Bullying Ataupun Kekerasan Lahirkan Dendam

By

Kata bullying jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia memiliki beberapa arti, seperti; perundungan, risak, menindas, mengintimidasi.

Namun, definisi bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain.

Masih ingat dengan kasus bullying yang belum lama ini menimpa seorang siswi SMP di Pontianak berinisial A?

Kasus ini menjadi sangat viral di banyak media. Kekerasan fisik yang dilakukan oleh beberapa siswi SMA kepada A membuat para netizen murka. Mereka meminta agar pihak pemerintah memberikan hukuman yang setimpal kepada para pelaku walaupun usia mereka masih di bawah umur.

Miris memang, melihat kelakuan para masyarakat terutama anak-anak ABG labil yang masih banyak melakukan tindakan bullying.

Cukup banyak berita yang menerangkan para korban bullying menyimpan dendam akan perlakuan yang diterimanya. Bahkan dalam beberapa kasus, hal itu membuat para korban memiliki tendensi untuk melakukan bullying juga di masa yang akan datang.

By the way, ada satu contoh lagi cerita mengenai tindakan kekerasan yang menimbulkan dendam. Buat para pembaca, apa ada yang nonton Stand Up Comedy World Tour nya Pandji Pragiwaksono di JCC pada bulan Januari lalu?

Kalau ada, kalian inget dong salah satu bit-nya Pandji tentang cerita seorang preman yang dikeroyok dan dihajar habis-habisan saat ketahuan memalak salah satu teman sekolahnya. Kejadian-kejadian seperti inilah yang akan melahirkan dendam.

Di akhir bit-nya, ada satu quotes menarik dari Pandji perihal kejadian tersebut, yaitu :

“Hanya karena kita benar bukan berarti kita boleh melakukan apapun

kepada orang yang salah. Karena itu akan melahirkan dendam.”

***

Satu hal lagi yang bisa saja terjadi karena hal tersebut adalah memicu terjadinya kekerasan ekstrim semisal terorisme.

Faktor-faktor pendukung seseorang bisa melakukan perbuatan tersebut tidak hanya didasari oleh faktor ideologi semata.

Salah satunya bisa disebabkan tekanan atau perlakuan tidak mengenakkan dari lingkungan tempat ia berada. Memaksanya untuk melakukan tindakan ekstrim.

Hal ini pun terjadi kepada Timothy McVeigh, pria yang lahir di Lockport, New York pada 23 April 1968. Seorang mantan tentara Amerika Serikat dan veteran Perang Teluk.

Pada tahun 1995 ia mengebom sebuah gedung bernama Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma City dengan sebuah truk. Pengeboman itu menghancurkan sepertiga bagian gedung tersebut dan menewaskan 168 jiwa. Serta lebih dari 680an orang mengalami luka-luka. Pemboman itu adalah aksi terorisme paling mematikan di Amerika Serikat sebelum serangan 9/11, dan tetap menjadi aksi paling mematikan terorisme dalam sejarah Amerika Serikat.

Gambar : https://www.kuow.org/stories/brian-and-oklahoma-city-bombing-how-s-your-day-podcast

 

Motifnya melakukan pengeboman tersebut adalah karena kekecewaannya terhadap pengepungan yang terjadi di Waco & Ruby Ridge.

Berdasarkan esai yang ia tulis saat berada di dalam penjara (An Essay On Hypocrisy), ia juga menentang tindakan militer Amerika Serikat terhadap negara Irak dan negara-negara asing lainnya.

McVeigh mengklaim dahulu ia sering menjadi target bullying di sekolah, dan ia berlindung di dunia fantasi di mana ia membayangkan membalas dendam terhadap para pengganggu. Di akhir hidupnya, ia menyatakan bahwa pemerintah Amerika Serikat adalah pelaku utama perundungan (bullying).

Sebagai penutup, ada sedikit pesan yang ingin saya sampaikan, jangan pernah takut untuk melaporkan atau memberitahukan tindakan bullying, baik itu yang menimpa kita ataupun orang lain. Entah itu kepada kerabat, saudara, orang tua, guru, atau bahkan pihak berwajib. Selain dapat menimbulkan trauma, hal tersebut dapat pula memunculkan rasa dendam yang bisa saja dimiliki oleh para korban.

Yang mana jika tidak ditangani dengan baik, suatu saat para korban tersebut bisa saja kembali melakukan perbuatan ‘melenceng’ seperti yang telah mereka alami pada diri mereka. Yang mana akan menimbulkan korban-korban bullying lainnya.

Akan sangat indah jika kedamaian tersebar di dunia ini, tidak ada tindakan bullying, dendam, maupun aksi-aksi kekerasan lainnya yang tentu saja sangat merugikan. Setuju?

 

#StopKekerasan #SebarkanPerdamaian

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like