Kalau Semua Sama Repotlah Hidup Kita

By

Setiap orang pasti punya cara sendiri-sendiri untuk mengekspresikan diri. Misalnya saja lewat pilihan pakaian, merek, makanan, tempat ngopi, olahraga, pilihan kendaraan berikut jenisnya maupun pilihan berpenampilan mulai dari gaya rambut atau aksesoris lain.

Pilihan-pilihan itu menjadi semacam ciri khas alias pembeda dari kebanyakan orang. Istilahnya, nggak mau dipandang sama dengan yang lain, ada gengsi tersendiri, kebanggaan ketika merasa “berbeda” dari kebanyakan orang.

Misalnya begini: orang pakai motor custom biar terlihat “unik” tapi tetap gagah dan keren, ketika berada di jalan raya bergumul dengan motor-motor lain tampak pembedanya. Ogah dong mereka disamakan dengan motor-motor lain.

Makanya, kalaupun mereka bergerombol bareng ya yang sama-sama motor custom. Begitu juga misalnya pecinta Vespa, ketika konvoi di jalanan ya dengan yang sesamanya. Seidentik.

Ada beberapa kesamaan dalam kelompok yang membuat mereka merasa lebih dekat. Ada sesuatu yang merekatkan.

Begitupun dengan pergaulan-pergaulan yang lain. Saya kerap melihat hal-hal yang lain. Ada kawan yang rela bersepeda motor luar kota dan rutin dilakukan demi mengikuti pengajian bersama dengan kelompok yang dia ikuti.

Semangatnya luar biasa. Saya agak heran, kenapa harus sampai jauh-jauh, tetapi yang dekat-dekat malah jarang diikuti?

Mungkin ini pula sebagai ekspresi dia, punya pemahaman sendiri, mungkin pula kenyamanan sendiri, sehingga walaupun harus rutin bolak-balik menempuh ratusan kilometer bersepeda motor, tetap saja dilakoni.

Identitas diri memang penting. Orang harus punya ciri agar lebih “berharga”. Seorang siswa yang rela belajar lebih keras pastinya ingin beda dengan teman-temannya satu kelas. Ingin pandai, mendapat peringkat, agar tidak sama dengan teman-temannya yang mungkin prestasinya biasa-biasa saja.

Sebab dari “pabriknya” kita memang diciptakan berbeda, maka penting untuk tetap menjalani sebagaimana wajarnya. Perbedaan adalah keindahan.

Jadi, jangan sampai dari keinginan mencari identitas diri, berkelompok-kelompok, bergaul dengan komunitas tertentu lalu merasa jadi yang paling benar.

Kalau sudah merasa paling benar, maka tidak bakal mau terima masukan, kritik dari sekitarnya, apalagi orang-orang lain yang tidak seirama dengan dia atau mereka.

Inilah yang harus dihindari bersama. Menghargai perbedaan sama saja dengan menjaga keindahan. Sebab kalau semuanya sama repotlah hidup kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like