Euforia

Motif Pelaku Teror Lakukan Bom Bunuh Diri

By

Melakukan aksi teror bunuh diri, baik menggunakan bom atau tidak, sejatinya bukan pilihan yang mudah. Kita bisa saja membayangkan bahwa mereka melakukan hal itu dengan suasana hati yang gembira, karena telah tercapai tujuannya. Tapi kenyataannya, para calon pelaku sibuk mempersiapkan mental sebelum melakukan aksi.

Dalam liputan Kompas TV, Deborah Dewi, seorang grafolog, menuturkan bahwa pelaku teror di Makassar maupun Mabes Polri memiliki motif aksi yang bukan karena alasan jihad. “Keduanya didorong oleh rasa kecemasan, rasa tidak aman dan perasaan insecurity yang sangat besar.” kata Deborah. Grafolog adalah orang yang mampu menganalisa kepribadian seseorang dari tulisannya.

Deborah menjelaskan, motif spiritual justru tidak muncul dalam kedua tulisan wasiat yang ditinggalkan pelaku. Kemarahan terhadap status sosial menjadi motif dominan pada tulisan Zakiah Aini, pelaku teror di Mabes Polri pada 31 Maret lalu. Sedangkan tulisan Lukman, pelaku bom bunuh diri di Makassar, menunjukkan bahwa ada kebutuhan eksistensi diri dan kemarahan terhadap pengakuan sosial atas dirinya selama ini. Ada juga ketakutan yang sangat besar, terutama di masa depan yang berdampak kepada ibu Lukman.

Dalam konteks analisa yang berbeda, kali ini melalui pengakuannya, salah satu calon pelaku bom bunuh diri, Ika Puspitasari,  menuturkan kepada Ruangobrol.id motifnya melakukan bom bunuh diri. Pada awalnya, dia mengatakan bahwa keinginannya untuk melakukan bom bunur diri adalah karena menjadi bagian dari Jihad untuk ISIS. Akan tetapi, dalam kelanjutan penuturannya, dia justru mengungkapkan bahwa ide melakukan bom bunuh diri muncul karena alasan yang lain.

Ika yang ketika itu berstatus sebagai buruh migran telah diketahui terlibat pendanaan rencana aksi bunuh diri Abdullah Azzam di Indonesia oleh otoritas Hongkong. Hal itu terungkap, saat dia melakukan perpanjangan visa. Hasilnya, otoritas Hongkong mendeportasi Ika pada Oktober 2016. Kehilangan satu-satunya pekerjaan, padahal dia menjadi tulang punggung keluarga, Ika kemudian mencari kontak di grup telegram yang bisa memfasilitasinya melakukan aksi bunuh diri. Dia mendapatkan kontak bernama Abu Ghurob dari grup tersebut.

“Ya kalau aku gak dideportasi, bisa jadi aku gak akan amaliah.”, Ujar Ika kepada tim Ruangobrol.id.

Sesampai di Indonesia, Ika sempat memberikan sejumlah uang untuk meneruskan pembangunan rumah ke tantenya. Selain itu, Ika juga menaruh sejumlah uang di tabungan sekolah adik bungsunya. Jumlah yang dia berikan diperkirakan cukup hingga adiknya lulus SD.

Dari penuturan Ika itu, tampak bahwa kekhawatirannya tidak bisa membiayai keluarganya lagi menjadi dorongan untuk melakukan aksi bom bunuh diri. Nuansa kekhawatiran yang berbuah kecemasan itu terlihat jelas ketika Ruangobrol.id berdiskusi dengannya di Rumah Tahanan (rutan) Mako Brimob. Kecemasan yang lain juga tampak ketika dia bercerita soal ketakutannya pada suami online-nya. Saat ditangkap dan ditahan di Rutan Mako Brimob, dia tidak ingin menemui suaminya. Padahal mereka berada di rutan yang sama. Dia mengaku sangat takut dimarahi. Ika baru menemui suaminya setelah menjalani sidang.

Berkaitan dengan tidak mudahnya melakukan aksi teror bunuh diri, dalam sebuah kesempatan, Ali Imron menuturkan bahwa melakukan aksi memang tidak boleh sembarangan. Ketika dia terlibat melakukan aksi Bom Bali, sepanjang jalan dia sangat gugup. Ia terus berpikir berapa orang korban yang akan tewas pada peristiwa itu.

“Jangan sangka kita teriak waktu aksi, kita saling diam sepanjang jalan.” ujar Ali Imron, salah satu pelaku Bom Bali I.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like