Sweet Home : Hasrat dan Mengendalikan Diri

By

Jangan berharap menemukan sesuatu yang manis dalam serial Sweet Home. Hadir dengan tagline “Mati sebagai manusia atau hidup menjadi monster”, serial yang rilis pada Desember 2020 itu justru menawarkan wujud menyeramkan dari sisi gelap hasrat manusia.

Diadaptasi dari webtoon dengan judul yang sama, serial yang sedang tayang di Netflix ini menggunakan formula cerita yang unik. Terutama soal asal muasal makhluk-makhluk seram dan menjijikan yang diceritakan sudah membuat dunia dalam Sweet Home berantakan. Umumnya monster atau zombie tercipta karena infeksi virus atau kontaminasi zat berbahaya. Kengerian kemudian dibangun dari betapa tidak berdayanya manusia menghadapi penyebaran virus yang tidak terkendali dan mengubah semua manusia menjadi zombie.

Serial ini berbeda.

Makhluk-makhluk mengerikan yang muncul justru tercipta dari sesuatu yang sudah melekat pada manusia. Sesuatu yang justru menjadi penanda sebagai manusia. Sesuatu itu adalah hasrat, nafsu dan ambisi besar. Hasrat manusia untuk menyalurkan amarah, kebencian, dendam, putus asa, kekesalan, atau ambisi lain itu kemudian meledak dan mengubah manusia menjadi monster. Dari sini, kengerian kemudian dibangun dengan prasangka bahwa setiap manusia bisa menjadi monster. Sebab, setiap manusia pasti memiliki hasrat.

Dalam salah satu episodenya, penonton dihadapkan dengan sesosok monster besar dan berotot. Dia mengincar manusia sambil berteriak “protein’. Ternyata hasrat menjadi seseorang yang kekar adalah sebab manusia ini berubah menjadi monster dan selalu membutuhkan protein. Ada pula sosok monster yang justru muncul karena perlakukan manusia-manusia lain. Hasrat untuk melawan yang sudah menumpuk, karena terus menerus direndahkan, membuat seorang satpam berubah. Inilah sisi-sisi gelap yang sedang dikritisi oleh Sweet Home.

Menariknya, serial ini secara gamblang sudah menyiapkan solusi dari carut marut perubahan menjadi monster itu. Logikanya sederhana. Jika manusia berubah karena hasrat maka untuk mencegah perubahan itu diperlukan pengendalian diri. Ya, memang terlihat sederhana. Tapi mengendalikan hasrat ini bukan seperti membalik telapak tangan. Pergulatan inilah yang membuat Sweet Home menarik untuk diikuti. Serial ini sukses mengaduk-aduk perasaan penontonnya.

Dalam dunia Sweet Home, Cha Hyun Soo adalah tokoh utama. Dalam diamnya, putus asanya, dan kesendiriannya, remaja ini terus menerus ingin mengakhiri hidupnya. Hasrat ingin bunuh diri itu begitu kuat terbangun. Dia bahkan menginginkan manusia-manusia untuk menghilang saja. Tapi disisi lain, hasrat ingin menolong juga sangat kuat dalam diri Cha Hyun Soo. Pergulatan batin pun tak terelakan. Hasrat gelap yang sudah menguat membuat remaja ini masuk dalam tahap monsterisasi. Tapi hasrat untuk menolong dan tidak ingin menyakiti membantunya untuk mengendalikan diri. Hyun Soo terus menolak ajakan-ajakan untuk melepaskan hasrat gelapnya dan menjadi monster. Itulah sebabnya, tokoh utama ini adalah monster yang spesial, karena masih mempertahankan wujud seperti manusia.

Sejak menikmati episode pertamanya, penonton tentu sudah menyadari bahwa serial ini hanyalah fiksi belaka. Namun, hasrat dan nafsu adalah kenyataan. Berapa banyak pembantaian massal, pengrusakan alam, perburuan hewan yang membabi buta, dan nafsu-nafsu gelap lain tersuguh dalam keseharian kita. Nafsu dan hasrat sudah secara nyata mampu menghabisi manusia lain, tanpa harus berubah menjadi monster.

“Kadang manusia bisa lebih menyeramkan dari monster,” ujar salah satu tokoh dalam serial Sweet Home.

Dalam banyak kejadian, monster sebenarnya itu adalah manusia itu sendiri. Penonton Sweet Home mungkin saja dapat menebak siapa yang akan menjadi monster selanjutnya. Tapi di dunia nyata, sulit sekali melihat monster dalam diri manusia. Seseorang yang jahat bisa saja berpenampilan manis.

Bahkan sekelompok orang bisa saja mengatasnamakan agama untuk membenarkan perbuatan keji yang dilakukan. Mereka tidak sadar sedang dilahap oleh nafsu semata. Sebab, Tuhan tidak pernah melegalkan pembantaian, menyakiti orang lain, perbudakan, dan melakukan kerusakan.

Fighting against our own desire is the hardest thing, atau dalam kata lain, Jihadun Nafs itu memang paling sulit.

Selengkapnya, silahkan tonton langsung di Netflix.

PS: Untuk kamu yang tidak menyukai darah dan kekerasan, sebaiknya tidak menonton sendirian atau tidak menonton sama sekali.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like