nasidaria-nasida-ria-ruangobrol

Yang Fana Adalah Waktu, Nasida Ria Abadi

By

Sekumpulan ibu-ibu berpakaian terusan dan berjilbab naik ke panggung Synchronize Fest 2018. Disambut teriakan orang-orang yang berkumpul di depan panggung. Sementara yang lain bersiap dengan alat musik, salah seorang dari mereka maju ke depan meraih mikrofon. “Selamat sore, Sayaaaaang,” serunya, dengan nada seorang ibu yang sedang memberi nasihat kepada anaknya. “Selamat berjumpa lagi dengan kami, grup kasidah modern Nasida Ria.”

Namanya Rin Jamain. Ia adalah vokalis dari grup itu. Sudah 44 tahun ia bergabung di grup Nasida Ria sejak didirikan pada 1975 oleh Hj Mudrika Zain dan H. Muhammad Zain, di Semarang. Saat pertama bergabung dengan Nasida Ria, Rin baru saja mencapai akil balig. Kini, usianya sudah lewat setengah abad. Namun, suaranya tetap meredu.

Sore itu, Rin bersama Nasida Ria hanya membawakan tiga lagu: “Perdamaian”, “Wajah Ayu Untuk Siapa” dan “Kota Santri”. Azan Magrib yang berkumandang di kejauhan menjadi pertanda akhir penampilan mereka.

“Seharusnya kami tampil lebih awal. Tapi karena band sebelumnya molor, jadi kami telat. Sekarang sudah Magrib. Kami harus selesai. Maaf ya, Sayang,” kata Rin sebelum menyanyikan lagu terakhir, disambut kekecewaan penonton yang masih menginginkan mereka membawakan lebih banyak lagu.

Sebagai grup kasidah modern, Nasida Ria memiliki akar musik samrah, sebuah genre musik asli Timur Tengah. Menurut Andrew Weintraub dalam bukunya, Dangdut: Musik, Identitas dan Budaya Indonesia, secara bahasa samrah berarti pertunjukan malam. Merujuk kepada pertunjukan samrah yang selalu dilakukan di malam hari sebagai hiburan di kedai-kedai makanan orang Arab untuk menghibur para kafilah yang singgah.

Samrah masuk ke Indonesia beriringan dengan masuknya sudagar Arab. Di daerah pesisir Indonesia, pada awal mula masuk, Samrah menjadi hiburan kaum hadrami di malam hari. Bentuk musik samrah asli adalah menggunakan instrumen gambus, arkodeon, rebana, seruling dengan penyanyi seorang wanita yang biasanya merangkap menari perut.

Dalam perkembangannya, Samrah mengalami perubahan. Lagu-lagu yang dimainkan bukan melulu tentang kisah cinta, melainkan lebih banyak puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan pesan-pesan islami. Ini terjadi mengingat segala yang berbau Arab dianggap sebagai bagian budaya Islam. Pun penyanyi perempuan tak lagi melakukan tari perut.

Secara instrumen, samrah mengalami pembauran dengan musik modern diatonis ala Barat dan musik tradisional pentatonis asli Nusantara. Gitar elektrik, organ dan gendang ditambahkan. Maka, jadilah irama yang sepintas mirip Dangdut, bernada Timur Tengah dan harmoni musik modern melalui distorsi dan tuts organ.

Begitulah warna Nasida Ria yang hingga kini tetap terjaga oleh seluruh personilnya yang wanita.

Melawan Tabu Wanita Bermusik

Sebagian besar ulama Islam menganggap suara wanita sebagai aurat. Maka, wanita menyanyi dalam Islam teramat tabu karena dianggap secara sengaja menampilkan aurat ke muka publik.

Begitupun sebagian ulama Islam menganggap musik haram. Maka, wanita Islam bermusik dianggap melakukan dosa ganda.

Akan tetapi, hal itu tak menyurutkan grup Nasida Ria untuk berkarya. Karena rupanya ada pula ulama yang memang menghalalkan musik. Salah satunya adalah ulama terkemuka Imam Ghazali, seperti termaktub dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin. Ghazali menyatakan tak menemukan satupun nash yang mengharamkah musik. Oleh karena itu, secara otomatis hukum musik haram gugur. Pria dan wanita Islam boleh bermusik.

Keberanian Nasida Ria bermusik ini telah menjadi simbol bahwa wanita bukan kelas kedua dalam kehidupan manusia. Wanita juga bisa berkarya dan terlibat aktif dalam kehidupan. Bahwa musik bukan milik para pria. Dan mereka membuktikannya dengan bermain musik secara anggun dan berkualitas. Terbukti dengan munculnya banyak grup kasidah modern setelah mereka, salah satunya grup kasidah Ampel, Surabaya.

Para personel Nasida Ria bukan amatiran, mereka memiliki kemampuan musik mumpuni. Permainan panggung mereka bersih, nyaris tanpa kesalahan. Dalam panggung Synchronize Fest misalnya, mereka bahkan tak ragu menampilkan kemampuan solo instrumen kepada penonton.

Rahasia kepiawaian ini, menurut Rin Jamain kepada saya usai penampilan di Synchronized Fest, adalah karena latihan yang keras dan rutin. Menurutnya, dua pendiri Nasida Ria sengaja mendatangkan guru musik berkualitas untuk melatih memainkan instrumen.

“Jadi dulu setelah mengaji, kami latihan memainkan instrumen musik,” kata Rin yang namanya mirip penyanyi jazz legendaris Indonesia, Rien Djamain.

Mereka pun sampai sekarang memiliki jadwal latihan mingguan yang tak pernah terlewatkan. Ia menyatakan, personel yang tak tertib atau tak mampu berkomitmen dengan grup diminta keluar dari Nasida Ria. Biasanya, menurut Rin, komitmen mulai luntur tatkala personel telah berkeluarga.

“Kan susah membagi tugas jadi ibu dan pemusik,” katanya.

Tangkas Memotret Fenomena Sosial

Menjelang Ramadan 2004, grup band GIGI merilis album religi. Salah satu hits dalam album itu, adalah lagu “Perdamaian”.

Perdamaian, perdamaian

Perdamaian, perdamaian

Perdamaian, perdamaian

Banyak yang cinta damai

tapi perang makin ramai

Banyak yang cinta damai

tapi perang makin ramai

Bingung-bingung kumemikirnya

Begitulah cuplikan lirik lagu yang kemudian dipandang identik dengan GIGI. Sesungguhnya, lagu itu adalah ciptaan  Kiai A. Buchori Masruri alias Abu Ali Haidar. Ia menciptakan lagu itu untuk Nasida Ria dan rilis pertama kali pada 1982.

Lagu “Perdamaian” membawa pesan pentingnya menciptakan perdamaian di dunia. Pasalnya saat itu, dunia tengah dalam kondisi Perang Dingin yang kemudian diikuti dengan Perang Teluk I antara Irak melawan Kuwait.

Berkat lagu itu, Nasida Ria kemudian dikenal sebagai grup musik yang tangkas memotret fenomena sosial dalam berbagai aspek melalui lagu-lagu mereka, terutama ciptaan Abu Ali Haidar. Dan memang kenyataannya begitu.

Nasida Ria konsisten bicara tentang pentingnya perdamaian melalui lagu “Bom Nuklir” dan “Damailah Palestina”. Bicara tentang Hak Asasi Manusia (HAM) melalui lagu berjudul “HAM, HAM, HAM”. Bicara tentang demokrasi melalui lagu berjudul “Demokrasi”.

Mereka tak luput melakukan pembelaan terhadap kaumnya: perempuan. Khususnya menyoroti diksriminasi kepada perempuan. Di antaranya melalui lagu “Jangan Main Cerai”, “Wajah Ayu Untuk Siapa”, dan “Jilbab Putih”.

Yang terakhir disebut tercipta saat Orde Baru membuat peraturan diskriminatif terhadap perempuan berjilbab di instansi pemerintahan. Dengan menunjukkan keindahan wanita berjilbab, Nasida Ria mengajak pemangku kepentingan untuk turut menghentikan diskriminasi kepada wanita berjilbab.
Seperti cuplikan liriknya berikut:

Jilbab-jilbab putih

Lambang kesucian

Lembut hati

Penuh kasih

Teguh pendirian

Ketangkasan Nasida Ria dalam memotret fenomena sosial, membuatnya pandai memprediksi laju zaman. Terbukti dengan lagu “Tahun 2000” yang diciptakan satu dekade sebelum memasuki milenium kedua tapi berhasil memotret dengan presisi kehidupan masyarakat selepas tahun 2000.

Tahun dua ribu kerja serbamesin

Berjalan berlari menggunakan mesin

Manusia tidur berkawan mesin

Makan dan minum dilayani mesin

Satu hal yang benar-benar kita rasakan hari ini. Kita tidur berkawan gawai, mesin komunikasi hasil inovasi era milenium kedua.

Abu Ali Haidar telah wafat pada 2018. Namun, Nasida Ria tak berhenti menciptakan lagu yang memotret fenomena sosial. Dalam album mutakhir mereka bertajuk Nasida Ria Reborn, mereka merilis lagu berjudul Racun Transparan yang memotret fenomena media sosial.

Tahun ini, Nasida Ria akan berusia 45 tahun. Namun tak ada tanda mereka akan berhenti berkarya. Sebaliknya, mereka terus menunjukkan relevansinya dengan zaman. Salah satunya dengan membuka rekruitmen anggota baru sebagai langkah regenerasi. Membuat mereka menjadi satu-satunya grup musik di Indonesia yang melakukan kaderisasi.

Zaman berganti, Nasida Ria abadi.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like