Hoax

Hoax untuk Kebaikan?

nurdhania
nurdhania
3 Min Read

Ada yang pernah mendengar Hoax untuk kebaikan? Sobat ngobrol pernah gak dapat berita berita seputar kesehatan dari grup Whatsapp? Seperti manfaat minum air A di setiap pagi, bahaya makan buah B dan lain lain. Biasanya, penutup berita tersebut bertuliskan “Sumber: dari grup sebelah” atau “Jangan berhenti di kamu. Semoga dapat pahala dengan membagikannya”.

Sabtu 5 Oktober 2019, IDEAFEST (AGE OF PRIDEA FEST 2019) kembali diselenggarakan. Dalam salah satu sesinya yaitu IDEATALKS mengangkat tema Fame of purpose. Tema ini menghadirkan narasumber bapak Rudiantara selaku Menkominfo dan Mba Ayu Kartika Dewi sebagai CoFounder Sabang Merauke.

Mba Ayu memaparkan banyak hak seputar hoax untuk “kebaikan”. Sebenarnya, tujuan mereka baik. Pengen sharing, biar orang jadi sehat, berhati hati, dll. Cuma, itu berita benar apa engga ya? Pernah suatu saat, Mba Ayu hampir saja menyebarkan sebuah berita yang ia dapatkan dari salah satu tukang bersih-bersih. Tukang bersih-bersih itu mengatakan bahwa sempat terjadi perampokan atau jambret di pinggir jalan apartemen, tempat orang biasanya menunggu ojek online. Sebagai warga apartemen yang baik, Mba Ayu ingin mengabarkan berita tersebut ke warga apartemen lainnya, dengan niat agar para penghuni apartemen lebih berhati hati. Ketika ingin menekan tombol “SEND” tiba tiba beliau teringat akan Pak Rudiantara mengenai hoax, saring sebelum sharing, dll. “Wah. Berita ini, benar ngga ya ” pikirnya. Akhirnya beliau mengurungkan niatnya tersebut.

Mba Ayu menekankan, “there is no such thing as hoax untuk kebaikan”. Menurutnya, hal itu bisa berbahaya untuk otak kita. Kalau kita terbiasa menerima sebuah berita tanpa memfilternya, maka nanti kita jadi sulit untuk membedakan mana yang benar dan yang salah. Niatan baik, kalau tidak benar bisa melatih otak kita untuk tidak kritis. Apalagi dengan adanya sosmed. Duh, makin riweuh deh. Kita jadi semakin sulit dan butuh effort yang besar untuk mengetahui sebuah kebenaran suatu berita.

Selain meningkatkan kritikal thingking, Mba Ayu juga berpesan agar kita meningkatkan rasa empati. Sebagai contoh, teman beliau sedang menderita penyakit yang cukup parah. kemudian, catatan medis lengkap temannya mba ayu mulai tersebar dikalangan mereka, teman temannya. Padahal, catatan medis tidak boleh disebarkan, Itu hal privasi pasien. Ketika ditanya tujuannya untuk apa? Temannya menjawab, agar kita bisa mendoakannya..

Kita tidak bisa menutup mata dan telinga sehingga tidak mau mendengarkan orang lain, pun jangan sampai kita terlalu membukanya sehingga menerima setiap berita yang datang. Oleh karena itu, belajarlah untuk tidak hanya menjadi konsumen. Tapi, paling rendah menjadi distributor berita berita baik. Dan semoga saja bisa menjadi produsen berita baik. Kita tidak eprnah tau, siapa saja orang yang kita tolong dari info atau konten kita. Stop Hoax!

Share this Article
Posted by nurdhania
Follow:
Tell stories to the worldwide
Leave a comment