Dhania

Perjalanan Hijrah Dhania

By

“Dhania akan pulang ke rumah kalau bunda dan ayah bisa menunjukan bukti surat, aku sudah gak sekolah lagi di SMA”. Kalimat di atas nampaknya sulit untuk dilupakan. Itulah momentum menegangkan dalam keluarga saya. Milestone ‘hijrah’ keluarga kami awal 2015. Ini bocoran film “Seeking The Imam” produksi Prasasti Production.

Saya perlu kabur dulu, karena orang tua saya menolak untuk hijrah. Gak tau apa saya udah ngebet banget? Saya udah gak bisa konsentrasi di sekolah. Apalagi 3 remaja dari Inggris sudah berangkat lebih dulu.

Entah kenapa saat itu saya rebel sekali. Saya hanya mau pergi ke negeri yang diberkahi. Negeri tersebut menerapkan apa yang ada di zaman Nabi. Dari artikel yang saya baca di media sosial, negara yang saya tuju penuh akan keadilan dan kesejahteraan. Jadi, bakal dapetlah surga dunia dan akhirat. Keluarga saya harus ikut, mereka juga harus selamat dunia akhirat.

Beberapa orang gak menyangka, anak manja plus cengeng kaya saya bisa kepikiran kaya gitu. Saya ingat ketika masih playgroup, paling gak bisa ditinggal Bunda. Pokoknya harus ada Bunda. Kalau gak, saya nangis sejadi-jadinya. Ibu Guru saat itu justru minta Bunda keluar setelah beberapa hari menemani dalam kelas. Saya nangis 3 jam, dibiarin itu ama Ibu Guru. Tapi sejak itu saya terlatih sih tampil tanpa Bunda. Bunda juga paling sebel kalau saya minta gendong sampai Bunda sakit pinggang. Ayah pergi juga nangisnya gak kalah kenceng.

Selain manja, saya dikenal bawel. Apa-apa yang saya lihat pasti diceritain. Nyebelinnya, kalau ada kejadian yang saya lihat langsung, bisa saya ceritain terus selama sebulan. Orang sebenernya suka protes, tapi saya cuek aja.

Bunda tipe yang peduli banget ama pendidikan anaknya. Bunda memasukkan saya, adik saya dan kakak les renang, berbagai kursus dan bimbingan belajar. Saya dilatih untuk tidak mendapatkan apapun yang saya mau oleh Bunda. Sedangkan Ayah selalu mengikuti kemauan semua anak-anaknya. Tidak ada kata tidak. Meskipun saya gak sedekat itu sama Ayah.

Keluarga kami juga cukup harmonis. Sewaktu masih TK dan SD, setiap minggu pasti berkunjung ke pantai. Terus setiap liburan sekolah pasti liburan ke rumah nenek di Jakarta

Tapi itu perlahan tidak dirasakan lagi. Kakak saya melanjutkan sekolah ke Malaysia ketika saya masuk SMP. Tadinya saya juga mau lanjut sekolah disana, tapi keenakan di Batam, daerah tempat tinggal kita saat itu. Rumah sepi. Ayah mulai sibuk dengan pekerjaan dan jabatan barunya. Ayah datang, saya tidur. Ayah ada waktu luang, saya pergi main. Saya kontak sama ayah cuma untuk minta pulsa data. Karena Ayah tidak pernah berkata tidak, Ayah membelikan pulsa data berapapun harganya. Itu terjadi sekitar tahun 2011. Facebook dan twitter waktu itu sedang booming di kalangan kami.

Suatu hari saya menemukan sebuah ayat melalui media sosial.

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim: 6)

Saya langsung bilang ke Ayah kalau keluarga itu harus sesuai dengan ayat itu. Ayah gak begitu respon. Saya ngeliat Ayah saya sebagai sosok yang gak religius-religius amat. Sholat sih gak pernah bolong. Tapi Ayah gak begitu tertarik dengan hal-hal yang saya omongin. Apalagi pas saya kasih pesan yang didapat dari telegram, Ayah cuma iya-iya aja. Terus saya tunjukin tentang kelompok ini, Ayah bilang itu gak bener. Saya pikir, “Ayah tau apa, soal agama”. Pas saya ajak tentang hijrah, dengan entengnya Ayah berkata “Udahlah, gak usah.”

Tapi coba saat itu saya dengerin Ayah, kami gak harus memulai dari nol. Sekarang kami juga harus kuatin hati melawan stigma masyarakat. Namun entah kenapa, saya merasa sekarang jadi semakin dekat sama Ayah. Kalau sekarang bisa cerita apa aja. Meskipun saat ini kami belum bisa berkumpul bersama karena Ayah harus diproses secara hukum sekembalinya kami dari Suriah. Jadi kangen Ayah ..

Penyesalan memang datang belakangan. Karena kata orang, kalau di depan namanya pendaftaran. Jadi, kali ini Dhania mau daftar aja jadi orang yang memperbaiki diri, mau lebih denger apa kata orang dan mau lebih cari tahu lebih dalam.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like