Pesan Terakhir Gus Sholah untuk NU

By

Minggu malam kabar duka itu datang. Pukul 20.55, KH Sholahudin Wahid atau karib disapa Gus Sholah wafat pada usia 77 tahun. Menyusul kakaknya, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang lebih dulu mangkat pada 2009.

Mewarisi darah KH Abdul Wahid Hasyim yang konsisten memperjuangkan Nahdlatul Ulama (NU) dan Indonesia, Gus Sholah menjalani langkah pedang itu juga. Membuat lulusan arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjadi teknokrat cum agamawan cum negarawan.

Sisi agamawannya dijalani di NU dan Pesantren Tebuireng. Ia adalah salah satu kiai besar NU dan pernah menjabat sebagai salah satu syuriah PBNU.  Ia pun beberapa tahun ke belakang mengasuh Pesantren Tebuireng, pesantren yang didirikan kakeknya, KH Hasyim Asyari  (pendiri NU) dan salah satu pesantren tertua di Jawa.

Sisi negarawannya ditempa melalui jalur politik. Ia pernah menjadi Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU) pada 1999, anggota MPR pada 1999, wakil ketua Komnas HAM pada 2002, dan cawapres pada 2004. Gus Sholah juga aktif mengungkap gagasannya tentang Islam, politik dan negara melalui kolomnya di pelbagai media.

Sebagai tokoh NU, Gus Sholah terkenal kritis pada organisasi itu. Salah satunya termuat dalam tulisan terakhirnya yang terbit di Harian Kompas pada 27 Januari lalu atau seminggu sebelum kematiannya. Tulisan yang kiranya menjadi pesan terakhirnya untuk NU.

Dalam tulisan berjudul Refleksi 94 Tahun NU itu, Gus Sholah berpesan agar NU kembali ke khitah 1926 sebagai organisasi sosial dan keagamaan. Tidak melulu bicara dan bergerak dalam bingkai politik praktis yang menurutnya mengesampingkan kerja-kerja sosial dan keagamaan NU.

“NU sebaiknya tidak terlibat dalam politik praktis dan tetap berada di wilayah masyarakat madani. Sikap istikamah dan konsisten bergiat membuat NU bermartabat dan efektif menjadi jangkar bangsa Indonesia,” tulis Gus Sholah di bagian akhir tulisannya.

Gus Sholah mengelaborasikan pendapatnya berdasar pada fakta sejarah perkembangan NU. Dari berdiri sebagai organisasi masyarakat keagamaan, pernah menjadi parpol antara 1952-1984, dan kembali lagi menjadi organisasi masyarakat keagamaan.

Seluruh proses tersebut, menurut Gus Sholah, mempengaruhi model kepemimpinan di NU saat ini. Menurutnya, saat ini elite struktural NU cenderung bersikap politik praktis. Jauh dari kehendak khitah yang menjadi hasil Muktamar NU 1984.

Menurut Gus Sholah, dalam khitah 1926 perkara politik tertuang dalam butir kedelapan.

“Perhatian masyarakat terutama pada butir delapan tentang NU dan kehidupan bernegara. Di dalamnya terkandung banyak alinea, tetapi fokus masyarakat hanya pada alinea kelima yang isinya adalah: ”NU sebagai jam’iyah secara organisatoris tidak terikat dengan organisasi politik dan organisasi kemasyarakatan mana pun . Setiap warga NU adalah warga negara dengan hak politik dan dilindungi undang-undang”.”, tulis Gus Sholah.

Itu pun, kata Gus Sholah, tak dimaknai secara benar. Menurutnya, bukannya nahdliyin berada di mana-mana seperti dikatakan KH As’ad Syamsul Arifin, tapi cenderung diarahkan ke partai tertentu.

“Dalam kenyataan, organisasi NU pergi ke (ikut) satu partai (PKB). Bahkan, sedikit atau banyak ada campur tangan partai terhadap struktur NU,” tulis Gus Sholah.

Selain itu, Gus Sholah pun mengkritisi sikap elite NU yang sempat ngambek lantaran tak ada orang PBNU jadi menteri Jokowi. Menurutnya sikap itu, “kurang elok.”

Kritiknya yang lain, adalah mengenai pandangan elite PBNU bahwa “Khitah NU dalam masalah politik bersifat situasional dan kondisional.” Pandangan yang diikuti justifikasi bahwa NU juga berkepentingan dengan kekuasaan, bukan hanya kebenaran.

Mengenai hal ini, Gus Sholah menulis:  “Pengalaman sejarah membuktikan bahwa karena organisasi NU memberi perhatian utama pada masalah politik, maka kegiatan organisasi dalam amal usaha (kegiatan pendidikan, sosial, kesehatan dan ekonomi) terabaikan.”

Gus Sholah pun mengusulkan perkara pandangan elite PBNU harus dibahas di Muktamar ke-34 NU mendatang. Karena menurutnya, pandangan itu bisa mempengaruhi masa depan NU–organisasi yang usianya menjelang seabad, bahkan masa depan Indonesia.

Namun, Allah SWT kemarin memanggil Gus Sholah lebih dulu. Ia tak akan bisa mengikuti Muktamar ke-34 NU. Hanya gagasan dan pesan terakhirnya tak akan padam. Gagasan yang menujukkan kualitasnya sebagai agamawan cum negarawan.

Selamat jalan, Gus Sholah. Kami akan merindukanmu.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like