Mengurai Eksklusivisme Mencegah Ekstremisme

By

Mungkin Anda sering mendengar atau bahkan pernah menyaksikan seseorang atau sekelompok orang yang sejak mengikuti sebuah kelompok pengajian lalu berubah sikapnya sehari-hari terhadap orang-orang di sekitarnya?

Atau yang berubah sikap dan perilakunya sejak berpenampilan syar’i atau sesuai sunnah Rasulullah SAW. Yang tadinya ramah terhadap tetangga dan orang-orang di sekitarnya menjadi pasif dan pendiam serta mulai terkesan tertutup dan menjaga jarak?

Lama-kelamaan ada yang mulai mengkritisi kondisi di sekitarnya, mulai berani mencela adat dan kebiasaan orang-orang di sekitarnya yang tidak sesuai dengan ilmu yang ia pelajari dengan cara yang mencolok dan tidak simpatik.

Orang-orang seperti itu biasanya adalah orang-orang yang baru belajar. Lambat laun seiring bertambahnya ilmu mereka, seharusnya mereka menjadi lebih ramah, lebih proaktif, akhlak dan perilakunya semakin bagus, dan bisa mendakwahkan apa yang telah mereka pelajari selama ini.

Jika semakin lama tidak ada perubahan pada sikap dan perilaku yang buruk itu, atau justru semakin menjadi-jadi, maka hanya ada dua kemungkinan penyebabnya yaitu :

Pertama: Orang itu memang memiliki benih-benih kesombongan dalam dirinya sehingga semakin lama belajar dia semakin merasa lebih benar, lebih baik, lebih mulia, dll, dan pada saat yang sama dia kurang memiliki sifat kasih sayang atau kepedulian terhadap sesama.

Yang penting dia selamat, tak peduli dengan kondisi orang lain. Padahal Islam mengajarkan agar mengajak orang lain pada kebaikan, mendakwahkan ajaran Islam, dan mendahulukan amar ma’ruf daripada nahi munkar.

Kedua: Orang itu memang diajarkan untuk bersikap seperti itu oleh para ustaznya. Ustaznya tidak pernah mengajarkan tentang akhlak dan adab, hanya mengajarkan teori dan idealisme. Yang artinya dia belajar pada orang yang salah atau mengikuti kelompok yang salah.

Dan Anda harus mulai mewaspadai dan berhati-hati pada orang yang seperti itu. Bukan untuk dijauhi, tapi cobalah untuk menelusuri lebih jauh. Kemana dia belajar ilmu agama? Kepada siapa dia belajar? Dan,  siapa saja teman-teman atau orang-orang dalam kelompoknya?

Jika misalnya Anda menemukan beberapa orang dalam kelompoknya tapi perilakunya baik, berarti yang bermasalah adalah orangnya. Tetapi jika Anda mendapati ustaznya dan orang-orang dalam kelompoknya mempunyai sikap yang sama, berarti memang itulah yang diajarkan dalam kelompoknya, dan Anda harus segera memberitahu orang-orang di sekitar Anda akan fakta yang Anda temukan itu.

Jadi, kita harus proaktif untuk menyelidiki lebih jauh jika menemukan orang-orang seperti itu. Jika orangnya adalah pendatang, cobalah untuk proaktif mengajaknya mengobrol tentang hal-hal yang umum dan menanyakan bagaimana pandangannya dalam masalah sehari-hari. Dari situ Anda akan mengetahui bagaimana sikap dan jalan pikirannya. Ketika ada yang aneh atau janggal, segera bicarakan dengan warga sekitar agar semua terlibat aktif untuk mempelajari kehidupan sehari-hari orang itu. Ingat, mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Saya perlu menyebutkan hal di atas karena fenomena itu umum terjadi di masyarakat kita. Dan saya melihat kebanyakan dari kita salah dalam menyikapi orang yang seperti itu. Kebanyakan dari kita malah menjauhi orang seperti itu karena berangkat dari tidak suka pada sikapnya. Semakin mereka dijauhi mereka semakin merasa eksklusif, semakin merasa yang mengerti mereka hanya orang-orang di kelompoknya.

Saya punya sebuah cerita tentang seseorang yang sehari-hari suka “berfatwa” kepada para tetangganya itu bid’ah, ini bid’ah (menyimpang dari ajaran Rasulullah SAW),  menjaga jarak dengan tetangganya, dan lain sebagainya. Tetapi ketika dia sedang sakit dan dirawat di rumah sakit yang paling banyak membesuknya adalah para tetangganya yang setiap hari dia bid’ah-bid’ah-kan itu.

Akhirnya setelah itu perlahan-lahan ia berubah menjadi ramah dan bersikap lemah lembut kepada para tetangganya. Bagi saya ini sebuah pelajaran bahwa ternyata jika kita menyikapinya dengan benar orang yang eksklusif itu bisa berubah, namun jika kita salah boleh jadi orang itu akan justru semakin menjadi-jadi.

Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like