tawuran-manggarai-mengganggu-krl-ruangobrolid

Tawuran Manggarai, Semoga Tidak Terulang Lagi

Entah apa yang di benak massa tawuran Maggarai tersebut. Mereka sama sekali tidak memikirkan perbuatan mereka imbasnya bisa ke banyak orang.

By

Tawuran antar warga terjadi di daerah Manggarai, Jakarta Selatan. Rabu (4/9/2019) sekitar pukul 16.40 WIB atau saat jam pulang kantor. Terlihat warga saling serang menggunakan batu, petasan, bahkan senjata tajam. Tawuran Manggarai ini sampai mengganggu lalu lintas di sekitar lokasi yang memang sudah macet, bahkan mengganggu jadwal operasional Commuterline (KRL)

Menurut warga sekitar, bentrokan terjadi antara warga Manggarai dengan warga Menteng, Jakarta Pusat. Awalnya sejumlah kelompok yang diduga warga Manggarai datang melewati stasiun Manggarai untuk menyerang warga Menteng yang sedang berada di Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) Jayakarta. Lalu bentrokan mulai terjadi saat beberapa warga mulai berteriak dan melempar batu serta petasan. Terlihat massa yang terlibat bentrokan adalah pria berusia remaja sampai bapak-bapak. Barulah sekitar 10-20 menit polisi berangsur datang menghalau warga dan berusaha membubarkan.

Kejadian ini meluas sampai tepat di atas rel kereta, mengakibat keterlambatan perjalanan KRL. Saya sendiri pada saat kejadian berada di dalam KRL tujuan Stasiun Bogor untuk turun di Stasiun Cawang, namun kereta tertahan saat ingin memasuki Stasiun Manggarai—hal yang biasa terjadi ketika akan masuk Stasiun Manggarai, karena pergantian sinyal masuk. Namun beberapa menit setelah kereta berhenti, petugas berulang kali memberi imbauan kepada penumpang lewat pengeras suara untuk menutup semua jendela kereta.

Sampai akhirnya setelah 20 menit lebih tertahan, saya mendapatkan informasi ada tawuran antar warga mengakibatkan kereta tertahan begitu lama. Saat KRL tertahan, ada penumpang yang berteriak, “Asap, wo!”. Betul saja, tiba-tiba ada asap putih pekat dari bawah gerbong, baunya menyengat, membuat penumpang tambah panik.

tawuran-manggarai-mengganggu-krl-ruangobrolid-2
Penumpang KRL berebutan turun tadi kereta setelah insiden Tawuran Manggarai, Rabu (4/9).

“Itu cepet buka jendela, Pak, buru, pak …” teriak salah satu penumpang, “Ya Allah, keluar, Pak.”

Tampak penumpang berusaha untuk keluar dari kereta dengan membuka jendala, serta menekan tombol darurat agar pintu terbuka. Setelah jendela terbuka, pemumpang malah saling dorong untuk keluar kereta karena sudah panik.

Jarak pintu dan dasar tanah yang lumayan tinggi membuat penumpang ada yang terjatuh bahkan cidera. Saya sendiri juga sempat panik, dalam hati cuma bisa bilang, “Astagfirullah … ada-ada aja dah.”

Setelah berhasil keluar, para penumpang melanjutkan ke stasiun dengan berjalan kaki. Belum tahu penyebab pasti kenapa KRL mengeluarkan asap, petugas di lapangan hanya memberikan arahan agar para penumpang tetap tenang dan berhati-hati saat berjalan menuju stasiun Manggarai.

tawuran-manggarai-mengganggu-krl-ruangobrolid-3

Setelah berhasil keluar, saya langsung menuju lokasi tawuran Manggarai. Betul saja bentrokan masih terjadi, terlihat polisi menembakkan gas air mata ke arah warga yang terlibat bentrok. Barulah sekitar pukul 17.50 WIB, massa dapat dikendalikan oleh polisi.

Karena kejadian yang bertepatan dengan jam pulang kantor, lalu lintas di sekitar area kejadian menjadi sangat padat. Stasiun Manggarai juga tampak sangat padat, karena para penumpang bertumpuk menunggu kereta bisa berjalan dengan normal, ada juga yang masih belum berani pulang, menunggu suasan kondusif. Faldi, misalnya, karyawan swasta di daerah Sudirman yang harus melanjutkan perjalanan ke depok, masih tetap menunggu kereta untuk bisa sampai ke rumah.

“Parah banget dah, Mas. Udah pegel seharian kerja, pengen pulang cepet, malah telantar gini nunggu kereta. Nggak ada adab emang yang tawuran itu,” kata Faldi.

Setelah menunggu suasana kondusif, sehabis magrib saya memutuskan menggunakan armada lain untuk pulang, dengan memesan ojek online. Di perjalanan, terasa gas air mata saat melalui tempat kejadian, sangat pedih di mata.

Para pengendara motor yang melintas tampak menghentikan kendaraanya karena terkena gas air mata. Salah satunya dirasakan Misbahul Lukman.

“Abis balik kerja dari dari arah sudirman, tiba-tiba mata saya pedes banget ini, makanya berhenti, daripada nanti jatuh,” ujar Lukman sambil mengusap matanya.

Entah apa yang di benak massa tawuran Maggarai tersebut. Mereka sama sekali tidak memikirkan perbuatan mereka imbasnya bisa ke banyak orang. Semoga ke depannya masyarakat kita mengedepankan dialog dalam menyelesaikan persoalan, musyawarah untuk mufakat, sebagaimana nilai-nilai yang ada di pancasila. Agar perdamaian selalu bersama kita.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like