3 Pesebakbola Korban Rasisme

By

Kampanye keberagaman terus berjalan, tapi rasisme tetap menjadi hantu bagi persaudaraan antarmanusia. Tak terkecuali di lapangan sepakbola yang konon menjadi olahraga sejuta umat dan meleburkan sekat batas ideologi dan ras. Tercatat sejumlah pemain bola top dunia pernah mengalami perlakuan rasis di dalam lapangan. Berikut daftarnya:

1. Paul Pogba

Paul Pogba adalah pesepakbola asal Prancis. Ia menjadi salah satu wonder kid saat mengawali kariernya di dunia sepakbola. Saat ini, ia merumput bersama Setan Merah, Manchester United (MU). Sebelum di MU, Pogba sempat membela tim elite Italia, Juventus.

Kepindahan Pogba ke MU pada 2016 menjadikannya pemain termahal saat itu dengan angka transfer sebesar Rp1,5 triliun atau 89 juta poundsterling. Delapan puluh kali lebih besar ketimbang saat Juventus memboyong Pogba dari MU pada 2012.

Tahun lalu, Pogba mengalami tindakan rasis dari pendukung Setan Merah. Hal ini terjadi usai ia gagal mengonversi tendangan penalti menjadi gol ke gawang Wolverhampton Wanderers. Pendukung MU di media sosial melecehkan warna kulitnya dan menyebutnya kera yang tak pantas main bola untuk meluapkan kekecewaannya.

Tindakan tersebut membuat Pogba, punggawa MU lain, dan manajemen MU meradang. Mereka menganggap sikap pendukung MU tak beradab. Kecewa boleh, tapi tidak dengan rasisme.

Penyerang MU, Marcus Rashford melalui akun twitter pribadinya meminta kepada Twitter agar menghentikan akun-akun pengujar rasisme.

“Cukup, ini harus berhenti @Twitter,” tulis Rashford melalui akun resmi pribadinya.

“Manchester United adalah keluarga. @paulpogba adalah bagian dari keluarga tersebut. Anda menyerang dirinya, berarti Anda menyerang kami semua… @ManUtd.”

2. Tammy Abraham

Penyerang Chelsea ini mendapat perlakuan rasis usai gagal mengonversi penalti menjadi gol ke gawang Liverpool dalam laga Piala Super Eropa pada 15 Agustus 2019. Hasilnya, Chelse kalah adu tendangan penalti dengan skor 4-5.

Pendukung Chelsea yang kecewa pada Abraham mengekspresikannya dalam bentuk rasisme di media sosial. Kasus ini pun menjadi viral di media sosial dan sampai terbaca ibu dari penyerang yang besar di akademi Chelsea ini.

Abraham, kepada CNN Internasional menyatakan, ibunya menangis saat mengetahui tindakan rasisme terhadap dirinya. “Aku ingat ketika bicara dengan ibu, dia begitu emosional, dia berurai air mata,” jelas Abraham.

“Dia hanya berpikir, ‘kenapa dia.’ Itu jelas tidak menyenangkan, melihat putranya mendapat pelecehan.”

Meskipun begitu, Abraham mengaku tetap kuat menahan rasisme kepada dirinya dan tak akan menyerah dalam kariernya sebagai pesepakbola.

“Bagiku, aku adalah karakter yang kuat. Itu tidak terlalu memengaruhiku, tapi tentu memengaruhi orang-orang yang tidak punya pribadi sepertiku,” kata Abraham.

Terbukti, sampai saat ini Abraham menjadi striker andalan Chelsea. Ia rajin bikin gol bagi kemenangan tim yang bermarkas di Stanford Bridge itu.

3. Mario Balotelli

Mario Balotelli terkenal sebagai pemain bengal. Setidaknya bagi Roberto Mancini, mantan pelatih Manchester City, tim yang pernah dibela Balotelli pada musim 2010-2013.

Pemain berjuluk Super Mario ini memang kerap melakukan hal kontroversial. Salah satunya menginjak wajah Scott Parker, pemain Tottenham Hotspur, saat ia masih membela The Citizen. Tak pelak, ia mendapat skorsing dari FA, asosiasi sepakbola Inggris.

Balotelli akhirnya hengkang dari City. Ia sempat pindah ke sejumlah klub besar, sebelum akhirnya sekarang membela Brescia di Serie-A Italia.

Meskipun Balotelli dikenal bengal, tetap saja tak bisa dibenarkan untuk mendapat tindakan rasis. Hal ini dialami Super Mario pada 6 Januari 2020 ketika laga Brescia melawan raksasa ibu kota, SS Lazio.

Sebelum kejadian itu, Balotelli telah berulangkali mendapat perlakuan rasisme. Saat masih berusia 19 tahun, Balotelli pernah membela Inter Milan. Dalam satu pertandingan melawan Juventus pada 2009, ia mencetak gol. Membawa Inter Milan unggul.

Gol itu ditanggapi para Juventini, pendukung Juventus, dengan chant rasis. Mereka sepanjang laga meneriakkan “tak ada orang Italia berkulit hitam.” Ini merujuk pada asal usul Balotelli sebagai kelahiran Italia tapi berdarah Ghana.

Terkait rasisme yang menimpa dirinya, Balotelli menyatakan perlawanan. Ia tak segan melawan balik kepada pembencinya.

“Jika orang-orang tidak rasis, maka tidak akan ada masalah. Saya dibesarkan dengan cara tertentu, Ketika saya melakukan sesuatu di lapangan, dan saya melihat orang-orang bangga, maka pada saat itulah saya merasa menjadi pesepakbola,” kata Balotelli kepada majalah four-four two.

Masih banyak catatan rasisme kepada pemain sepakbola. Kelompok anti-diskriminasi dalam sepakbola, Kick It Out, menilai diskriminasi dan rasialisme melalui media sosial sudah tak terkendali. Terbukti dari laporan yang mereka rilis pada Juli lalu.

Jumlah aksi rasialisme di Inggris meningkat sebanyak 43% jika dibandingkan dengan musim 2017/18 (192 naik menjadi 274 kasus). Sebanyak 159 laporan di antaranya melalui media sosial.

Itu baru di Inggris, belum di negara lain, termasuk Indonesia yang kurang menjadi sorotan dan masih mempunyai iklim sepakbola buruk.

Pertanyaannya kemudian, mau sampai kapan ini terjadi?

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like