Galau itu Bahan Bakar

By

Pada suatu tayangan Mata Najwa yang saya tonton di YouTube, penyanyi kenamaan Indonesia Oppie Andaresta menyebut bahan bakar grup musik Slank adalah galau.

Ketika itu, tema acaranya Panggung Slank. Najwa mengundang grup musik asal Gang Potlot Jakarta itu ke acaranya. Oppie adalah salah satu musisi yang diundang pada acara itu, untuk turut memberi komentar tentang perjalanan Slank. Perjalanan panjang grup musik produktif, rajin mengkritisi situasi sosial yang menurut mereka tidak bagus.

Oppie menyebut seperti ini: “Kalau di Potlot, kita nongkrong tapi bukan nongkrong yang kosong, nggak, kita ngobrol, hal-hal yang bikin kita gelisah kita keluarkan bersama-sama dan kita bahas bersama, dan kemudian hasil kegelisahan bersama itu jadi proses kreatif dan jadi lagu”

Lalu Oppie menambahkan “Jadi bahan bakar Slank itu harus tetap gelisah, kalau bahasa anak kekinian itu galau. Supaya ada sumber untuk menulis lagu dan relevan sampai sekarang,” sebut Oppie yang disambung Najwa.

Dari petikan dialog di atas itu, ada pelajaran yang bisa diambil. Galau itu tak selalu negatif, justru dinamika manusia itu ya galau. Galau akan keadaan, lalu memunculkan (meminjam istilah grup musik Netral- kini NTRL) “pertempuran hati”, kemudian dialog yang terjadi di pikiran kita dijadikan sumber energi untuk membuat sesuatu yang bermanfaat. Lagu adalah salah satunya.

Pelajaran selanjutnya adalah interaksi itu sangat penting. Masa muda, biasanya orang sering nongkrong, seperti yang terjadi di Potlot itu. Tapi nongkrong itu nggak kosong, harus interaksi dengan teman-temannya, curhat, unek-unek apa yang mengganggu pikiran dikeluarkan, dikomunikasikan dengan teman, pasti ada semacam feedback yang bisa jadi masukan untuk pribadi kita. Syukur-syukur bisa jadi sebuah karya kreatif.

Selain lagu, tentunya banyak hal yang bisa didapat dari ‘kegalauan itu”. Galau lalu akhirnya menulis puisi, syair yang indah, membuat artikel atau semacamnya, minimal energi galau kita tersalurkan. Bukan cuma galau kosong, lalu menyendiri, berinteraksi dengan dunia maya yang mungkin kita tidak tahu siapa di baliknya.

Ada kawan yang saya pikir galau terus tiap harinya. Tapi kegalauannya, yang saya tahu, hanya dituliskannya di status WA saja. Mungkin lebih dari 3 kali sehari ditulisnya. Isinya seputar unek-unek hidup, soal kantong kering, dan yang paling sering kerap menyalahkan situasi, kerap menyalahkan pemerintahan saja tak ada solusi.

Itu memang haknya ya, privasi, tapi kalau sudah begitu terus-menerus tanpa tindakan, tanpa solusi, energinya hanya habis untuk menyalahkan situasi saja. Mungkin lupa filosofi bulu ketek “dalam keadaan terjepit pun, kita harus tetap tumbuh”. Tentunya tumbuhlah bermanfaat bagi sekitarnya, bukan malah membuat kerusakan di sana-sini.

 

Foto Ruangobrol/Eka Setiawan

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like