Dari Friedensengel Kita Belajar Kerjasama untuk Pencegahan Terorisme

By

Eropa dalam laman internet adalah sebuah suguhan bangunan-bangunan tua dan klasik. Dari kejahuan, di balik gedung-gedung bersejarah, sering kali kita temui monumen peringatan yang menjadi ikon sebuah kota. Sebuah mamento dari persitiwa masa lalu.

Alhamdulillah, saya beruntung mendapat kesempatan mengunjungi Munich, Jerman. Ketika itu, saya hadir sebagai panelis di Munich Security Conference pada Februari tahun 2020 lalu. Tanpa mau menghilangkan kesempatan untuk memuaskan keingintahuan saya terhadap Munchen, mata saya tidak berhenti memandangi jalanan kota. Melalui jendela mobil saat perjalanan pulang dari konferensi, saya mencoba ‘melahap’ Kota Munchen. Saya terkesima dengan satu lanskap kota dari kejauhan. Sebuah tiang panjang berwarna putih, dengan objek emas di atasnya (tapi ini bukan monas ya, hehe). Saya mengatur mode zoom pada kamera agar bisa melihatnya lebih jelas. Saya tidak tahu, monumen apa yang muncul di layar kamera saya itu. Ingin rasanya bertanya pada supir taksi yang mengantarkan saya, tetapi dia tidak bisa berbahasa Inggris.

Sesampainya di Indonesia, saya mencoba mencari tahu setiap gedung dan landmark Kota Munchen lewat google earth. Tiang tinggi yang saya photo itu ternyata sebuah monumen yang disebut Angel Of Peace atau Friedensengel. Walaupun jauh, ketika itu, saya tetap bisa melihat puncak monumen tersebut yang berwarna emas. Berdasarkan penjelasan dari laman Munich.travel, ternyata monumen yang berdiri tegak di daerah Bogenhausen itu adalah patung Angel atau Malaikat dengan sosok wanita. Patung itu adalah simbol kemenangan dan salinan persis dari patung dewi kemenangan Yunani, Nike oleh pematung Peonia. Di tangan kanan patung itu terdapat ranting zaitun sebagai simbol perdamaian, dan di tangan kirinya terdapat gambar Palladion dari dewi Athena, yang berarti perjuangan dan kebijaksanaan. Sejarah singkatnya, monumen peringatan ini didedikasikan untuk peringatan 25 tahun Perjanjian damai setelah perang Perancis-Prusia tahun 1870-1871.

Selain dari dua benda di tangannya, seperti halnya penggambaran malaikat, patung Angel of Peace juga memiliki sepasang sayap. Bagi saya, sayap di kiri dan kanan itu menunjukkan adanya keseimbangan. Hanya memiliki satu sisi sayap saja tentu akan sangat menyulitkan untuk terbang. Pada banyak kondisi, kita tidak bisa sendirian, tetapi membutuhkan orang lain.

Hal ini bisa kita kaitkan dengan kerja-kerja pencegahan terorisme yang melibatkan masyarakat. Sebagai makhluk social, kita tidak bisa sendiri. Tentu kita membutuhkan manusia lainnya. Dalam pencegahan terorisme, negara tidak bisa melakukan ini sendiri, begitupun masyarakat. Hal ini harus dikerjakan bersama-sama, saling berkolaborasi antar-satu dengan yang lain.

Sebagai sebuah simbol, patung hanya akan berdiri diam, membatu. Begitu juga dengan gerakan pencegahan terorisme. Jika hanya diam saja dan tidak bekerja sama, maka gerakannya hanya simbolis saja.

Sumber Photo: Dokumen Pribadi

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like