Film

Film Jadi Media Paling Efektif Propaganda Teror

nurdhania
nurdhania
4 Min Read

Pada banyak kesempatan, film dapat menjadi penyampai pesan yang efektif. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, berbagai video menjadi alat ISIS untuk menularkan ideologinya. Memaksimalkan fungsi dari media itu, mereka berhasil merekrut anggota baru serta mengajak orang untuk pindah ke wilayah kekuasaannya.

Pada setiap produksinya, konten audio visual ISIS digarap dengan serius. Mereka bahkan meniru gaya film Hollywood. Mulai dari angle atau sudut pengambilan gambar, animasinya, hingga musik dan backsoundnya. Tujuan mereka menggunakan gaya tersebut adalah untuk menarik hati banyak orang, khususnya orang-orang Barat. Tak hanya sekadar menampilakan video peperangan, latihan militer, atau kehidupan kota, mereka juga kerap membuat video profil seorang yang mereka anggap sebagai “pahlawan”. Seperti misalnya, kisah hijrah orang-orang yang berasal dari Eropa, Amerika, atau Australia. Kehidupan mereka dikemas dengan baik dalam layar, hingga saat-saat mereka menjadi martir. Dalam alur ceritanya, diselipkan wawancara dari orang-orang tersebut. Cara ini menurut saya dapat menyuntuh sisi emosional seseorang dan memberikan inspirasi untuk mengikuti jejak mereka. Apalagi bagi muda-mudi yang dalam kegalauan dan sedang mencari makna hidup.

Soal garapan ISIS ini, saya teringat dengan video berdurasi sekitar 1 jam tentang mata uang dinar. Sebagai orang awam, saya begitu terpukau dengan film tersebut. Hampir sepanjang film saya mengangguk-angguk. Bagaimana tidak, saya dimanjakan dengan animasi yang baik, voice over berbahasa inggris yang fasih dan enak didengar, serta resolusi tinggi yang membuat mata nyaman dengan kejernihan gambarnya. Belum lagi soal penjelasan tentang sejarah uang dan perekonomian dunia. Lalu, pada akhir video, mereka merilis video clip nasyid terbaru yang langsung menempel di kepala.

Dijelaskan dalam video tersebut, mereka sangat mengutuk uang kertas, seperti Dolar. Sehingga penting orang-orang untuk menggunakan dinar dan dirham sebagai alat transaksi yang halal dan baik seperti di masa Rasul dan Khalifah. Mereka lalu mengenalkan koin emas dinar dan dirham milik mereka.

Keterpukauan saya itu kemudian buyar, ketika saya benar-benar berada di wilayah tempat film itu merujuk. Film dengan garapan serius itu memang hanya untuk propaganda saja. Sebagai alat untuk menularkan ideologi mereka. Saya melihat langsung bahwa orang-orang di tempat yang digambarkan dalam film itu (wilayah ISIS)  masih bertransaksi menggunakan uang Dolar dan uang Suriah.

Koin dinar-dirham memang sempat diliris pada tahun 2017. Akan tetapi karena masih dalam kondisi peperangan, penggunaan uang itu tidak maksimal. Bahkan, saat itu yang beredar hanya hanya koin perunggu dan perak saja. Belum ada koin dinar atau emas. Lebih mengejutkan lagi, mereka memaksa semua pedagang untuk menggunakan koin tersebut. Suatu waktu, saya melihat ada keributan di pasar antara pedagang dengan pembeli. Si pembeli menyuruh pedagang (orang Suriah), untuk menggunakan koin Dawlah (koin dinar atau emas). Tapi si pedagang menolak karena dia tidak bisa menggunakan koin tersebut untuk membeli barang dagangannya di luar wilayah ISIS. Koin tersebut tidak laku.

Saya merasakan sendiri bagaimana pesona dalam film itu tidak seperti kenyataannya. Terutama pada jenis film propaganda. Akan tetapi, kita tidak bisa seterusnya memblokir video atau fim propaganda mereka. Sebab, diblokir satu, maka akan muncul video yang lain. Bahkan, mereka juga memiliki cara untuk mengelabui pemblokiran. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah ini, ada baiknya menggunakan film atau video juga. Film tersebut digunakan untuk melawan narasi-nrasi mereka. Saya bersyukur, sudah mulai banyak film atau video baik dokumenter maupun fiksi yang membahas atau melawan narasi ISIS ini. Begitu juga film-tilm yang membahas tentang perdamaian, kebersamaan, dan toleransi. Seperti yang dilakukan oleh Bapak Noor Huda Ismail lewat film-film dokumenternya.

Alhamdulillah, melalui film-film itu, semakin banyak orang yang mulai sadar akan bahaya terorisme, dan ingin ikut andil dalam pencegahan tindak kekerasan dan terorisme.

 

 

Share this Article
Posted by nurdhania
Follow:
Tell stories to the worldwide
Leave a comment