Israel - Palestina

Israel – Palestina dan Sejarah Islam dalam Muslimgauze

By

Muslimgauze mungkin masih sedikit asing bagi kita apalagi ia mengambil genre musik elektro. Genre musik
electro sendiri sudah lama populer namun hanya dikonsumsi kalangan tertentu seperti DJ dan orang-orang yang suka berkunjung ke diskotik. Tapi siapa sangka ini musik elektro bisa berbicara tentang konflik Israel – Palestina?

Music electro sendiri mulai muncul pada tahun 1980-an di New York dan mulai menyebar ke Jepang dan Eropa barat. Electro muncul dari percampuran genre Hip-hop, rap dan electro pop Jepang dan Jerman. Genre electro kemudian mengalami masa kejayaan pada decade 1980-an dan 1990-an. Genre musik electro dimainkan melalui perantara alat musik drum elektronik yang menghasilkan instrument tinggi dan rendah tanpa vocal, seperti suara “dum-dum” disertai nada tinggi yang sering kita lihat di film atau sinetron yang menampilkan scene di Diskotik.

Kesuksesan genre electro telah memunculkan banyak pembuat lagu electro, salah satunya adalah Bryn Jones(1961-1999). Pria asal Inggris ini menciptakan proyek musik elektro dengan nama panggung Muslimgauze dan merilis lagu electro dari tahun 1982 sampai kematiannya di 1999.

Muslimgauze memfokuskan music mereka tentang sejarah dunia muslim terutama tentang konflik Israel – Palestina. Muslimgauze awalnya dibentuk sebagai perlawanan atas invasi Israel ke Libanon pada 1982. Invasi tersebut nampak menjadi titik balik dimana ia mulai mendukung perjuangan Palestina.

Beberapa album yang dirilisnya nampak seperti sebuah dukungan terhadap Palestina dalam konflik Israel – Palestina seperti, Abu Nidal(1987), The rape of Palestine(1988), Intifaxa(1990), Hamas Arc(1993) dan lain-lain. Muslimgauze juga mengeluarkan album yang berkaitan tentang situasi politik di Timur tengah, seperti Vote Hezbullah(1993), Return Of Black September(1996) dan Uzbekistani Bizzare And Souk(1996).

Sebelum ia tutup usia karena infeksi jamur langka, dia cukup produktif dalam memproduksi album musik Muslimgauze. Album yang diproduksi hanya dirilis secara terbatas dan ekslusif karena menggunakan rumah produksi kecil. Namun dia berhasil melakukan beberapa live performance di Jerman, Jepang, Prancis, Swedia dan Belanda.

Pada bulan April 2014, Vinyl On Demand merilis Chasing the Shadow of Bryn Jones 1983–1988 , sebuah kotak 10 piringan hitam mengatur penerbitan ulang album-album awal yang awalnya dirilis oleh Product Kinematopgraph, Recloose Organisation, dan Edisi Terbatas. Setiap paket termasuk trek bonus yang diambil dari album kompilasi periode. Rilis ini juga disertai dengan biografi yang ditulis oleh Ibrahim Khider berjudul Muslimgauze: Chasing the Shadow of Bryn Jones.

1 Comment
  1. Avatar
    rumbai 2 months ago
    Reply

    Semoga sejarah ini kongkrit dan menjadi ingatan kembali dalam sejarah islam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like