Tenggang Rasa, Masih Adakah?

By

Di sebuah restoran cepat saji, seorang pelayan di belakang meja kasir sedang menerima pesanan dari pembeli. Di belakang pembeli tersebut berjejer beberapa orang yang menunggu giliran. Tiba-tiba seseorang masuk dalam antrian dan ingin di dahulukan.

Lampu merah menyala, deretan motor dan mobil mulai tersusun. Barisan kendaran bermotor itu tidak hanya memenuhi sisi kanan jalan saja, tetapi perlahan membludak hingga ke sisi kiri jalan. Sehingga menutup mereka yang hendak berbelok ke kiri. Di tiang lampu traffic light itu terpampang tulisan ‘Belok Kiri Jalan Terus’.

Tidak seperti biasanya, volume air di selokan itu meningkat. Alirannya telihat jelas bagi pengendara motor yang melintas. Air yang terlihat mengalir pelan itu sudah menyentuh bibir selokan. Tidak berapa jauh, terlihat gundukan sampah yang menumpuk. Menutupi laju air yang ingin masuk dalam gorong-gorong. Akibatnya, air meluber menggenangi rumah yang tepat berada di sisi jalan. Siapa yang membuang sampah itu?

Seberapa sering kita melihat kondisi di atas?

Jika sangat jarang, maka hal tersebut patut disyukuri. Namun, jika semakin sering kondisi tersebut terjadi, mungkin masyarakat kita sudah mulai lupa dengan tenggang rasa atau tepo seliro.

Apa itu tenggang rasa?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, frasa yang menjadi bagian penting pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan itu diartikan sebagai ungkapan yang menunjukan kemampuan untuk menghargai perasaan orang lain. Saya masih ingat betul frasa ini, karena konsep tersebut diajarkan berkali-kali pada masa-masa sekolah dulu. Bahkan tenggang rasa menjadi bab tersendiri dalam buku pelajaran.

Tidak hanya menjadi bagian dari bahan ajar, tenggang rasa atau tepo seliro adalah bagian dari falsafah Jawa yang berhubungan erat dengan tata cara bergaul antar sesama manusia. Saya yakin, konsep yang sama, juga dimiliki oleh etnis atau budaya lain di Indonesia ini.

Berbekal dari apa yang sudah diajarkan oleh guru di masa sekolah atau oleh orang tua, saya memahami tenggang rasa sebagai upaya untuk memahami perasaan orang lain atas sebuah tindakan yang akan saya lakukan. Hal ini membantu saya untuk menakar dampak apa yang bakal terjadi. Saya tentu tidak suka dengan orang yang menghalangi saya ketika akan berbelok kiri langsung. Oleh karena itu, saya berupaya untuk tidak mengambil sisi jalan itu ketika berhenti di lampu merah. Saya tidak ingin rumah saya tergenang karena luapan air selokan yang alirannya terhambat sampah. Sehingga saya tidak mau membuang sampah sembarangan.

Berdasarkan apa yang saya pahami itu, saya menganggap tenggang rasa atau tepo seliro itu lebih dekat pada kondisi psikologis yang disebut empati. Sebab, empati adalah kondisi seseorang yang mampu memahami emosi orang lain, bahkan ikut merasakannya. Meskipun demikan, mungkin ada juga yang berpendapat bahwa tenggang rasa itu lebih dekat pada toleransi. Masing-masing boleh memiliki pandangan yang berbeda.

Tenggang rasa yang saya sejajarkan dengan empati ini memiliki tempat penting, bahkan menjadi syarat signifikan untuk membentuk perilaku pro-sosial. Dalam buku The Handbook of Social Psychology, C. Daniel Batson, menjelaskan bahwa perilaku pro-sosial merupakan beragam tindakan yang ditujukan untuk memberikan manfaat bagi orang lain atau banyak orang, dibandingkan untuk dirinya sendiri.

Mampu mengembangkan tenggang rasa dalam kehidupan masyarakat tentunya akan sangat baik dalam membangun ketahanan masyarakat itu sendiri. Masing-masing elemennya dapat memahami kondisi yang lain, sehingga gesekan bisa dihindarkan. Secara sederhananya, ketika kita tidak ingin mendapat perlakukan buruk, maka kita tidak melakukan hal buruk.

Lalu kenapa sepertinya tenggang rasa itu sudah mulai hilang di masyarakat? Apakah karena pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan itu kurang popular jika dibandingkan mata pelajaran lain? Atau masyarakat kita kehilangan kemampuan untuk berempati.

Mari kita tanyakan kepada diri kita masing-masing, dan coba mengingatkan mereka yang mungkin lupa.

Ruangobrol membuka diri melalui fasilitas Chat yang berada di sisi kanan bawah website ini untuk lebih banyak mengobrol soal problematika apa saja yang terjadi di masyarakat, sembari mencari solusi bersama. Sebab, perdamaian bisa terjadi saat kita saling bicara.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like