Menyorot Fenomena Akhlak Eks Napiter Terhadap Negara

By

Ada tiga golongan eks napiter. Apa saja?

Persoalan terorisme sejatinya berawal dari adanya masalah dalam hubungan antara negara dengan agama. Ketika negara dianggap menjadi penghalang bagi praktik beragama yang ideal oleh sebagian pemeluknya. Di situlah mulai tumbuh bibit masalahnya. Di Indonesia Islam menjadi mayoritas, sehingga yang bermasalah pun mayoritas berasal dari pemeluk Islam.

Tidak salah bila seorang muslim meyakini bahwa jika umat Islam melaksanakan syariat Islam secara murni dan konsekuen, maka itu akan menjadi solusi bagi semua persoalan yang ada. Meyakini Islam adalah solusi terbaik itu merupakan sebuah kelaziman. Meyakini bahwa Islam akan lebih sempurna bila diterapkan dengan cara bernegara juga tidak salah. Karena dalam keyakinan aqidah mayoritas umat Islam, salah satunya meyakini bahwa di akhir zaman nanti Islam akan kembali mengusai dunia di bawah kepemimpinan Imam Mahdi yang tentu saja lebih dari sekedar sebuah negara.

Masalahnya adalah bagaimana mempersiapkan diri menyongsong kemenangan Islam itu. Banyak model gerakan Islam yang menawarkan konsep perjuangannya masing-masing yang seringkali justru saling bertabrakan di tengah jalan.

Tetapi, bukankah sejatinya setiap muslim bisa berjuang dengan menunjukkan kepada dunia bahwa dia bisa menjadi solusi bagi lingkungannya tanpa harus bernegara? Menegakkan akhlak mulia terhadap sesama dan alam sekitar adalah cara terbaik menunjukkan kebaikan Islam.

Termasuk akhlak terhadap sesama adalah akhlak terhadap negara tempat seorang muslim itu tinggal. Mau sebejat apa pun sebuah negara, jika ada muslim yang tinggal di situ, maka ada akhlak yang tetap harus ditegakkan.

Salah satu akhlak utama seorang muslim adalah jujur dan amanah (dapat dipercaya). Akhlak ini tidak hanya bisa menyelamatkan si muslim, tapi juga lingkungan di sekitarnya. Semakin besar lingkungan yang bisa dipengaruhi oleh seorang muslim dengan akhlaknya, maka semakin bagus pula kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hal ini bisa dilakukan setiap muslim tanpa harus menunggu sampai memiliki negara berdasarkan syariat Islam.

Bicara soal akhlak jujur dan amanah ini, ada beberapa curhatan dari beberapa kawan eks napiter kepada saya dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini. Mereka menceritakan tentang fenomena kurang mengenakkan yang masih marak terjadi. Yaitu soal menurunnya kualitas kejujuran dan amanah para eks napiter ketika berurusan dengan negara. Saya coba merangkumnya dalam uraian berikut ini.

Pembinaan eks napiter merupakan salah satu bagian penting dari penanganan terorisme selain pencegahan dan penindakan. Memastikan mereka tidak akan mengulangi kesalahannya atau menyebarkan pemahamannya yang salah di masa depan, menjadi pekerjaan yang membutuhkan usaha yang gigih dan waktu yang tidak sebentar.

Para eks napiter sangat paham mereka menjadi obyek pekerjaan negara yang memerlukan perhatian khusus. Maka kemudian mereka ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu golongan yang “keukeuh” dengan pemikiran lamanya, yang mau berubah namun dalam hubungannya dengan negara masih transaksional, dan yang sungguh-sungguh ingin memperbaiki diri dalam banyak hal.

Golongan pertama memilih untuk tetap teguh memegang pemikiran lamanya karena masih menganggap negara sebagai musuh. Sehingga ketika mereka berubah, itu merupakan bentuk kekalahan bagi mereka dan kemenangan bagi musuh.

Sedangkan pada golongan kedua, mereka mau berubah tetapi masih menganggap negara sebagai pihak yang layak dimintai kompensasi atas perlakuan negara kepada mereka di masa lalu.

Pada golongan kedua inilah yang banyak terjadi fenomena penurunan kualitas akhlak jujur dan amanah. Golongan ini memanfaatkan posisi tawar bahwa jika mereka dikecewakan mereka bisa saja kembali ke kelompok lamanya atau berbalik kembali membenci pemerintah.

Di antara mereka ini ada yang punya pemikiran kalau tidak memanfaatkan uang negara yang dianggarkan untuk urusan pembinaan eks napiter, maka uang itu justru akan digunakan di tempat lain yang berpotensi dikorupsi. Sehingga ketika ditawarkan dana bantuan untuk usaha guna menunjang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan, mereka ini bersegera membuat berbagai proposal usulan usaha.

Persoalannya, seringkali mereka ini mengajukan proposal usaha yang tidak sesuai dengan keahliannya. Hanya berdasarkan asumsi tingginya penghasilan dari usaha tersebut. Atau yang paling parah bahkan ada juga sebagian yang berpikiran yang penting dananya cair, urusan usahanya nanti jalan atau tidak itu urusa nanti.

Hal ini diperparah dengan tidak adanya pengawasan dan bimbingan dari pihak lain. Dikasih modal selesai. Maka di kemudian hari banyak yang gagal di tengah jalan dan tak jarang mengajukan proposal bantuan untuk yang kedua kalinya dan seterusnya. Mengajukan proposal untuk bidang yang bukan keahliannya ini bukankah termasuk penurunan akhlak jujur dan amanah?

Atau pada kasus yang lain, diberikan sebuah proyek usaha bersama yang dikerjakan bareng dengan para eks napiter lainnya. Tetapi di tengah jalan mereka lebih mendahulukan ego masing-masing daripada jalannya proyek. Ada masalah sedikit menjadi sebab terhentinya kerja bareng. Padahal usaha itu jika gagal atau terhenti ada banyak pihak yang dirugikan. Ini juga bagian penurunan akhlak amanah.

BACA JUGA: Tantangan Merawat Eks Narapidana Terorisme

Kemudian pada eks napiter golongan yang ketiga, mereka cenderung rendah hati dan menjaga hubungan baik dengan negara sebagai bagian dari pembuktian bahwa mereka telah berubah. Meskipun dikecewakan berkali-kali oleh negara, mereka akan tetap pada upaya baik itu.

Misalnya saja mereka ini karena merasa tidak punya keahlian, lalu mengajukan permohonan agar diberikan pelatihan ketrampilan, namun pelaksanaannya seringkali harus menunggu lama baru terlaksana.

Kekecewaan seperti ini tidak melunturkan semangat mereka untuk terus memperbaiki diri dan membuktikan bahwa mereka telah berubah. Karena bagi golongan ini, berubah menjadi baik itu merupakan panggilan dari lubuk hatinya. Golongan ketiga ini masih sedikit. Maka hargai dan bantulah mereka ini jika menemukannya di sekitar Anda. (*)

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like