Menempatkan Jargon ‘Isy Kariiman Au Mut Syahiidan Sesuai Konteksnya

By

Kalimat ‘Isy Kariiman aw Mut Syahiidan yang berarti “ Hidup Mulia atau Mati Syahid” seringkali kita lihat dan kita dengar sebagai kalimat yang sering diucapkan oleh para aktivis, sering dikutip dan dituliskan di sudut-sudut buku atau ruangan sebagai kalimat penggugah jiwa atau sebagai motto hidup.

Padahal –menurut saya– penerapan dari makna kalimat ini sebenarnya hanya berlaku pada kondisi dalam peperangan, yaitu sebagai kalimat pembakar semangat bagi pasukan Islam yang sedang menghadapi musuh yang kuat.

Dalam Al Qur’an ada sebuah ayat yang mendukung bahwa “ Hidup Mulia atau Mati Syahid” adalah dua kebaikan yang akan diperoleh orang yang sedang berperang di jalan Allah SWT. Konteksnya adalah orang yang sedang berperang, bukan orang-orang yang aktivitasnya tidak “berbau perang” sama sekali. Di dalam surah At Taubah ayat 52 Allah SWT berfirman yang artinya :

Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, Sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.”

Kalimat ini pula yang sering dijadikan jargon oleh kelompok radikal untuk merekrut aktivis muda yang masih labil. Mereka menjadikan kalimat itu sebagai salah satu doktrin sebagaimana yang pernah saya ketahui, seperti pada ungkapan mereka, “Hidup mulia adalah ketika engkau mampu melaksanakan tauhid dan syariat Islam dalam kehidupanmu secara menyeluruh, dan jika tidak mampu maka tempuhlah jalan menuju mati syahid dalam memperjuangkan tegaknya syari’at. Itulah pilihannya”.

Jika kata-kata itu disampaikan kepada seorang pemuda yang baru belajar Islam dan ia berada pada kondisi yang serba sulit seperti sedang menghadapi persoalan ekonomi atau masalah keluarga atau punya penyakit yang berat dan sebagainya, orang itu akan cenderung mudah terpengaruh untuk melakukan tindakan radikal atas nama jihad membela Islam yang jika mati maka in sya Allah akan memperoleh mati syahid.

Memang dalam sejarah Islam ada statemen atau ungkapan yang mirip dengan jargon tersebut, yaitu Isy kariiman wa Mut Kariiman (hidup mulia dan matilah mulia). Ini adalah ucapan Asma’ binti Abu Bakar RA kepada anaknya, Abdullah bin Zubair yang kondisinya saat itu sedang diburu oleh Yazid bin Mu’awiyah yang mengancam akan memutilasi tubuhnya jika sampai tertangkap. Lalu Asma’ binti Abu Bakar RA berkata kepadanya : ” Hiduplah mulia dan matilah mulia (Isy kariiman wa mut kariiman). Orang yang sudah mati tidak akan merasakan sakit lagi walaupun musuh memotong-motong tubuhnya. – atau sebagaimana perkataan Asma’ binti Abu Bakar RA-.

Secara ilmiah, statemen ini dapat didiskusikan dan dianalisis latar belakang historis dan sosiologisnya. Pesan seorang ibu tersebut bisa dibaca dalam karya-karya sejarah klasik seperti Tarikh Dimisyqa karya Ibnu Asakir dan yang lainnya.

Pesan Asma’ RA ini sangat berbeda dengan jargon ‘Isy kariiman au Mut syahiidan, baik redaksional maupun setting sejarahnya. Pesan Asma’ RA mengarah kepada tujuan hidup mulia dan mati juga mulia tanpa adanya opsi. Sementara jargon ‘Isy kariiman au Mut syahiidan tersebut menggiring orang untuk memilih satu di antara dua opsi, yaitu: hidup mulia atau mati syahid dengan pemakaian kata sambung “au” yang menurut tata bahasa Arab untuk “takhyîr” (pilihan).

Lalu setelah direnungkan, sebenarnya ungkapan ini (‘Isy kariiman wa mut kariiman) lebih universal maknanya dibandingkan ‘Isy kariiman au mut syahiidan. ‘Isy kariiman wa mut kariiman memiliki makna agar kita berusaha untuk hidup mulia sesuai dengan syariat Islam dan mati pun dalam keadaan menetapi syariat Islam atau memperjuangkan syariat Islam, meskipun matinya tidak di medan perang.

Sedangkan ‘Isy kariiman au mut syahiidan menurut saya hanya tepat digunakan untuk memotivasi orang yang sedang dalam pertempuran agar tidak ragu lagi dalam bertempur karena akan memperoleh salah satu dari dua kebaikan, yaitu kemenangan yang berarti kemuliaan atau jika mati maka mati sebagi syahid.

Karena konteks perjuangan kita tidak selalu atau hanya di medan perang, maka saya rasa slogan ‘Isy kariiman wa mut kariiman lebih tepat, selain juga lebih ilmiah.

Jadi, mari kita belajar Sirah Nabawiyah yang lengkap dan komprehensif, serta mengkampanyekan sebuah slogan atau jargon baru yaitu ; “ ‘Isy kariiman wa mut kariiman”, sebagai salah satu upaya menutup salah satu celah yang bisa dieksploitasi oleh kelompok radikal untuk merekrut generasi muda kita.

Semoga tulisan sederhana ini bisa menginspirasi atau menjadi pemicu bagi orang-orang yang lebih berilmu untuk merumuskan cara-cara penanggulangan dan pencegahan radikalisme yang lebih komprehensif sesuai dengan bidang keahlian masing-masing, lalu bersama-sama kaum muslimin dan segenap komponen bangsa bekerjasama bahu membahu mencegah dan memotong mata rantai radikalisme di Indonesia.

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like