Kecemburuan Sosial pada Para Napiter dan Mantan Napiter (1)

By

Meskipun mantan narapidana terorisme (napiter) itu menyandang stigma yang negatif, tapi tidak sedikit lho yang cemburu pada perlakuan beberapa pihak kepada mantan napiter. Bahkan sejak di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas) pun sudah terjadi kecemburuan antara narapidana kriminal umum terhadap napiter.

Di lapas, napiter itu sangat dihormati dan diperlakukan ekstra hati-hati oleh petugas lapas. Beberapa contohnya bisa saya sebutkan apa yang terjadi di lapas tempat saya menjalani hukuman pidana.

Dulu di tempat kami, para napiter bisa masuk ke blok lain tanpa harus diperiksa dan digeledah dulu oleh petugas jaga. Ketika berada di blok lain pun selama keperluannya jelas (ngopi bareng, ngajar ngaji, dll) cenderung tidak akan dibatasi waktunya. Mungkin karena napiter tidak mungkin bawa narkoba dan bikin keributan.

Berbeda dengan napi kriminal umum, mereka akan digeledah dulu (khawatir bawa narkoba atau benda tajam) dan diberi batasan waktu. Biasanya antara 5-10 menit saja warga blok lain boleh masuk berkunjung ke sebuah blok hunian lainnya. Bahkan tekadang ada petugas yang mengawasi kunjungan mereka itu.

Para napiter juga masih diberi kesempatan di luar sel sampai selesai menunaikan salat Isya, sedangkan napi umum sudah dimasukkan sel sejak habis maghrib. Bahkan yang non muslim sejak jam 5 sore sudah masuk sel.

Tempat kunjungan keluarga yang besuk pun kami disediakan tempat khusus dengan penyekat sederhana, agar keluarga atau tamu kami tidak bercampur dengan pembesuk napi umum.

Dulu di awal kedatangan saya, pernah ada petugas jaga gerbang yang menjadi satu-satunya akses menuju masjid, di mana sebenarnya warga binaan napi umum di blok kami hanya boleh salat berjamaah di musala blok. Ke masjid hanya pas salat Jumat dan Tarawih saja.

Waktu itu saya diminta kembali ke blok dan menjelaskan alasan di atas. Saya menurut dan tidak membantah dengan menunjukkan status saya sebagai napiter. Tapi segera setelah itu komandan regu pengamanan memintanya agar meminta maaf kepada saya karena ia tidak tahu bahwa saya adalah napiter yang memang diijinkan untuk shalat di masjid di setiap waktu salat.

Petugas yang minta maaf itu jadi baik banget sama saya sampai hari ini. Di media sosial saya masih saling berbalas komentar dengannya.

Saya pribadi kadang merasa tidak nyaman dengan previllege seperti itu. Tapi saya kemudian mencoba memanfaatkan previllege itu untuk menghasilkan kemanfaatan bagi napi yang lain. Misalnya : karena napiter dikeluarkan lebh pagi dari napi umum, maka saya berinisiatif untuk menyapu ruangan selasar, menyirami tanaman, memanaskan air di alat pemanas, sebelum napi umum keluar. Sehingga ketika mereka keluar sudah bersih dan air panas sudah tersedia.

Nah, ketika sudah bebas pun para mantan napiter seringkali masih mendapatkan previllege seperti itu meskipun dalam bentuk lain. Misalnya : pengurusan SIM gratis, pengurusan dokumen kependudukan yang dipermudah, mendapatkan bantuan modal dari pemerintah, dikunjungi para pejabat keamanan dan pemerintahan, dll.

Bahkan di suatu daerah ada yang sampai diberangkatkan umrah lho. Hal-hal seperti itulah yang terkadang menimbulkan kecemburuan sosial bagi sebagian kalangan masyarakat.

(Bersambung)

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like