ia dipercaya menjadi admin media sosial. Pekerjaan 9-5 ini dia kerjakan hanya dari rumah, namun sesekali dia akan ke kantor jika diperlukan.

Rutinitas hariannya sebagai pekerja WFH (Work from Home) selalu diakhiri sampai maghrib. Biasanya dia akan langsung mematikan laptop dan mengerjakan hobinya. Namun kala itu, dia ada urusan lain sehingga sampai hampir tengah malam masih berkutat dengan laptop.

Sebelum kembali melanjutkan urusannya, ia memutuskan untuk rehat sebentar dengan mengakses gawai. Ntah membaca cuitan-cuitan di sosial media, doom scrolling, dll.

Akun sosial media tempat usahanya bekerja tentu saja terdaftar di laptopnya. Sehingga notifikasi apapun akan muncul di ujung bawah kanan layar laptop.

Orang-orang di rumahnya sudah tidur. Malam itu sangat hening. Hanya Kinan, gawai, laptop, dan lampu ruang tamu yang masih menyala. Sebuah notifikasi muncul memecah keheningan di malam itu yang akan menjadi sebuah trauma baru baginya setelah melalui tahun-tahun penuh perjuangan dalam menjalani kesempatan kedua.

Untuk diketahui, Kinan adalah salah satu returnis yang pernah terpedaya oleh propaganda palsu ISIS. Sepulang dari Suriah, dia dan keluarganya telah menjalani rehabilitasi dan proses reintegrasi yang begitu panjang dan berliku.

Notifikasi yang mengubah segalanya

Awalnya Kinan cuek dengan bunyi notifikasi dari laptopnya. Ia masih saja sibuk dengan gawai di tangannya. Namun, suara notifikasi kembali berbunyi. “Mungkin hanya customer yang menyukai sebuah postingan dari konten kami”, katanya dalam hati. Notifikasi tersebut tak kunjung berhenti dan akhirnya berhasil mengalihkan perhatian Kinan dari layar gawainya, ke layar laptop. Kinan masih menyangkal, karena menurutnya itu hanyalah customer baru yang sedang stalking akun toko tersebut. Karena ia sudah pernah mengalami sebelumnya. Ada seorangcustomer yang tertarik dan suka dengan produk serta postingan dari akun mereka, dan memberikan banyak tombol suka.

Kinan membaca sekilas notifikasi yang muncul. Tapi matanya langsung terbelalak karena kaget melihat nama dari sebuah kelompok terror?? Dan juga nama lengkapnya ada di notifikasi tersebut. Artinya, ini bukan sekadar like. Tapi ada yang meninggalkan komentar di akun tersebut. Tanpa ragu, Kinan langsung meng-klik notifkasi tersebut. Sembari menunggu loading, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Mengapa ada namanya di notifikasi tersebut? ADA APA INI??!”

Laman “notification” dari salah satu platform media sosial terkenal di Indonesia akhirnya terbuka. Kinan shock, kaget, bingung, dan tidak bisa berkata-kata. Komentar yang tadi ia baca sekilas kini memenuhi laman “notifikasi”. Komentar tersebut tidak hanya di satu postingan, namun di banyak postingan, baik itu berupa photo, carousel, dan video reels. Bisa dikatakan jumlahnya ratusan, karena komentar tersebut dapat ditemui di hampir  semua postingan yang di-upload oleh akun jualannya.

Bukan Sekadar Komentar Spam

Berbekal ilmu yang ia dapati dari pelbagai macam pelatihan digital literasi, ia dapat dengan sigap dan cepat menyimpulkan bahwa komentar-komentar tersebut adalah BOT FARM atau ternak Bot. Karena terlihat dengan jelas komentar tersebut masuk kategori spam. Dilansir dari web Light Node, Bot farm adalah jaringan program otomatis, yang dikenal sebagai bot, yang dirancang untuk melakukan tugas tertentu secara bersamaan dan dalam skala besar. Sistem ini dapat beroperasi di berbagai perangkat dan platform, memungkinkan otomatisasi skala besar yang akan memakan waktu dan tidak efisien jika dilakukan secara manual oleh manusia. 

Itu belum semua. Isi dari komentar tersebut bukan hanya nama lengkap dan kelompok tempat ia pernah terlibat. Tapi, bersamaan dengan nomor identitas, nama orangtuanya, dan kata-kata kasar yang merendahkan martabat perempuan.

Bahkan, setelah ditelusuri nama akun dari bot tersebut terlihat sangat direncanakan. Menggunakan sebuah kata yang diambil dari bahasa negara lain, namun memiliki makna persis seperti apa yang pernah dialami Kinan dan keluarganya. Ya, Kinan terkena serangan doxing.

Kinan dan keluarganya sudah fokus untuk menata kembali kehidupannya yang pernah hancur tak meninggalkan sisa karena kebodohan dan keegoisannya untuk pergi berhijrah sampai ke Suriah bersama keluarganya. Namun kini tantangan baru muncul kembali di tengah keheningan ia saat sedang sibuk dengan keluarganya. Karena, sudah lama Kinan tidak aktif atau rehat dalam advokasi PCVE dimana dia pernah lumayan lama berkecimpung di dalamnya.

Kepanikan yang ia alami tidak berlangsung lama. Kinan segera bertindak mengamankan bukti. Ia menyimpan segala bentuk komentar, nama akun, data-data dari akun pengirim dengan melakukan tangkapan layar atau screenshot. Media sosial sudah seperti kawannya, nampaknya ia sudah kenal seluk-beluk dari platform ini. Ia langsung menghapus komentar-komentar tersebut, memblokir akun, dan untuk sementara menutup kolom komentar sehingga tidak ada siapapun yang bisa memberikan komentar.

Segala gambar tangkapan layar sudah ia amankan, dan ia langsung segera mengontak owner serta atasan di tempat ia bekerja, dengan harapan mereka masih terjaga. Alhamdulillah mereka masih bangun dan berkenan merespon. Tentu saja mereka tidak kalah kaget. Karena komentar tersebut dapat berdampak pada usaha atau bisnis mereka. Mereka juga membenarkan tindakan yang sudah dilakukan oleh Kinan sebelumnya.

Beruntung Kinan bekerja di tempat itu, tempat yang mau menerima dia apa adanya, tak melihat masa lalunya sebagai problem, asalkan dapat bekerja sesuai jobdesk yang sudah diberikan. Alhamdulillah, owner dan atasannya bahkan berkenan membantu untuk membuat laporan ke kepolisian siber yang akan didatangi keesokan harinya—meskipun hingga hari ini tidak ada tindaklanjut dari pihak kepolisian. Mungkin laporan itu dianggap kasus spam biasa sehingga tidak penting untuk ditindaklanjuti. Padahal, jika ditindaklanjuti, itu akan menjadi bagian dari dukungan bagi proses reintegrasi Kinan dan keluarganya.

Bagi Kinan, ternyata tantangan dalam proses reintegrasi sosial tidak berhenti di penerimaan warga dan bisa kembali bekerja atau bersosialisai. Rasa takut itu tentu muncul kembali. Meskipun lingkungan kerjanya, keluarga, dan beberapa temannya mendukung, ia tetap khawatir, cemas, dan takut. Beruntung, malam itu Kinan bertindak cepat dan berharap belum sempat dilihat oleh customer. Bisa bermasalah jika ada banyak customer yang melihatnya.

Rasa bersalah kini muncul kembali di benaknya. Karena, komentar tersebut bisa saja datang atau muncul kembali. Kinan takut keluarganya akan terdampak, semua orang yang bekerja atau terlibat di usaha itu juga bisa terdampak. Peristiwa ini membuat kepercayaan diri yang sudah ia bangun cukup lama, runtuh kembali. Secara tak sadar, ia menarik diri lagi dari lingkungan dan sosial. Dia takut membahayakan keluarga, rekan kerja, dan orang-orang terdekatnya.

Rasanya seperti memang tidak ada kesempatan kedua itu bagi dirinya. Kinan terus saja menyalahkan dirinya sendiri. Menurutnya, yang paling menyakitkan bukan tuduhannya, tapi perasaan bahwa ia tidak pernah benar-benar diberi kesempatan kedua.

Rasa kesedihan dan bersalah yang sudah menumpuk makin diperparah setelah ia tahu, bahwa pihak yang diharapkan bisa membantu proses penulusuran atau mengusut kasus ini tidak memberikan jawaban apa-apa. Laporan yang dilayangkan olehnya dan kantornya terasa “puffts…” hilang tertiup angin seperti tidak pernah terjadi.

***

Tulisan ini berdasarkan kisah nyata. Demi keamanan dan kenyamanan narasumber, ditulis dengan gaya penyampaian orang ketiga dan menggunakan nama samaran. Selain itu, ada satu isu lagi yang bisa dikulik dari kisah ini, yaitu adanya Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang menimpa Kinan.

 

Ilustrasi: Grafis by Nurdhania

Komentar

Tulis Komentar