Azadeh-moaveni-nur-dhania-ruangobrol

Perjalanan Awal ke Negeri Bavaria (1)

By

Suatu hari, Pak Arif Budi Setyawan (penulis buku Internetistan) berpesan, “rezeki tidak selalu berupa harta. Bertambahnya ilmu, kawan-kawan baik, dan pengalaman dari kegagalan juga termasuk rezeki.” Terkadang kita tidak merasakan hal itu padahal rezeki atau nikmat yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya bentuknya bermacam-macam. Ada nikmat iman, petunjuk, nafas, pelajaran hidup, harta benda, makanan, teman yang baik, dan lain-lain. Dan sering datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Dalam surat At-Talaq ayat 3, Allah mengatakan bahwa Ia menurunkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Hidup di sebuah kamp pengungsian akibat ulah tangan sendiri tentu merupakan mimpi buruk. Siapa yang mau tinggal di bawah tenda beralaskan pasir, badai pasir, toilet yang kotor, dan tak ada sekolah? Seperti tak ada harapan untuk ke depannya akan seperti apa. Sesekali wartawan, aktivis, penulis datang berkunjung untuk meliput berita dan mengetahui beberapa cerita dari para pengungsi. Pekan demi pekan kami lewati, tanpa ada kabar kapankah kepulangan itu datang?

Setelah beberapa pekan kami didatangi wartawan atau media, sore itu May (perempuan suriah yang kabur dari ISIS) datang ke tenda kami sambil membawa seorang perempuan memakai kerudung dengan selendang yang hanya menutup sedikit rambut. Ternyata beliau adalah seorang penulis asal Inggris, namanya Azadeh Moaveni. Kami bercerita sebagaimana biasanya. Kenapa ke Suriah, apa yang ditemui, dan kenapa kabur. Azadeh mencatat dengan sangat baik di bukunya. Keesokan harinya, dia datang lagi ke tenda kami dan menunjukan satu berita berbahasa inggris tentang kami di internet. Dia sangat ramah dan juga berkenan menolong untuk menghubungi keluarga kami yang ada di Indonesia. Hal itu terjadi antara Juni-Agustus 2017. Saya rasa, itu akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir saya dengan Azadeh.

Selama di kamp, saya dan keluarga saya mencatat nomor kontak dan email orang-orang yang telah datang untuk mewawancarai kami.

12 Agustus 2017, mendaratlah kami di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Indonesia. Alhamdulillahi rabbil ’alamiin, atas izin dan pertolongan Allah kemudian bantuan dari pemerintah dan CSO, kami bisa sampai ke pangkuan ibu pertiwi.

Bulan demi bulan kami jalani, saya bisa mengakses internet kembali. Saya masih menyimpan nomor kontak, akun medsos, dan email para wartawan dan penulis di buku kecil yang saya beli di kota Raqqah. Saya mencoba ketik nama-nama mereka satu persatu di beberapa platform media sosial. Saya mulai mengikuti akun-akun mereka di twitter. Tapi, Azadeh yang paling aktif di Twitter.

Pada maret 2018, saya bertemu dengan penulis buku If the Ocean were Ink bernama Carla Power. Carla memberikan buku tersebut ke saya. Ketika saya memeriksa bagian belakang buku, tepatnya bagian review orang lain, saya menemukan nama Azadeh disitu. Saya langsung bercerita ke Carla bagaimana saya kenal dengan Azadeh. Carla sampai bilang, “Dunia begitu kecil, ya.”

Saatnya kita loncat ke 2019, Azadeh meluncurkan buku barunya yang berjudul Guest House for Young Widows: Among the Women of ISIS. Saya sangat senang ketika mengetahui berita tersebut, dan mencoba mencari akses menyapanya dan agar pesan saya bisa dibalas. Akhirnya saya memutuskan untuk menghubunginya via email.

Dalam email tersebut saya memperkenalkan diri untuk mengingatkannya kembali, mengabarinya bahwa saya akhirnya bisa pulang ke Indonesia pada 2017, memberikan selamat atas peluncuruan buku, menanyakannya apakah ada cerita kami di bukunya, aktivitas yang saya lakukan sekarang, dan harapan dapat bertemu lagi suatu hari nanti.

Beberapa hari kemudian, saya mendapatkan balasan darinya. Dia juga begitu senang bisa mendengar kabar dari saya, dan dia juga memasukkan sedikit cerita saya dan keluarga. Penulis buku Lipstick Jihad ini berencana akan mengirimkan buku terbarunya kepada saya.

Suatu malam di November 2019, ada seseorang yang menghubungi saya lewat Whatsapp. Saya agak parno karena nomornya bukan nomor Indonesia. Ketika saya lihat foto profilnya, saya belum ngeh (ini cewek siapa, ya?). Sampai akhirnya dia memperkenalkan diri. Jujur, saya shock banget. Benar-benar tidak menyangka bisa kontak-kontakan lagi dengan dia. Saat itu dia langsung mengutarakan maksud dan tujuannya menghubungi saya. Ia ingin mengundang saya ke sebuah event di kota Munich, Jerman, pada Februari 2020. Perasaan saya campur aduk saat itu. Antara kaget, senang, enggak mungkin ke luar negri, dan lain-lain. Saya langsung mengabari beberapa rekan kerja perihal ini.

Undangannya menurut saya bukanlah hal yang mudah. Karena ada banyak urusan administrasi yang harus ditempuh. Saya pun menjelaskan ke Azadeh Moaveni segala keadaan saya saat ini. Saya juga sangat berharap ada undangan resmi. Alhamdulillah, dia sangat mengerti. Dari situ, saya mulai mengabarkan hal ini ke institusi pemerintah.

Satu bulan kemudian, Azadeh menanyakan kegiatan-kegiatan yang saya lakukan saat ini. Saya menuliskan sedikit pengalaman saya dulu, status saya, perjuangan saya, dan keluarga yang bangkit dari nol, sampai kegiatan bersama anak-anak muda dalam membangun narasi perdamaian, dan menghadapi orang-orang yang terpapar paham ektrimisme kekerasan.

Saya dan Azadeh Moaveni mulai intens bercakap-cakap via WhatsApp. Dia menanyakan, apakah mungkin kalau undangan resminya dari Kedutaan Inggris dan Jerman?. Tentu saja, kata saya.

Beberapa minggu lamanya saya menunggu undangan tersebut. Kayaknya enggak jadi. Ya sudahlah, kalau memang belum waktunya saya belajar untuk menerima dengan lapang dada.

Malam hari di pertengan Januari 2020, saya mendapat notifikasi email. Ketika saya buka ternyata undangan resmi dari Kedutaan Inggris di Berlin. Keesokan harinya saya mengabari rekan kerja, dan beberapa instansi pemerintahan.

Waktunya sangat mepet, karena event akan dilaksanakan pada tanggal 14 Februari. Saya sempat pesimis tidak akan berangkat. Alhamdulillah, keluarga, teman-teman, dan pemerintah terus support. Kerabat saya juga mengingatkan, apabila sudah berusaha semaksimal mungkin plus berdoa namun belum dapat, jangan terlalu sedih. Artinya Allah memang belum mengizinkannya. Kerabat saya mengingatkan saya akan ayat ini, “Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Al-Hadid: 22-23).

Saya juga sempat dikontak oleh pihak kedutaan dan Azadeh Moaveni, jika di tanggal tertentu urusan administrasi atau surat-surat penting perjalanan belum bisa didapat saya tidak akan berangkat. Atas izin dan pertolongan Allah kemudian bantuan instansi pemerintah, akhirnya saya dapatkan. Visa saja baru jadi di hari yang sama dengan keberangkatan saya. Tanggal 12 februari pada jam 11 pagi saya dan mas Hakiim (Direktur Kreasi Prasasti Perdamaian) baru dapat visa, sedangkan jam 7 malam berangkat.

Pada tanggal 13 Februari, saya dapat menapakkan kaki di kota Munchen. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Malam harinya, saya pun dapat bertatap muka sekaligus berpelukan dengan Azadeh Moaveni. Subhanallah. Bisa ngobrol kembali, ngobrol tentang perempuan dan perdamaian, sampai satu panel diskusi. Saya enggak pernah kepikiran dan menyangka, Allah mempertemukan saya kembali dengannya. Beberapa kali kami membahas bagaimana dulu kami dipertemukan di sebuah tempat yang cukup menyedihkan.

Terimakasih ya Allah. Semoga semua ini jadi pelajaran yang penuh berkah dan dapat membantu banyak orang.

Perjalanan ketika di Munich, dan orang-orang yang saya temui di sana akan saya bahas di tulisan selanjutnya. Insya Allah.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like