Fenomena Orang-Orang Menutup Diri

By

Pertengahan tahun ini, ada 33 orang pendukung ISIS yang diamankan aparat keamanan di Kalimantan Tengah (Borneonews.co.id 11 Juni 2019). Mereka yang tergabung dalam Jamaah Ansor Daulah (JAD) diamankan ketika hendak beruzlah atau mengasingkan diri.

Rombongan itu tentunya berangkat dari berbagai latar belakang. Ada perempuan dan anak-anak di sana. Pada perekembangannya, tak semuanya ditetapkan jadi tersangka. Negara terus melakukan pendampingan untuk mereka.

Fenomena seperti ini sedikit banyak membuat geleng kepala. Apakah hanya mengasingkan diri? Atau ada agenda lain di kelompok itu? Doktrin macam apa yang mampu membuat begitu banyak orang mau meninggalkan lingkungan sosial lamanya ke lingkungan baru?

Mengasingkan diri tentunya menutup diri dari lingkungan yang besar di sekelilingnya. Lingkungan masyarakat, kampung, tetangga, pertemanan entah itu teman sekolah atau kuliah, bahkan ada pula kasus menutup diri dari lingkungan keluarganya sendiri.

Seperti yang terjadi di beberapa pelaku atau terduga teroris yang ditangkap. Ada di antara mereka yang bahkan menutup diri dari orangtuanya, bahkan memusuhi atas dasar doktrin yang diterimanya. Berbeda pandangan khususnya soal agama, hingga membuat pertalian keluarga putus.

Di grup-grup WA yang saya ikuti, ada beberapa teman yang tetiba keluar dari grup. Musababnya tidak tahu pasti. Mereka adalah orang-orang yang sudah lama kenal sebelumnya, bahkan teman akrab.

Beberapa teman menyebut, orang-orang itu sudah tidak mau lagi bergaul dengan lainnya. Sekalipun bergaul, mereka pilih-pilih, memilah yang sepemikiran saja.

Ada pula seorang kawan curhat kepada saya, saudaranya juga sekarang sudah menutup diri setelah mengikuti aliran tertentu, pengajian tertentu. Dihubungi menjadi susah, apalagi ditemui. Padahal dulunya dia sangat supel, bahkan rajin nongkrong.

Fenomena orang menutup diri dari lingkungan mungkin terjadi di beberapa tempat lain. Meskipun itu hak sepenuhnya mereka, untuk bergaul dengan siapa saja, memilih jalan hidupnya sendiri, tapi alangkah baiknya tetap membuka diri. Bergaul tak harus melebur kan?

Mungkin kalau sudah belajar agama, merasa sudah benar, mbok ya teman-teman lainnya diajak. Kalau dianggap salah ya diperingatkan, dinasihati baik-baik, tidak langsung dimusuhi. Bukankah agama apapun selalu mengajarkan kebaikan bukan permusuhan?

 

Sumber ilustrasi: Pixabay.com

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like