Konflik Israel – Palestina: Duka di Kota Perdamaian

Analisa

by Eka Setiawan

Lebih dari sepekan terakhir, konflik antara Israel dan Palestina kembali pecah. Berawal dari insiden penyerangan Polisi Israel terhadap warga Palestina ketika melakukan Salat Tarawih di pekan terakhir Ramadan yang lalu tepatnya Jumat 7 Mei 2021 di Masjid Al Aqsa Yerusalem, konflik berlanjut hingga di Jalur Gaza. Di sini, persenjataan berat beradu.

Bentrok ini diyakini disebabkan karena upaya kelompok pemukim Yahudi yang ingin menggusur beberapa keluarga Palestina di kawasan Yerusalem Timur. Buntut dari upaya itulah ketegangan terus meningkat hingga akhirnya pecah konflik.

Insiden provokasi hingga penyerangan terhadap warga Muslim ketika sedang beribadah di bulan Ramadan, tentu tidak dapat dibenarkan atas alasan apapun. Di kota kuno yang menjadi kota suci tiga agama besar: Yudaisme, Kristen dan Islam, (lagi-lagi) konflik bermula.

Di wilayah itu, Kota Tua Yerusalem, setidaknya ada 5 tempat-tempat suci menurut keyakinan di tiga agama itu. Pertama; Temple Mount. Ini adalah kompleks seluas 15 hektar, merupakan simbol yang berarti bagi bangsa Yahudi. Mereka meyakini di sinilah nanti Mesias akan datang melakukan penebusan dan penyelamatan.

Kedua; Dome of The Rock di mana umat Islam meyakini di tempat inilah Nabi Muhammad SAW naik menembus 7 langit dan bertemu Allah SWT daam perjalanan Mikraj.

Ketiga; Masjid Al Aqsa yang bagi umat Islam adalah masjid tersuci ke-3 setalah Masjidil Haram (Mekkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

Keempat adalah Tembok Barat. Ini adalah tempat utama untuk berdoa bagi orang Yahudi, ini juga disebut Tembok Ratapan.

Tempat suci ke-5 di sana adalah Gereja Makam Kristus. Umat Kristiani percaya di tempat yang sekarang berdiri gereja itu adalah lokasi di mana Yesus disalib dan nantinya akan dibangkitkan dari kematian.

Yerusalem sendiri punya sejarah amat panjang. Beberapa literasi menyebut, permukiman pertama terbentuk di Zaman Chalcolithic di tahun 3.500 SM. Kemudian berlanjut ke Periode Hyksos (1750-1500 SM), Periodee Persia (539-332 SM), Periode Helenistik (332-141 SM), Periode Hasmonean (141-37 SM), Periode Herodian (37 SM – 70 M), Periode Kekaisaran Romawi (70-324 M), Periode Byzantium (324-638 SM), Periode Islam Awal (637-1099 M), Periode Perang Salib sekaligus Periode Ayyubid (1099-1244 M), Periode Mameluk (1250-1516 M), Periode Ottoman (1516-1917), Periode Mandat Inggris (1917-1948) hingga Periode Israel yang dimulai dari tahun 1948.

Dari berbagai periode itu ada kisah-kisah tersendiri. Termasuk pembantaian besar-besaran kepada Umat Yahudi ketika Nazi berkuasa, dikenal dengan Holocaust. Di rentang waktu itu pula sejarah mencatat ketika bangsa Yahudi membantu Inggris ketika berperang melawan Ottoman dengan meminta imbalan punya wilayah sendiri. Israel sendiri berdiri pada 1948 setelah mandat Inggris di Yerusalem itu berakhir.

Pada periode ini pula, tepatnya di tahun 1967 terjadi Perang Enam Hari, ketika Israel merebut Kota Tua, Tepi Barat dan Yerusalem timur dari Yordania, Jalur Gaza dan Gurun Sinai dari Mesir serta Dataran Tinggi Golan dari Suriah. Peristiwa 6 hari ini yang kala itu terjadi pada 5 – 10 Juni 1967. Itu pula yang menjadikan ketegangan tersendiri ketika Israel berencana menggelar parade Pawai Yerusalem sebagai peringatan Perang 6 Hari, yang akhirnya dibatalkan.

Sejarah panjang juga mencatat-sebenarnya-wilayah tersebut khususnya Yerusalem adalah tempat perdamaian. Di mana masing-masing umat dari tiga agama berbeda yang telah disebutkan tadi, bebas beribadah sesuai keyakinannya di sana. Yerusalem sendiri, dari berbagai bahasa diartikan sebagai Kota Damai. Setidaknya Yerusalem punya 70 nama dari berbagai bahasa dan bangsa. Di antaranya; Yerushalayim (Ibrani), Hirousalem (Yunani), Salim (bahasa Arab), hingga Jorsala (bahasa Skandinavia kuno).

Untuk umat Kristiani sendiri, jika merunut sejarah ketika agama Kristen diakui sebagai agama resmi Kekaisaran Konstantinopel – sekarang bernama Istanbul – pada abad ke-4 Masehi. Kaisar Konstantinus ketika itu memutuskan memindahkan pusat Kekaisaran Romawi dari Roma ke Byzantium, yang kemudian berubah nama jadi Konstantinopel dan Istanbul.

Konstantinopel sendiri akhirnya jatuh pada tahun 637 dikalahkan Khalifah Umar bin Khattab. Yerusalem pun otomatis dikuasai. Pada buku berjudul Jerusalem: Kesucian, Konflik dan Pengadilan Akhir (ditulis Trias Kuncahyono), dituliskan bahwa awal-awal periode Arab ini dikenal sebagai periode yang penuh toleransi beragama. Yahudi, Kristen dan Islam dapat hidup dan beribadah dengan damai.

Salah satunya; pada Perjanian Umar yang salah satu isinya tidak akan menambil alih ataupun menghancurkan gereja. Termasuk bagi Yahudi sendiri, untuk kali pertama dalam 500 tahun sejak mereka diusir dari Tanah Suci, mereka diperbolehkan kembali dengan bebas dan hidup di sekitar Yerusalem termasuk membolehkan mereka menunaikan ibadah menurut keyakinan mereka.

 

ilustrasi: pixabay.com

 

 

Komentar

Tulis Komentar