Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Belajar untuk Tidak Lagi Takut: Kuliah, Trauma, dan Identitas yang Kembali Dicari
Memasuki semester dua dan tiga, kehidupanku mulai bergerak ke fase yang berbeda. Jika sebelumnya aku hanya berusaha bertahan agar semuanya tidak runtuh, kali ini aku mulai mencoba membangun ritme hidup yang lebih stabil. Meski begitu, menjalani kuliah sambil mengurus rumah dan membesarkan anak tetap menjadi tantangan yang menguras tenaga hampir setiap hari.
Banyak orang menganggap kuliah online lebih mudah dibandingkan kuliah tatap muka. Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Jadwal kelas tetap berjalan, tugas terus berdatangan, diskusi harus diikuti, dan tanggung jawab akademik tidak pernah benar-benar berhenti. Perbedaannya hanya ruang kelas digantikan layar laptop dan koneksi internet. Di tengah semua itu, aku tetap harus menjalankan peran sebagai ibu. Ada pagi yang dimulai dengan menyiapkan kebutuhan rumah sambil membuka materi kuliah. Ada malam panjang yang dihabiskan untuk menyelesaikan tugas setelah semua pekerjaan domestik selesai.
Pada fase ini, fokusku tidak lagi hanya soal bertahan secara emosional. Aku mulai menikmati proses belajar itu sendiri. Perkuliahan mempertemukanku dengan banyak perspektif baru yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupahami. Dari berbagai mata kuliah dan diskusi kelas, aku melihat bahwa persoalan sosial dan keagamaan ternyata jauh lebih kompleks daripada yang selama ini sering dibicarakan secara sederhana.
Ketika pembahasan mulai menyentuh isu ideologi ekstrem, aku tertarik memahami bagaimana proses radikalisasi sebenarnya bekerja. Aku mulai menyadari bahwa seseorang tidak serta-merta menjadi radikal dalam waktu singkat. Ada proses panjang yang melibatkan pencarian identitas, kebutuhan emosional, tekanan lingkungan, hingga manipulasi narasi agama secara perlahan.
Semakin banyak aku mempelajari radikalisme, semakin aku sadar bahwa dampaknya tidak berhenti ketika seseorang berhasil keluar dari lingkaran tersebut. Ada luka psikologis yang menetap lama dan membentuk cara seseorang melihat dunia, membangun relasi, bahkan merespons rasa aman. Aku merasakan sendiri bagaimana trauma dapat muncul dalam bentuk yang berlapis dan bertahan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa itu berlalu. Kadang tubuhku masih bereaksi terhadap situasi tertentu meskipun pikiranku tahu bahwa keadaan sudah berbeda. Ada rasa cemas yang muncul tiba-tiba, kewaspadaan berlebihan, dan ketakutan yang sulit dijelaskan kepada orang lain. Pengalaman itu membuatku memahami bahwa trauma kompleks bukan sesuatu yang mudah hilang hanya karena waktu terus berjalan.
Pemahaman akademik membuatku melihat radikalisme sebagai fenomena multidimensi. Persoalan ini tidak bisa dipahami hanya dari sudut agama saja. Ada faktor psikologis, sosial, politik, bahkan ekonomi yang saling berkaitan di dalamnya. Kesadaran itu membuatku semakin tertarik menggali isu tersebut lebih dalam melalui bacaan dan penelitian mandiri.
Aku mulai membaca berbagai jurnal tentang pola rekrutmen kelompok ekstrem, propaganda digital, dan strategi penyebaran ideologi melalui media sosial. Aku juga tertarik mempelajari bagaimana kelompok radikal membangun rasa keterikatan emosional dengan target mereka, terutama anak muda yang sedang mengalami krisis identitas atau merasa terasing dari lingkungannya.
Selain itu, aku mulai memperhatikan bagaimana radikalisme juga berdampak besar terhadap citra Islam di masyarakat. Tindakan kelompok ekstrem sering kali menciptakan ketakutan dan memperkuat islamophobia. Simbol-simbol keagamaan yang seharusnya dipahami secara damai justru sering diasosiasikan dengan kekerasan akibat tindakan kelompok tertentu yang menggunakan agama sebagai alat legitimasi ideologi mereka.
Ketertarikanku juga berkembang pada bagaimana pola gerakan kelompok radikal berbeda di setiap wilayah. Ada kelompok yang bergerak melalui doktrin agama yang sangat kaku. Ada yang memanfaatkan konflik sosial dan ketimpangan ekonomi. Ada pula yang menggunakan media digital untuk membangun komunitas virtual yang membuat anggotanya merasa diterima dan dipahami.
Hal lain yang banyak menarik perhatianku adalah posisi perempuan dalam lingkaran radikalisme. Dalam banyak penelitian yang kubaca, perempuan sering kali tidak ditempatkan sebagai pelaku utama, tetapi memiliki peran penting dalam mempertahankan ideologi di lingkungan keluarga dan komunitas. Mereka bisa dilibatkan melalui pendidikan anak, propaganda media sosial, bahkan narasi pengorbanan atas nama agama.
Di tengah proses itu, aku perlahan mulai aktif dalam beberapa kegiatan organisasi kampus. Awalnya aku merasa canggung untuk terlibat dalam diskusi karena terlalu lama hidup dalam rasa takut untuk menyampaikan pendapat secara terbuka. Namun ruang akademik justru memberiku pengalaman berbeda. Aku mulai bertemu orang-orang dengan sudut pandang beragam dan belajar bahwa perbedaan pemikiran tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan.
Semakin jauh aku belajar, semakin besar keinginanku untuk membawa isu ini ke ruang penelitian yang lebih serius. Aku ingin menulis tentang perempuan yang pernah berada di lingkaran radikalisme, terutama mereka yang sering memilih diam karena merasa pengalaman mereka tidak dianggap penting. Bagiku, banyak cerita perempuan dalam lingkaran radikalisme yang belum benar-benar didengar, padahal di balik kehidupan yang terlihat biasa sering ada perjuangan panjang yang tersembunyi dari pandangan banyak orang.
Dari perjalanan akademik ini, aku memahami bahwa pengetahuan bukan hanya tentang gelar atau pencapaian pribadi. Pengetahuan juga bisa menjadi cara untuk memahami luka, membaca manusia dengan utuh, dan membantu orang lain merasa bahwa pengalaman traumatis mereka layak didengar, dipahami, serta tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar