Kenangan Bersama Ustaz Azhari Dipokusomo yang Kembali Ditangkap Densus 88

By

Di antara ustaz-ustaz dari Jamaah Islamiyah (JI) yang saya kenal, ada satu orang yang paling berperan dalam hidup saya. Beliau adalah ustaz Azhari Dipokusomo, pengasuh Pesantren Al Ikhlas Sedayulawas Brondong Lamongan.

Beliaulah orang yang menjadi perantara saya bertemu dengan istri saya di tahun 2005 pada saat beliau masih berada di dalam penjara.

Pada saat itu saya sering membesuk beliau di lembaga pemasyarakatan (lapas). Beliau saat itu sedang menjalani pidana vonis 6 tahun penjara karena terlibat membantu pelarian Pak Ale (Ali Imron, terpidana kasus Bom Bali 1).

Kedekatan yang tercipta dari intensitas kunjungan itu membuat saya memberanikan diri meminta saran terkait keinginan saya mengakhiri masa lajang. Di mana kemudian beliau mencarikan informasi dan memerintahkan salah satu muridnya untuk membantu saya dalam proses itu.

Selain soal peran dalam pernikahan saya, ada satu lagi yang paling berkesan dari hubungan saya dengan Ustaz Dipo (begitu beliau biasa dipanggil) di masa lalu. Yaitu ketika beliau mengajak saya berkeliling di Jakarta-Bekasi-Tangerang pada pertengahan tahun 2007 untuk menggalang dana bagi Pesantren Al Ikhlas. Saat itu beliau baru saja bebas bersyarat di awal 2007.

Selama kegiatan itu kami tinggal di rumah saudara-saudara Ustaz Dipo, berpindah dari satu saudara ke saudara lainnya. Begitu dekatnya hubungan saya dengan beliau saat itu, sampai saya bisa mengenal hampir semua saudara-saudara beliau.

Kisah-kisah itu tetap menjadi kenangan indah yang tak kan terlupakan meskipun di kemudian hari saya memilih jalan perjuangan yang berbeda dengan beliau. Dan kenangan itu tiba-tiba kembali mengusik pikiran saya tatkala saya mendapat kabar bahwa beliau ditangkap lagi oleh Densus 88 pada hari Minggu malam (15/08/2021).

Berita itu sendiri baru terkonfirmasi keesokan harinya setelah mendapatkan konfirmasi dari rekan-rekan di Polda Jatim. Beliau ditangkap bersamaan dengan seorang dokter yang dulu juga pernah ditangkap dalam kasus terorisme terkait JI.

Meskipun sejak dulu saya tahu beliau masih setia dengan Jamaah Islamiyah, tapi jujur saya tidak menyangka bahwa apa yang beliau lakukan ada yang bersentuhan dengan delik hukum dalam UU Terorisme yang terbaru. Setahu saya beliau selama ini hanya fokus di bidang dakwah dan pendidikan.

Pertemuan terakhir saya dengan beliau terjadi pada pertengahan Desember 2020 yang lalu. Saat itu kami sama-sama sedang takziyah ke rumah salah satu uztaz di Pesantren Al Islam yang meninggal dunia. Itu juga merupakan pertemuan pertama saya pasca-bebas dari penjara. Dari obrolan singkat saat itu saya menyimpulkan bahwa tidak ada yang berubah dari beliau dalam hal idealisme. Hanya perubahan fisik saja yang terlihat.

Terlepas dari keterlibatan beliau dalam pelanggaran hukum yang berlaku di Indonesia, bagi saya pribadi beliau adalah sosok yang layak dihormati. Bukan pada kasus yang menjeratnya tetapi lebih pada semangat juangnya dalam mewujudkan idealismenya.

Ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like