Teroris Asap di Riau

Teroris Asap Dari Sumatera Hingga Malaysia dan Singapura

By

Teroris tak selalu membawa bom. Teror tak selalu dari agama. Bagaimana jika teror berbentuk asap?

“Ha Oksigen? Kami kayaknya udah lupa rasanya udara yang jernih,” ujar warga Riau.

“Terima kasih telah membuat tukak dan luka nestapa di tubuh kami. Terima kasih telah menumbuhkan kesadaran atas cinta alam kepada kami. Terima kasih telah mengajarkan kami untuk kuat berdiri meski kabut asap terus menggerogoti paru-paru. Terima kasih.” Demikian goresan Pesan seorang Ade. Ketika saya bertanya, apa yang ingin kamu sampaikan bila kamu bertemu dengan para pembakar hutan.  Ade, seorang teman asal Riau. Kami bertemu disebuah event di Jakarta, Agustus lalu.

“Malam kemarin, merupakan puncak dari kabut asap, Kak. Sudah mencapai angka 450” tambahnya. Ya Allah.. Innaalillaahi wa Innaa ilaihi rooji’un. Sesak rasanya dada ini, ketika mendengar kisah #AsapRiau dari Ade.

Menurut para aktivis lingkungan, kabut asap ini sudah terjadi selama 20 tahun. Namun, 2015 merupakan bencana terparah karena saat itu pemerintah daerah terpaksa harus meliburkan sekolah. Tahun ini, tak kalah parahnya. Ade harus libur sekolah sejak dua minggu lalu. Ia khawatir karena ia saat ini duduk di kelas 3 SMA. Bagaimana dengan ujiannya nanti?

Ade bahkan terkena ISPA (Inpeksi Saluran Pernapasan Akut). Ia merasa sulit bernapas, pusing dan batuk secara terus menerus. Saat ini, tameng paru-paru mereka hanya sebuah masker hijau tanpa filter dan rumah tertutup rapat. Sulit bagi Ade dan keluarga untuk mendapatkan masker khusus. Ini diperparah karena kediaman Ade di Marpoyan, Pekanbaru tidak diguyur hujan.

Ade juga menuliskan sedikit kisahnya di akun instagram pribadinya @muhammaddeputra dengan tagar #membacaasap.

“Barusan kemarin sore sudah dapat sih beberapa orang yang tercyduk dengan membakar lahan, sudah di bawa ke tempat yang lebih berwenang. Tapi itu hanya sebagian kecilnya kak, pelaku lainnya belum diketahui”. Apa yang ingin kamu sampaikan ke mereka? Jawabannya telah ada di prolog.

Ade tau bahwa pemerintah daerah dan pusat sudah bekerja aktif mengatasi Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan). Beberapa media mengatakan penanganan Karhutla belum memiliki dampak yang nyata. Namun, Ade berusaha untuk memahami dan positif thinking, “Kalau Ade pribadi berusaha untuk positif thinking,Kak. Karena tentunya mereka sudah berjuang dengan caranya masing-masing”.

Asap di Riau
Ade di tengah kabut asap di Riau (Foto oleh Ade)

Hal-hal yang dirasakan oleh Ade dan jutaan penduduk di Kalimantan dan Sumatera hingga Malaysia dan Singapura, disebabkan oleh beberapa orang saja. Bahkan sebuah perusahaan telah ditetapkan menjadi tersangka. Mereka melakukan pembakaran hutan secara sengaja untuk pembukaan lahan. Pembukaan lahan untuk apa? Untung keuntungan pribadi mereka. Mereka lupa bahwa asap ini bahkan sampai Malaysia dan Singapura. Jutaan warga dibunuh perlahan melalui asap.

Saat ini, kita belum bisa terjun langsung untuk membantu memadamkan api api itu. Namun , banyak jalan menuju roma. Kita bisa ikut membantu warga Riau dan Kalimantan dengan ikut berdonasi di kitabisa.com. Mari bantu saudara-saudara kita agar #BisaBebasAsap melalui kita bisa melalui link ini dan melawan teroris asap.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like