Belajar Bersyukur dari Para Pecandu Narkoba

By

Ada orang-orang yang lewat ceritanya, ketika kita mau berbaur, mendengarkan kisahnya, apa isi hatinya, bisa membuat warna lain bagi kita untuk menjalani hidup.

Seperti mereka yang dulunya para pecandu narkoba. Mereka yang sedang berusaha sembuh total dari kecanduannya. Mereka adalah teman-teman yang saya temui ketika masih aktif di lapangan, bekerja sebagai wartawan di salah satu media nasional di Indonesia ditugaskan di Kota Semarang.

Mereka adalah orang-orang yang dulunya pecandu narkoba, baik dari Kota Semarang maupun kota-kota lainnya. Kiranya, saya tak perlu menyebutkan nama-nama mereka.

Teman-teman yang saya temui, ketika itu sedang berada di Rumah Damping Astama milik Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Tengah. Di situ ada juga pendampingnya alias mentor, rata-rata mereka juga eks pecandu.

Di antara para wartawan di Kota Semarang, saya mungkin tergolong yang paling sering main ke rumah damping itu. Selain untuk persoalan mencari berita juga menggali cerita-cerita mereka tentang narkoba.

Suatu pagi saya ikut kegiatan yang dinamakan “share feeling”. Di mana teman-teman berkumpul di ruang tamu, lesehan, kemudian berbagi cerita apa yang dialaminya 24 jam yang lalu.

Ceritanya beragam, menarik sekaligus membuat saya tertunduk. Salah satu teman bercerita:

“Saya bersyukur, saya masih bisa bernafas hirup oksigen gratis. Dulu, waktu pernah dirawat di rumah sakit, oksigen harus bayar,” kata kawan itu yang dulunya pecandu berat.

Ada pula yang berbagi cerita hingga sempat memantik tawa.

“Saya bersyukur, tadi malam bisa tidur nyenyak, tidak bangun terus tidur bangun lagi terus tidur. Dulu waktu sering sakaw susah tidurnya, badan sakit semua,” kira-kira begitu teman lain berbagi ceritanya.

Saya ketika itu juga diberi kesempatan untuk berbagi cerita. Duh awalnya sempat bingung mau berbagi cerita apa ya. Akhirnya saya bagi aja cerita tentang deadline berita.

“Saya bersyukur, kemarin sore masih bisa kirim berita. Awalnya sempat bikin meme gambar Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) saya tulisi ‘itu yang udah sore belum dapat berita tenggelamkan!’, setelah itu saya terus cari-cari bahan tulisan dan dapat berita,” begitu saya berbagi cerita dengan mereka.

Sontak, cerita itu juga memantik tawa teman-teman.

Setelah semuanya selesai berbagi cerita, ada seorang yang dituakan memberikan semacam wejangan dan doa bersama.

Disebutkannya, berbagi cerita di pagi hari sebelum kita beraktivitas bisa membuka komunikasi antarteman. Jadi kalau ada persoalan, bisa diceritakan, biar teman lain tahu, dan siap membantu.

Berbagi cerita pagi di kegiatan share feeling yang saya tahu di sana, memang rata-rata mengucapkan syukur kepada Tuhan atas nikmat yang diberikan.

Meskipun, nikmat-nikmat itu mungkin bagi kita terlihat “tak tampak”. Sebut saja cerita dari teman-teman tadi; cerita tentang bersyukur masih bisa tidur nyenyak, bersyukur karena masih gratis bernafas.

Hal penting yang saya tahu dari berbagi cerita itu adalah mungkin kita kerap lupa dengan nikmat-nikmat yang kita miliki. Mungkin terdengar “kecil”, tapi bisa jadi bagi orang lain itu adalah nikmat yang luar biasa.

 

FOTO EKA SETIAWAN

Klien di Rumah Damping Astama BNNP Jawa Tengah berlatih membuat batik.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like