Kerumunan

Kerumunan Adalah Ciri Khas Masyarakat Indonesia

By

Di tengah pandemi Covid-19 , bekerumun dan beramai-ramai adalah suatu hal yang sangat dilarang. Sejak Maret 2020, WHO telah mengeluarkan aturan untuk berjaga jarak minimal 1 meter dan tetap di rumah untuk mengurangi penularan virus. Oleh karena itu, acara atau kegiatan yang mengundang banyak orang ditiadakan.

Meski larangan itu telah diberlakukan, namun nampaknya masyarakat masih sering berkerumun dan berkumpul. Tentu kita mengetahui bagaimana berita akhir-akhir ini diramaikan oleh kasus kerumunan. Perdebatan tersebut pun terjadi di media sosial terutama mengenai kerumunan seperti apa yang sebenarnya dilarang.

Selain karena sebagai pencegahan penyebaran virus, kerumunan juga dilarang saat terjadi hal-hal bahaya. Masyarakat masih sering berkumpul di lokasi bencana alam bahkan lokasi terorisme. Misalnya itu terjadi saat peledakan dan baku tembak di Jalan Thamrin, Jakarta pada 2016 lalu.

Dari berbagai video, kita bisa melihat bahwa masyarakat justru berkumpul ketika sang teroris yang bernama Sunakim sedang beraks. Aparat keamanan pun memerintahkan warga untuk bubar dan tidak mendekati lokasi, namun nampak sulit. Baku tembak justru ditonton oleh banyak orang layaknya permainan.

Begitupula dengan pengeboman di Terminal Kampung Melayu tahun 2017. Garis kuning polisi dengan enteng tetap dilewati. Tentu seperti kejadian lainnya, masyarakat sibuk mengabadikan untuk di upload ke media sosial.

Dilansir dari BBC Indonesia, seorang ahli psikologi dari universitas Indonesia, Prof. Hamdi Muluk memberi penjelasan mengenai fenomena ini. Bahwasannya, masyarakat Indonesia berada dalam kultur komunal, sehingga selalu suka mengukur segala sesuatu dengan bagaimana orang di sekitar. Hal ini baik, hanya saja kebutuhan untuk tahu bahkan yang membahayakan, lebih tinggi dibanding masyarakat individualis.

Masyarakat individualis biasanya didominasi jika struktur negaranya sudah teratur, cenderung mencari informasi lewat jalur resmi seperti berita, televisi,dan koran. Tapi untuk orang Indonesia hal ini tidaklah cukup. Masyarakat akan lebih puas ketika melihat langsung. Oleh sebab itu, jika ada kerumunan, cepat terjadi orang-orang berkumpul untuk mencari informasi sebanyak mungkin. Beliau juga menambahkan, validasi sosial ini sekarang pindah ke akun media sosial atau grup chatting.

Dosen psikologi dari UI, Endang ikut menambahkan bahwa validasi sosial untuk menjadi yang pertama di media sosial menjadi salah satu alasan warga untuk mendekat ke lokasi kejadian. “Adanya kecenderungan orang untuk mengunggah foto-foto (karena) bangga mendapat pengakuan menyebarkan yang pertama di medsos,” kata Endang.

Kerumunan Saat Teror Bahaya?

Nampaknya kita setuju bahwa berada di tempat yang saat itu terjadi serangan terori tentu berbahaya. Pasalnya, kerumunan saat teror bisa mempersulit gerak aparat keamanan yang sedang berkonfrontasi dengan terroris. Terutama aparat seperti tim gegana apabila harus menjinakan bom. Bahkan ketika serangan di Thamrin terjadi, ada beberapa masyarakat yang malah mengambil foto si korban yang sedang terluka ketika baku tembak terjadi.

Selain itu, kita tidak pernah tahu apa rencana para teroris setelah melakukan aksi di babak pertama. Bisa saja ada bom lain yang akan meledak, seperti yang terjadi di Terminal Kampung Melayu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like