Deportan ISIS

Deportan ISIS : Saya Hanya Rindu (1)

By

Rumah bercat jingga itu nampak sudah lama tak ditempati. Ilalang tumbuh tinggi di halaman depan. Tampak juga plang laundry terpasang di depan rumah. Saya berdiri di luar gerbang untuk bertemu Ina (bukan nama sebenarnya), seorang deportan ISIS.

“Mba sama siapa?” tanyanya melalui pesan singkat.

“Sama teman saya, peneliti juga.” jawab saya.

Tak lama, ibu dari empat orang anak itu keluar dan membuka pintu. Kami kemudian masuk dan disambut keempat anaknya. Tampilannya? Ah saya paling malas membahasnya. Namun percayalah, tampilannya biasa saja. Baju gamis hijau dan kerudung sepanjang dada berwarna biru. Wajahnya putih, bersih dan nampak lelah.

“Maaf ya mba, tadi saya lagi jemput anak-anak.” Ucapnya.

“Oh iya gak apa-apa. Saya tadi ketemu yang lain dulu.” kata saya. Saya harus menemui dua Deportan ISIS hari itu di dua lokasi berdekatan. Sebelumnya, saya sempat kesana, namun ia tak ada. Akhirnya saya melipir ke depotan lain dulu.

Mba Ina mempersilakan saya dan kawan duduk di kursi tamu. Ia selanjutnya pergi ke dapur untuk membuatkan kami minuman. Sirup jeruk sepertinya, dingin. Pas sekali dengan udara kota Urban yang panasnya minta ampun. Minuman pun datang, namun demi jaim, saya hanya mengangguk ketika Mba Ina mempersilakan.

“Mba, jadi mba ini sebenarnya darimana?” Tanyanya penasaran.

Saya kemudian menjelaskan bahwa saya seorang peneliti. Saya bermaksud membantunya apapun yang bisa kami bantu. Kami percaya bahwa deportan ini perlu kami bantu entah dengan cara apa yang mereka butuhkan. Namun, saya juga bertanya alasan ia pergi ke Turki.

“Saya mau ketemu suami saya mba. Sumpah!” kata perempuan 35 tahun itu mengacungkan dua jari.

Kini saya yang penasaran, “Emang suaminya kenapa kesana?”

Ina menarik nafas sejenak. “Jadi suami saya tuh pengen hijrah mba. Dia pergi kesana sendiri. Saya awalnya cuek aja, tapi 5 bulan dia masih disana, gak mau pulang, ya saya nyusul.”

Sebelum pergi ke Turki, suami Ina mengajaknya pindah ke Aceh atau Sulawesi. Aceh menerapkan hukum syariah dan ada sebuah desa syariah di Sulawesi. Ina menolak karena pikirnya suaminya hanya kesemsem hijrah saja.

Lelaki yang menikahinya sejak 2007 itu pun perlahan mengubah penampilannya. Semua celana dibuat cingkrang. Suatu hari, suaminya mengeluarkan semua celana dan memanggil tukang permak biasa lewat depan rumah. Ina buru-buru berlari ke tukang permak tersebut, “Bang, potongnya sedikit aja, jangan cingkrang banget!” bisiknya.

Dua bulan berlalu, Ina masih mengganggap sepele keinginan suaminya. Suatu malam di September 2015, mereka bertengkar hebat. Suaminya mengajaknya masuk Suriah, bergabung dengan ISIS. “Ini khilafah islam, ma. Kita perlu mengikuti aturan agama”. Ina bersikukuh bahwa apa yang suaminya pelajari selama 1 tahun belakangan tidaklah tepat. “Udahlah pa, gak usah macem-macem.” Ina menanggapi. “Kalau mama gak mau, yaudah, aku pergi sendiri aja.” Ancam suaminya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like