Serangkaian Teror Bom Mengguncang Sri Lanka

Eka Setiawan
Eka Setiawan
2 Min Read
Sumber gambar: https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSs8zQz0dK9RIAIhT-w3d557g1W5c0OIAZTQvlSPjQfm1vhdCP_bQ

Serangkaian aksi teror berupa pemboman terjadi di Sri Lanka, negara yang dalam bahasa Sansekerta diartikan “tanah bersinar”. Setidaknya 8 serangan bom menimbulkan korban jiwa lebih dari 100 orang dan sekira 200 lainnya luka-luka.

Mengutip CNBC Indonesia sebagaimana laporan Telegraph.co.uk, bom pertama menyasar di St Anthony,s Cruch di Kolombo dan Gereja St Sebastian di Negombo.

Bom kemudian meledak di 3 hotel; Shangri-La, Cinnamon Grand dan Kingsbury. Bom meledak juga di Gereja Zion di Kota Batticaloa. Kemudian bom meledak di sebuah rumah di kebun Mahawila, Dematagoda.

Serangkaian ledakan di gereja itu terjadi ketika umat Nasrani sedang menghadiri Misa Paskah, Minggu (21/4/2019) pagi. Laporan sejumlah media menyebut, sebagaian besar korban jiwa adalah warga lokal.

Sejauh ini belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas insiden itu. Ada laporan awal bahwa ada dua bom bunuh diri di antara serangkaian teror itu.

Serangkaian ucapan belasungkawa hingga mengecam aksi keji itu, datang dari berbagai tokoh dunia. Mulai dari Donald Trump, Paus Fransiskus hingga Pemerintah Indonesia.

Sri Lanka bukanlah negeri baru. Serangkaian dokumen mencatat Sri Lanka memiliki sejarah lebih dari 3000 tahun. Negara yang berbatasan dengan India ini konon juga punya andil besar dalam Jalur Sutra.

Negara ini juga dihuni oleh penduduk yang beragam, baik agama, suku maupun budayanya. Sejarah juga mencatat, negeri yang punya warisan Buddha sangat kaya ini juga pernah terjadi konflik. Pada tahun 2009, konflik etnis selama 2 dekade, antara pemerintah dengan kelompok minoritas Tamil yang dilakukan Macan Tamil, berakhir.

Sejauh ini, akibat teror di hari Minggu itu, semua pihak, baik aparat keamanan, pemerintah maupun medis, masih bekerja keras, baik menolong para korban maupun berusaha mengungkap siapa pelaku di balik serangkaian serangan mematikan itu.

Penyerangan, apalagi menyasar warga yang sedang mengimani keyakinannya di rumah ibadah, tentunya tidak bisa dibenarkan atas alasan apapun. Teror tetaplah teror, sebuah aksi keji yang melukai kemanusiaan.

Semoga tidak ada lagi kejadian serupa. Cukuplah mereka yang meninggal, yang terluka. Dunia tentu tak menghendaki penghuninya melakukan kerusakan.

Share this Article
Posted by Eka Setiawan
Eka Setiawan is editor of ruangobrol.id. He has many experience to handle many crime news and humanity.
Leave a comment