Kisah Pengungsi yang Kabur dari ISIS: Baghdadi Menuntut Para Lelaki untuk Mati Muda dan Konyol (2)  

By

Gue Aleeya Mujahid, warga negara Indonesia (WNI) yang sekarang berada di kamp pengungsian al-Roj, Suriah bagian Utara setelah kabur dari wilayah  ISIS. Ini serial ke-2 tulisan gue, setelah sebelumnya gue tulis sedikit keadaan di sini.

 

Juli, 2016

Sulitnya medan perbatasan antara Turki dan Suriah yang gersang, tandus, dan penuh risiko tak menyurutkan semangat kami.

Harta benda, keluarga, teman, pekerjaan, dan semacamnya, semua kenikmatan dan kenyamanan dunia yang umumnya orang-orang kejar, kami tinggalkan tanpa keraguan.

Semua itu kami lakukan untuk menunaikan kewajiban hijrah yang akan menghapus dosa-dosa di masa lalu. Keringat dan air mata yang bercucuran tak kami hiraukan demi mengejar cinta dan ridha Allah.

Mungkin gak akan banyak akal sehat yang akan memahami tindakan nekat kami, tapi mungkin inilah yang dimaksud hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Islam datang dalam keadaan yang asing, akan kembali pula dalam keadaan asing. Sungguh beruntunglah orang yang terasing.” (HR. Muslim no. 145).

Tapi setelah beberapa bulan hidup dan tinggal di wilayah kekuasaan yang dipimpin oleh Abu Bakr Al-Baghdadi, seorang lelaki keturunan Quraisy yang mengklaim dirinya sebagai Amir Almukminin, ternyata perjuangan dan pengorbanan kami dibayar dengan kekecewaan dan pengkhianatan. Seruannya mengundang guru, dokter, arsitek, mekanik, ahli ekonomi, dan semua pakar profesi untuk mengisi struktur pembangunan negara Islam, adalah bualan belaka.

Para muhajeer laki-laki (pendatang asing), dikerahkan untuk mengisi bagian peperangan. Sedangkan orang-orang Irak dan Suriah yang menamai diri mereka anshar sudah mengisi bagian dewan pengajar, kesehatan, zakat, pengadilan Islamiyyah, dan lain-lain.

Pekerjaan-pekerjaan yang enak, mudah, dan nyaman diambil anshar, sedangkan yang berat, melelahkan, dan berisiko melayangnya nyawa dikasih ke muhajeer.

Kata ‘alaa minhaaj An-Nubuwwah yang mereka sandingkan dengan negara Islam yang ingin mereka dirikan merupakan bentuk pelecehan dan pencemaran nama baik Islam.

Cara perang, konsep perbudakan, praktik poligami, dan penerapan hukum-hukum yang mereka klaim berdasarkan Alquran dan Hadits, bener-bener jauh dari sejarah Islam yang terjadi di masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Sungguh mengherankan bentuk penindasan dan kedzaliman yang gue saksikan dan terjadi di suatu tempat bernama negara Islam, Itu bahkan belum pernah gue liat dan alami di NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai negara Pancasila.

Di saat orangtua dan para kerabat mendoakan kami agar berusia panjang demi menjadi manusia bermartabat dan bermanfaat, Abu Bakr Al-Baghdadi malah sebaliknya.

Dia menuntut agar ucapannya didengar dan ditaati orang-orang beriman, Dia memaksakan kehendaknya menekan para lelaki dewasa, yang mana mereka adalah seorang suami, ayah dan juga seorang anak yang tentunya punya kewajiban tertentu tergantung perannya masing-masing. Baghdadi menuntut mereka untuk mati muda dengan cara murahan.

Tinggi dan mulianya kesyahidan yang mestinya diraih dengan banyak jalan kebaikan, diputar balik dengan cara-cara yang konyol dan tolol.

Herannya, meskipun telah banyak nampak kebobrokan dan kepicikan ISIS, masih banyak orang-orang yang buta dan sengaja menutup mata dan telinganya.

Menolak menerima kenyataan, bahwa ISIS itu kelompok sesat dan biadab yang mau menyesatkan Muslim di bumi ini.

Mereka manfaatin kecintaan orang-orang beriman kepada agama ini demi mewujudkan cita-cita dan keinginan mereka untuk memiliki wilayah dan kekuasaan meskipun dengan cara brutal dan nggak manusiawi.

Mereka jadikan para lelaki kami sebagai peluru dan alat peledak, di saat Abu Bakr Al-Baghdadi dan orang-orang terdekatnya duduk enak-enakan bersembunyi di balik badan orang-orang lemah tak berdaya.

Kemarin, sekarang, dan seterusnya, mati syahid masih jadi mimpi dan harapan tertinggi gue dan kaum Muslim di manapun di penjuru dunia ini.

Dan jihad akan tetap jadi jalan hidup gue sampai malaikat maut datang menjemput. Tapi bukan dengan cara yang sesat dan bejat sebagaimana yang ISIS tunjukkan ke mata dunia, tentunya. Melainkan dengan jalan penuh rahmat yang berdasarkan Alquran dan Hadist sebagaimana tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam serta dicintai dan diberkahi Allah subhaana wa ta’alaa.

Salam, Aleeya Mujahid

 

FOTO DOK. ALEEYA MUJAHID

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like