garil-arnandha-ali-imron-ruangobrol

Garil Arnandha, Anak Korban Bom Bali I, Merasakan Ketulusan Ali Imron

By

Garil Arnandha masih berusia 10 tahun ketika ayahnya, Aris Munandar yang berprofesi sebagai sopir menjadi salah satu dari 202 korban meninggal dunia dalam peristiwa Bom Bali I pada Oktober 2002.

Saat kejadian, ayahnya tengah menunggu penumpang di depan Sari Club, lokasi bom seberat 1,1 ton yang diledakkan Ali Imron, Amrozi, Imam Samudra, dan Ali Ghufron alias Mukhlas. Ayahnya meninggal seketika dengan tubuh gosong dan tetap dalam posisi memeluk stir mobil dan kaki menekuk.

Ibu Garil sedang sakit saat kejadian itu. Tak bisa berjalan. Praktis Garillah yang pertama melihat jenazah Aris usai polisi berhasil mengidentifikasi identitasnya. Pengalaman itu membekas menjadi trauma bertahun-tahun dalam diri Garil. Ia tak berani melihat nama ayahnya di monumen korban, di Legian, tiap peringatan Bom Bali I dan memilih mengurung diri di kamar sambil menangis.

Hari demi hari, tahun demi tahun, Garil terus memendam satu pertanyaan dalam benaknya, “Mengapa sampai bisa otak manusia berpikiran seperti itu, melakukan serangan dengan membunuh ratusan orang?”.

Pertanyaan tersebut ingin ia sampaikan langsung kepada pelaku Bom Bali I. Dari empat pelaku, hanya Ali Imron yang tersisa. Tiga lainnya sudah dieksekusi mati pada 2008.

Garil dengan difasilitasi BNPT dan Polri, akhirnya bisa bertemu dengan Ali Imron pada peringatan 17 tahun Bom Bali I. Usia Garil kini sudah 27 tahun dan ingin membuang semua traumanya, yakni dengan mengungkap pertanyaan yang telah disimpannya bertahun-tahun.

Kisah pertemuan Garil dan Ali Imron pertama kali diberitakan BBC Indonesia.

Menurut berita BBC Indonesia, Garil bertemu Ali Imron di salah satu ruangan di Polda Metro Jaya, Jakarta. Ia didampingi ibunya. Ia langsung menceritakan kisahnya dan mengajukan pertanyaan kepada Ali Imron.

“Saya masih kecil, saya melihat bapak kandung saya dalam keadaan seperti itu…Hati saya hancur ketika itu. Tulang punggung keluarga saya, membesarkan saya, Bapak bisa bayangkan kalau Bapak jadi saya, dengan keadaan ibu tak bisa jalan, tak ada kerjaan. Adik masih bayi. Saya masih bocah,” kata Garil.

Garil lalu mengatakan keluarganya harus tinggal berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain karena tak punya rumah. Kini ia mengaku tinggal di kos-kosan.

“Yang saya tak habis pikir, atas dasar apa pelaku ini melakukan seperti ini, yang katanya Islam, Islam mana yang membunuh saudaranya sendiri,” kata Garil.

Ali Imron hanya bisa tertunduk mendengar ucapan Garil.

“Saya sedih ada pembunuh yang bilang dia Islam,” tambah Garil lagi.

Ali Imron akhirnya buka suara. Ia mengaku menjadi orang yang bertugas mencari lokasi pengeboman sesuai arahan Imam Samudra. Sari Club menjadi pilihan karena banyak orang asing di situ.

Ali Imron menyatakan saat itu dirinya sempat ragu dengan tindakannya. Namun ia tetap melakukannya karena dalam organisasinya, Jamaah Islamiyah, harus taat pada perintah. Keraguannya tetap ada tatkala mendengar suara ledakan bom.

“Begitu Amrozi ketangkap sebelum satu bulan, keyakinan saya bahwa jihad ini salah semakin besar,” tambahnya lagi.

Pria asal Lamongan, Jawa Timur tersebut kemudian menyatakan menyadari kesalahannya tak mungkin bisa ditebus oleh apapun dan itu membuatnya tersiksa. Hanya maaf dari keluarga korban yang ia harapkan.

Ali Imron mengaku permintaan maafnya kepada kelurga korban sudah dilakukan sejak melihat foto-foto korban. Sikap ini membuatnya dikucilkan di organisasinya dan sempat dihalalkan darahnya oleh anggota lainnya.

“Saya hanya bisa berdoa, almarhum diberi nikmat Allah di alam barzah, saya yakin, karena almarhum meninggal dalam keadaan terzalimi karena perbuatan kami … dalam hadis dikatakan barang siapa yang meninggal karena kezaliman maka mati syahid. Itu pun saya berdoa kepada korban yang lain saya berdoa secara umum,” kata Ali Imron kepada Garil dan ibunya, Endang Isnanik.

Pertemuan ini berakhir dengan air mata Garil, Endang dan Ali Imron. Garil Arnandha dan Ali Imron sempat berpelukan. Ali Imron tetap berulangkali meminta maaf setelahnya. Sementara Garil menyatakan lega bisa mengungkapkan unek-uneknya selama 17 tahun ke belakang.

“Saya curahkan semua, yang penting sih dia sudah mengakui kesalahannya dan tobat yang benar-benar tobat hubungan dia dengan Allah. Saya merasakan ketulusan dia. Dia sudah minta maaf,” ujar Garil Arnandha.

Sumber Foto: BBC Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like