Indonesia

Kita yang Kaget Kok Pengurus Warga sampai Ketua RT Bisa Jadi Teroris?

By

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap sejumlah terduga teroris di Jawa Tengah pada Selasa (14/5/2019). Mereka ditangkap di berbagai wilayah di Jawa Tengah.

Beberapa penangkapan mengejutkan warga sekitar. Rata-rata, mereka tak menyangka orang yang dikenalnya itu ternyata terduga teroris. Seperti yang ada di Kabupaten Grobogan.

Warga khususnya para tetangga tak menyangka, orang yang dikenalnya aktif berkegiatan di masyarakat, termasuk kegiatan sosial bahkan jadi pengurus di struktur organisasi RT, malah ditangkap Densus.

Yang ditangkap di Kota Semarang lebih mengagetkan pula. Rumahnya tak jauh dari Mapolda Jawa Tengah, kawasan Lempongsari, Kecamatan Gajahmungkur. Kawasan itu juga dekat dengan rumah Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.

Baik para tetangga, termasuk Hendi (sapaan akrab Hendrar Prihadi) juga kaget. Pasalnya, lagi-lagi, orang yang dikenalnya baik-baik saja, pandai bersosialisasi, bahkan jadi Ketua RT, nyatanya malah ditangkap Densus.

Kemudian, seperti biasa, muncul imbauan-imbauan agar masyarakat senantiasa waspada akan pergerakan teroris.

Di dekat kontrakan saya di Kecamatan Banyumanik, juga ada spanduk besar yang dibikin oleh perkumpulan warga, salah satu isinya: waspada teroris!

Ini tentu bagus agar masyarakat jadi sadar akan bahaya di sekelilingnya. Masyarakat jadi perhatian atas apa yang terjadi di lingkungannya.

Namun, waspada seperti apa yang harus dilakukan? Sebab, tidak ada stereotipe khusus yang menjelaskan seseorang adalah seorang teroris.

Kalau di beberapa kasus disebut terduga teroris jarang bersosialisasi dengan warga, terkesan ekslusif, itu tentu patah dengan kasus penangkapan di Semarang dan Grobogan pada Selasa (14/5/2019) itu toh?

Lalu stereotipe seperti apa lagi? Apakah teroris itu musti berjanggut panjang, celana cingkrang, dan yang perempuan pakai cadar? Toh nggak juga.

Peristiwa serangan di Jalan Thamrin Jakarta tentu menggugurkan pandangan bahwa teroris itu musti bercelana cingkrang dan berjanggut. Penyerang di kejadian itu memakai kaus, celana jeans, sepatu kets, bertopi dan membawa tas ransel.

Kalau lantas itu disebut penyamaran agar tak terdeteksi, tentu lebih rumit lagi jadinya. Masyarakat makin dibuat bingung hehehe.

Kalau sudah seperti ini terus bagaimana kewaspadaan bisa dijalankan? Ditambah lagi, sekarang ini juga eranya online. Beberapa kasus menyebutkan ada orang-orang yang teradikalisasi karena online. Lewat gadget-gadget mereka, dari kamar-kamar mereka sendiri tempat mereka mengakses internet.

Alhasil, filter akan bahaya terorisme jadi makin susah. Setidaknya, mewaspadai apakah ada yang mencurigakan di lingkungannya.

Agaknya, peran penting keluarga dan komunikasi yang baik, harus terus dipelihara. Minimal, jadi benteng diri sendiri, keluarga sendiri, agar tak terpapar paham-paham radikal. Merayakan perbedaan adalah salah satu cara jitu mengusir dogma-dogma radikal yang bisa menyasar siapa saja.

 

FOTO EKA SETIAWAN

 

Leave a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You may also like