Masyarakat Digital

By

Oleh: Komaruddin Hidayat (Yayasan Pendidikan Madania Indonesia)

Dampak revolusi digital dalam masyarakat dunia jauh lebih dahsyat ketimbang revolusi industri yang terjadi di Eropa pada abad ke-17. Revolusi ini tidak saja mengubah moda kehidupan di semua lini, tetapi juga memunculkan “digital dictatorship” sebagaimana dikemukakan Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus (2017).

Pada era industri aktivitas manusia beralih dari sawah ke pabrik. Lalu muncul revolusi jasa layanan yang berpusat di perkantoran. Sedangkan era jaringan dengan mengandalkan internet, moda hidup dan bisnis berubah drastis, tidak lagi berpusat di ruang perkantoran.

Masing-masing pribadi bisa partisipasi dalam jejaring sosial, terhubung dengan lainnya tanpa batas wilayah, tidak diatur oleh birokrasi dan jam kantor.

Semuanya berubah, mulai dari cara berkomunikasi, belajar, belanja, bekerja, berdagang, bergaul, sampai dengan regulasi perkantoran.

Masyarakat digital (digital society) ini seakan berdiri di luar dan di atas negara, namun sangat berdampak terhadap kinerja sebuah negara. Sekarang muncul cyber crime yang ditakuti dunia perbankan dan kalangan politisi.

Karena sekat ruang dan waktu roboh, maka setiap orang dengan mudah terkoneksi satu-ke-satu, peer-to-peer, dengan mitranya yang entah tinggal di mana.

Ini sebuah “silent revolution” yang membawa perubahan hidup secara radikal pada semua lini tanpa heboh di jalanan dan pertumpahan darah.  Bahkan kehadiran revolusi digital ini disambut dan dirayakan terutama oleh generasi millenial.

Gawai telepon genggam telah menjadi “extended self”, yang memungkinkan orang lain bisa membaca emosi, pikiran dan aktivitasnya  dari waktu ke waktu. Telepon genggam jadi jendela terbuka untuk mengetahui dunia batin seseorang yang dulu dianggap wilayah privat.

Ketika milyaran penduduk bumi saling terhubung, muncul pertanyaan: Kekuatan apa dan milik siapa yang menghubungkan semua ini? Siapa yang paling memperoleh keuntungan dari revolusi komunikasi dan budaya ini?

Bagi para pelajar dan  mahasiswa tentu sangat terbantu untuk memperoleh informasi pengetahuan dengan cepat dan murah. Transaksi bisnis lewat online juga lebih praktis dan mungkin lebih murah ongkosnya.

Orang menonton film yang bagus tidak perlu datang ke gedung bioskop. Mendengarkan ceramah atau kuliah bisa lewat YouTube. Transfer uang cukup melalui e-bank. Dan sekian fasilitas lain yang ditawarkan teknologi digital sehingga secara teknikal hidup lebih mudah dan nyaman dijalani.

Namun di balik itu semua, muncul pertanyaan serius, sadarkah kita bahwa kehidupan kita bisa terancam oleh diktator baru yang disebut “digital dictatorship”? Sebuah kekuatan yang mampu mengarahkan dan mengendalikan selera, pikiran dan tindakan melalui program algoritma yang bekerja melalui gawai kita.

Lebih jauh lagi bahkan Harari mengatakan, otak dan perasaan manusia itu “hackable”. Mudah dibajak dan dikendalikan.  Apa yang mau kita tonton, kita makan, tempat rekreasi yang mau kita kunjungi, jenis pekerjaan yang kita kejar, model pakaian yang kita minati, jenis musik yang kita koleksi dan sekian aktivitas lain tanpa sadar sudah diprogram oleh sistim algoritma yang bekerja secara otomatis yang kemudian mendikte pikiran dan selera kita.

Menarik direnungkan, angka bunuh diri sangat tinggi terjadi di negara yang secara ekonomi dan teknologi sudah sangat maju, misalnya Jepang, Korea Selatan dan Cina.

Mereka yang melakukan bunuh diri itu datang dari keluarga kaya, populer, namun jiwanya rapuh menghadapi turbulensi kehidupan.

Mungkin saja mereka telah menjadi korban dari “digital dictatorship”, ketika kemajuan itu telah mencampakkan nilai dan keyakinan bahwa hidup itu suci dan mulia sebagaimana diajarkan oleh semua agama.

 

ilustrasi: pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like