Fenomena ‘Anak Nakal’ di Jamaah Islamiyah (4-habis)

By

Adanya dua kelompok “anak nakal’ di Jamaah Islamiyah (JI) yang telah kita bahas pada tulisan  sebelumnya, tentu saja menimbulkan dampak yang sangat signifikan di tubuh JI. Bahkan kemudian berdampak pula pada dunia eksperimen “jihad’ di Indonesia.

Betapa tidak, JI adalah pelopor eksperimen “jihad’ di Indonesia. Doktrin-doktrin ‘jihad’ sebelum era masuknya paham “tauhid wal jihad’’ yang dipopulerkan oleh Aman Abdurrahman, semuanya berasal dari dalam tubuh JI.

Bahkan bisa saya katakan bahwa awalnya yang mempopulerkan paham ‘tauhid wal ‘jihad’’-nya Aman Abdurrahman adalah bagian para ‘anak nakal’ JI. Bagaimana itu bisa terjadi?

Mari kita bahas.

Sebagaimana yang terdapat pada tulisan sebelumnya, ada dua kelompok ‘anak nakal’ JI. Yaitu yang ingin melanjutkan ‘jihad’ di wilayah bekas konflik sebagai upaya mewujudkan qaidah aminah (basis aman) untuk memulai proyek ‘jihad’ yang lebih besar. Dan yang menganggap Bom Bali 2002 merupakan permulaan era ‘jihad’ baru, yaitu mengikuti tren ‘jihad’ global yang dilakukan oleh Al Qaeda dengan sasaran Yahudi-Amerika dan sekutunya.

Kedua kelompok ini punya dua kesamaan, yaitu:

Pertama, sama-sama meyakini bahwa era ‘jihad’ di Indonesia sudah dimulai. Maka harus dilanjutkan bagaimanapun caranya.

Kedua, sama-sama kecewa dengan kebijakan para petinggi Jamaah Islamiyah yang tidak mendukung gerakan mereka. Imbasnya adalah mereka kesulitan mendapatkan pasokan dana personel. Dampak lanjutannya mereka juga kesulitan mencari tempat persinggahan ketika ada yang menjadi buronan (DPO) aparat keamanan.

Dua kesamaan ini menimbulkan beberapa masalah, antara lain:

Adanya oknum di dalam kelompok ‘anak nakal’ yang mencela dan menjelek-jelekkan para petinggi JI. Pada saat yang sama para oknum ini meneriakkan pentingnya melanjutkan ‘jihad’ di Indonesia. Berbagai argumen penguat mereka keluarkan, termasuk mempopulerkan paham ‘tauhid wal ‘jihad’’ yang ditawarkan oleh Aman Abdurrahman.

Akibatnya lahirlah generasi “jihadis” baru yang membenci sistem yang dianut secara resmi oleh Jamaah Islamiyah. Generasi yang lebih mementingkan asal bisa “berjihad” daripada menyusun dan mengatur kekuatan dalam bingkai jamaah atau organisasi. Orang-orang seperti inilah yang kemudian direkrut oleh Noordin M Top dan Santoso.

Di tengah perjalanan “jihad” yang dilakukan oleh para ‘anak nakal’ itu, terutama setelah terbongkarnya program pelatihan Aceh awal 2010, selain masalah kekurangan dana dan personel, muncul persoalan baru. Yaitu soal siapa yang boleh menjadi target operasi ‘jihad’ dan sumber pendanaan alternatif selain dari infak perorangan. Hal ini menjadi penting karena terkait dengan kemampuan yang semakin menurun akibat tidak direstuinya model ‘jihad’ mereka oleh JI.

Maka pada saat itu, makalah-makalah dan artikel-artikel karya Aman Abdurrahman tentang paham ‘tauhid wal ‘jihad’’ menjadi sangat populer di kalangan orang-orang yang ingin melakukan ‘jihad’ di Indonesia namun dengan kemampuan yang terbatas. Secara sederhana, paham ‘tauhid wal ‘jihad’’ itu mengajarkan tentang bolehnya menjadikan siapa saja yang bertanggungjawab atas berlakunya hukum-hukum selain syariat Islam sebagai target dari operasi ‘jihad’. Termasuk mengambil atau merampas harta mereka.

Serangan bom di Masjid Mapolresta  Cirebon tahun 2011 merupakan tonggak sejarah yang menandai perubahan target operasi ‘jihad’. Dari yang semula menargetkan Yahudi-Amerika dan sekutunya menjadi aparat pelindung sistem negara yang memberlakukan hukum-hukum selain syariat Islam.

Maka selanjutnya kita juga kemudian menyaksikan bagaimana munculnya kelompok yang menghalalkan perampokan dan pencurian pada aset-aset negara sebagai sumber pendanaan. Paham ‘tauhid wal ‘jihad’ adalah yang mendasari aksi-aksi itu.

Orang-orang yang menganut paham ‘tauhid wal ‘jihad’’ ini kemudian semakin berkembang pasca kemunculan kelompok IS/ISIS di Suriah. Karena ideologi mereka ini sama dengan ideologi resmi yang dianut oleh IS/ISIS.

Jadi, kesimpulannya adalah: bahwa kekacauan yang terjadi di dunia gerakan ‘jihad’ di Indonesia berawal dari fenomena munculnya’anak nakal’ di tubuh Jamaah Islamiyah. Sebuah pelajaran yang berharga agar tidak terulang lagi di masa depan.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like