WFH

Satu Tahun WFH Karena Pandemi

By

Satu tahun telah berlalu sejak ditetapkannya kebijakan work from home (WFH) pada 16 Maret 2020. Ketika itu, jumlah kasus positif Covid-19 sudah mencapai ratusan, dan korban meninggal mulai berjatuhan. Sekarang jumlahnya sudah mencapai jutaan. Konsekuensi nyata dari kebijakan itu adalah setiap orang melakukan aktivitas produktifnya di rumah. Bekerja, belajar, dan bahkan beribadah dilakukan di rumah masing-masing.

Berubahnya aktivitas masyarakat memberikan dampak yang signifikan pada sektor-sektor usaha tertentu. Mereka yang bekerja di bidang pariwisata, penyelenggaraan event dan hal-hal yang terkait dengan itu, ojek online, pedagang pasar, dan beberapa yang lain terkena pukulan keras. Kasus pengangguran meningkat dan banyak usaha yang tutup. Tidak jarang perusahan-perusahaan mulai merumahkan karyawannya.

Kondisi penuh tantangan selama satu tahun ini juga dirasakan oleh para siswa sampai mahasiswa. Mereka yang tidak memiliki smartphone atau laptop serta kuota internet yang memadai terseok-seok menjalani keputusan belajar online. Disisi lain, masih ada guru yang belum memahami pemakaian aplikasi belajar online. Sehingga mereka bingung soal bagaimana agar anak mruridnya tetap belajar dan mendapatkan ilmu.

Pada awal-awal semua orang melakukan WFH, saya masih ingat soal munculnya pro kontra beribadah di rumah dan adanya karantina wilayah. Saya juga ingat tentang munculnya aplikasi online meeting dan beragam berita soal keamanan aplikasi itu. Saat ini, rasanya setiap orang sudah mulai familiar dengan zoom, google meet, dan webex sebagai sarana untuk rapat, kegiatan belajar mengajar, seminar, sampai acara pernikahan.

Meskipun saat ini kita sudah relatif beradaptasi dengan WFH, tapi kita tentu ingat soal kelucuan-kelucuan yang menemani WFH di masa-masa awalnya. Pada awalnya, orang-orang mungkin masih mandi dan berpakaian rapi ketika pertama kali melakukan zoom meeting. Tapi, lama kelamaan, mandi sudah bukan jadi prioritas. Ada pula soal gangguan zoom meeting dari anak, adik, atau tiba-tibak emak memanggil dengan suara keras. Soal orang tua yang harus ‘bekerja’ online sembari menyiapkan sekolah online anak-anaknya juga memberikan banyak pengalaman lucu.

Cerita-cerita unik juga muncul dari mereka yang awalnya tidak memperdulikan kesehatan, seketika berubah cinta kebersihan selama mas pandemi ini. Rumah yang terbiasa berantakan, mendadak menjadi rapi dan dijaga kebersihannya. Soal pelayanan publik yang menjadi online juga sempat membuat masyarakat keteteran. Pembayaran PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) misalnya. Meteran air harus difoto terlebih dahulu, lalu pembayaran dilakukan secara onlline.

Selain munculnya banyak cerita lucu, pengalaman kurang mengenakan juga terjadi pada beberapa diantara kita. Konseling online yang berkaitan dengan kesehatan mental cenderung meningkat. Banyak yang mengalami stres dengan kondisi pandemi ini.

Meskipun demikian, di saat kondisi yang mulai tak menentu seperti ini, orang-orang baik ternyata masih ada. Penggalangan dana untuk para tenaga medis atau pekerja terdampak Covid-19 ramai dilakukan. Bahkan, ada ajakan donasi smartphone bagi para siswa yang kesulitan belajar online karena keterbatasan alat. Soal membantu kawan yang sedang mulai usaha berdagang online juga tidak luput dari dukungan. Saling promosi barang dagangan gencar dilakukan. Kemudian, di tingkat masyarakat, muncul inisiatif dari RT (rukun tetangga) untuk menyiapkan wastafel di beberapa sudut komplek, memberikan bantuan makanan bagi tetangga yang terkena Covid-19 (tentunya tanpa perlu bertemu atau bersentuhan).

Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kita akan mengalami masa seperti ini. Berbulan-bulan menghabiskan waktu di dalam rumah, dan keluar rumah hanya ke pasar, apotek atau rumah sakit. Tiap orang punya ceritanya masing-masing selama WFH. Hal ini tentu akan menjadi sejarah hidup yang tak terlupakan. Meskipun vaksin sudah tersedia, bukan berarti kita bisa seenaknya melanggar protokol kesehatan. Ingat, jika kita menyelamatkan satu jiwa maka seperti menyelamatkan seluruh manusia (QS. Al-Maidah:32).

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like