kekerasan-dan-pandemi-corona-covid-19-ruangobrol

Pandemi Corona dan Strategi Kekerasan

By

Sejak tahun 2014, setiap tanggal 1 April, diperingati sebagai HAMARI atau Hari Marketing Indonesia. Hamari diperingati sebagai sebuah bentuk bagi produk untuk terus kreatif. Untuk bisa bersaing di tingkat internasional, produk harus memiliki kekuatan sumber daya untuk memasarkan menciptakan merek yang menempel di pikiran.

Saat ini, jika ditanya apa yang paling menakutkan? Top of mind kita di bumi adalah virus Corona atau Covid-19. Sesuatu yang kita sadari, walaupun sempat terlalu percaya diri tidak akan mampir ke Indonesia, sang virus menakutkan ini telah menewaskan banyak orang. Lalu, apa hubungan dengan judul di atas? Inilah hebatnya “nebeng popularitas”, siapa pun yang melihat peluang, di era internet, setidaknya akan viral. Jika dikelola dengan serius, wujud viral akan menimbulkan efek lain, seperti uang atau pengikut.

Dalam pantauan akhir Maret, ada yang menarik mengenai metode yang digunakan oleh kelompok ekstrimis merekrut pengikut melalui internet untuk melakukan kekerasan. Kelompok White Supremacist dan kelompok neo-Nazi melakukan akselerasi melalui kanal Telegram untuk eksploitasi isu pandemi Corona. Jumlah 1200 subscribers terhitung pada tanggal 21 Maret 2020 mengajak pengikut mereka dengan tiga propaganda, yaitu: Corona adalah bagian dari rencana orang Yahudi yang anti kulit putih, mengimbau banyak orang tetap di ruang publik walaupun terpapar Corona, dan kematian akibat Corona adalah seleksi alam.

Joshua Fischer-Birch, peneliti ekstremisme berbasis di New York, mengajak Telegram untuk melakukan tindakan pencegahan ajakan melakukan kekerasan di tengah pandemi Corona, karena apa yang dilakukan kelompok pemuja kekerasan ini sangat menganggu di saat dunia menghadapi pandemi. Tetapi, mengapa kelompok ekstrimis giat sekali mendorong aksi kekerasan di tengah pandemi Corona?

Pertama adalah akselerasi. Ibarat balapan jet darat F1, kelompok teror tampaknya pintar menggunakan perpaduan perpindahan gigi dan kecanggihan teknologi. Mereka paham kapan harus pelan dan kapan harus kencang dengan menggunakan kecepatan internet. Akselarasi yang diharapkan dari sebaran propaganda di internet adalah pemerintah salah mengkalkulasi dampak Corona, dengan harapan pemerintah gagal menangani pandemi sehingga timbul kekacauan serta rasa frustasi publik meningkat dan berujung pada tekanan ekstrim terhadap posisi politik pemerintah.

Kedua adalah romantisme masa lalu. Kelompok ekstrem kanan di negara barat kerap mengkapitalisasi isu ketidakpastian, dan Corona adalah contoh ketidakpastian yang menarik untuk diusung sebagai propaganda. Sebuah studi yang dilakukan para ekonom Jerman pada tahun 2015, menemukan bahwa partai politik ekstrem kanan memperoleh keuntungan saat krisis finansial tahun 2008. Dengan menyalahkan pemerintah yang berkuasa, menggunakan propaganda kerentanan ekonomi disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang pro imigran terutama non kulit putih, berujung pada naiknya perolehan suara pemilih. Pemilih diimingi dengan jayanya kaum kulit putih di masa lalu.

Ketiga adalah gairah beragama sebagai pemantik. Dalam sebuah edisi podcast kelompok ekstrem kanan digunakan figur “Joachim”. Dalam Bahasa Ibrani, Joachim berarti “Sudah ada sejak lama karena Tuhan”. Bagi kelompok ekstrem, eksistensi “Tuhan” dihadirkan dalam propaganda perlawanan, karena Tuhan sudah ada sejak dahulu dan masih ada saat ini. Bahkan saat indeks di Dow Jones melorot ke angka 19,173, kelompok ekstrem kanan mengirimkan pesan di Telegram dengan kata kunci “Saint” atau orang suci. Pesannya adalah “Saint Corona, aku percaya bahwa anda bisa menghancurkan indeks ke angka terendah”. SPLC, sebuah lembaga yang mengamati kelompok ekstrim kanan di Amerika Serikat yang membuat meme, menyarankan pengikutnya untuk berada di ruang publik di tengah pandemi Corona sebagai tindakan “pekerjaan suci”. Mereka menganggap anjuran pemerintah untuk tetap di rumah akan memperlambat akselarasi propaganda kekerasan.

Kelompok yang kerap menggunakan ketiga faktor tersebut ada di semua agama. Akselarasi yang dilakukan kelompok ekstrem kanan adalah kejutan di saat dunia sedang kewalahan dengan penyebaran Corona. Yang bisa sama-sama kita lakukan adalah meningkatkan imunitas terhadap gencarnya propaganda kekerasan di media sosial. Imunitas terbentuk dengan menaikkan kemampuan literasi digital, memilih kanal-kanal yang terverifikasi oleh lembaga pers, melaporkan individu atau kelompok yang menyarankan kekerasan ke penyedia media sosial untuk di non-aktifkan akunnya, dan melakukan pengaturan blok terhadap kata kunci yang berhubungan dengan anjuran kekerasan di media sosial.

Dari pandemi Corona kita bisa belajar dua hal, bekerjasama menolong satu sama lain atau menciptakan kebodohan informasi yang berpotensi menimbulkan kekerasan.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like