Quarter Life Crisis: Ingin Jatuh Cinta atau Siap Jatuh Cinta?

By

Jatuh cinta itu… lebih candu dari narkoba.

Menurut riset, ketika jatuh cinta otak kita melepaskan zat-zat seperti vasopresin, adrenalin, dopamin, dan oksitosin yang meningkatkan perasaan senang dan bahagia. Jatuh cinta juga menurunkan risiko tekanan darah tinggi dan kecemasan.

Makanya, kita merasa lebih bersemangat dan antusias. Menyenangkan banget, nggak sih? Khususnya bagi generasi usia 20-an yang sedang berada dalam fase quarter life crisis dan berada di tengah berbagai macam tekanan dan tuntutan dari lingkungan serta kekhawatiran akan diri sendiri.

Tapi… kata siapa jatuh cinta itu tanpa risiko? Banyak! Saat kamu membiarkan dirimu jatuh cinta, kamu akan dihadapkan dengan resiko-resiko berikut ini:

1. Vulnerable

Perasaanmu menjadi lebih peka mengenai hal-hal yang menyangkut tentang dirinya. Hal sekecil apapun yang dia lakukan, bisa memberi dampak ke emosi dan pikiranmu. Fokusmu akan terbagi antara urusan pribadimu dengan urusannya. Masalah yang sedang dihadapinya akan menjadi beban pikiranmu juga.

Karena kamu mencintainya, kamu tidak tenang saat melihat dia kesulitan dan menanggungnya sendiri. Kalau kamu belum bisa mengatasi masalahmu sendiri dengan dewasa, hal ini akan menjadi beban tambahan bagimu, kan?

2. Disakiti

Jatuh cinta berarti secara tidak langsung membiarkan diri kita menjadi sensitif, namun di saat yang sama kita juga menaruh harapan pada orang yang kita cinta. Harapan agar dia membalas perasaan kita, memperlakukan kita dengan baik, mendengarkan dan merespon saat kita bercerita, atau hal kecil lainnya.

Saat dia melakukan sesuatu di luar harapan kita, maka otomatis akan muncul rasa sedih dan kecewa. Belum lagi kalau ada penolakan dari dirinya, teman-temannya, atau orang tuanya yang membuat kita merasa tersisih. Perasaan seperti ini tentu nggak perlu ada ketika kamu sedang tidak mencintai siapapun dan memegang kontrol penuh atas perasaanmu sendiri, lho!

3. Kehilangan

Baik itu perpisahan karena bertepuk sebelah tangan, selingkuh, sudah tidak cocok, maupun maut, pada akhirnya akan ada akhir untuk hubungan kalian. Beberapa dari kita sulit untuk mengatasi rasa sakit setelah kehilangan seseorang yang kita cintai.

Tubuh pun akan merespon dengan memproduksi hormon kortisol dan epinefrin yang merupakan pemicu stres. Kehilangan juga dapat menurunkan kepercayaan diri kita dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memulihkannya.

Jadi, sebelum membiarkan dirimu jatuh cinta… coba pikir lagi, kamu hanya ingin, atau memang sudah siap dengan segala kebaikan dan risikonya? Ketika kamu sadar dan siap dengan keduanya, kamu dapat mencintai dan menerima perpisahan dengan lebih bijaksana. Dan saat kita memberikan cukup ruang untuk cinta itu tumbuh dengan tetap menjaga privasi dan menghargai perbedaan masing-masing, maka jatuh cinta akan menjadi a beautiful risk.

Selamat jatuh cinta!

Sumber gambar: https://cdn.pixabay.com/photo/2015/03/30/20/33/heart-700141_960_720.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like