Oleh: Vania
Baca kisah sebelumnya: Belajar, Luka, dan Keberanian yang Tersisa
Hari-hari terus berjalan tanpa pernah benar-benar memberi waktu seseorang untuk merasa siap. Di tengah ritme itu, aku menjalani dua peran sekaligus: sebagai mahasiswa dan sebagai ibu. Waktuku terbagi, energiku sering habis sebelum hari selesai, tetapi aku tetap bertahan. Aku belajar ketika anakku tertidur, membaca materi kuliah di sela pekerjaan rumah, dan menyelesaikan tugas saat malam sudah terlalu sunyi untuk siapa pun tetap terjaga.
Bagi sebagian orang, keputusan untuk kuliah setelah menikah mungkin terlihat biasa. Namun bagiku, kembali duduk di bangku pendidikan bukan sekadar keputusan sederhana. Ada perjalanan panjang yang mendahuluinya. Ada masa ketika pendidikan terputus, arah hidup hilang, dan aku tidak lagi mengenali diriku sendiri. Dulu aku adalah murid yang aktif dan berprestasi. Aku berasal dari latar belakang IPA dan sangat mencintai fisika. Bagiku, belajar adalah sesuatu yang menyenangkan. Aku memiliki mimpi, target, dan keyakinan bahwa masa depan bisa diraih melalui pendidikan.
Namun semuanya berubah ketika aku masuk ke dalam lingkungan yang dipenuhi pemahaman radikal. Sedikit demi sedikit cara berpikirku berubah. Lingkungan itu membentuk ketakutan, kecurigaan, dan pandangan hitam-putih terhadap dunia. Di titik tertentu, pendidikan yang dulu menjadi bagian penting dalam hidupku justru terhenti. Saat itu aku tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi pada diriku. Aku hanya merasa hidupku bergerak semakin jauh dari arah yang dulu pernah kuinginkan. Yang paling berat ternyata bukan hanya kehilangan kesempatan belajar, tetapi kehilangan rasa percaya terhadap diriku sendiri.
Luka dari masa lalu itu tidak benar-benar hilang. Ada bagian dalam diriku yang sampai hari ini masih hidup dalam mode waspada. Hal-hal tertentu bisa tiba-tiba memicu sesak, gemetar, atau rasa takut yang sulit dijelaskan. Kadang aku terlihat tenang dari luar, padahal pikiranku sedang berusaha keras melawan ingatan yang datang tanpa aba-aba. Trauma itu tidak hadir dalam satu bentuk saja. Ada lapisan kehilangan, rasa bersalah, ketakutan, dan kehancuran identitas yang masih terus kubawa sampai sekarang. Bahkan ketika suasana sebenarnya aman, tubuhku sering bereaksi seolah ancaman itu masih ada di dekatku. Aku belajar bahwa luka psikologis tidak selalu terlihat jelas dari luar. Seseorang bisa tetap menjalani aktivitas sehari-hari sambil diam-diam berjuang menghadapi pikirannya sendiri.
Karena itu, ketika akhirnya aku memiliki kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan melalui beasiswa, ada perasaan yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti diberi kesempatan kedua setelah sekian lama hidup dalam keadaan gelap dan bingung. Aku sadar perjalanan ini tidak akan mudah, tetapi aku juga tahu bahwa jika menyerah lagi, mungkin aku tidak akan pernah benar-benar bangkit dari masa lalu.
Aku memilih jurusan Studi Islam bukan tanpa alasan. Aku ingin memahami bagaimana sebuah ajaran agama yang seharusnya membawa ketenangan bisa berubah menjadi sesuatu yang penuh tekanan dan ketakutan. Dari penjelasan dosen, diskusi kelas, dan buku-buku yang kubaca, aku mulai melihat bahwa radikalisme tidak tumbuh secara sederhana. Ada proses ideologis yang sistematis, manipulasi makna agama, dan tekanan psikologis yang membuat seseorang sulit mempertanyakan apa yang diterimanya. Aku mulai memahami bagaimana rasa takut dapat dipakai untuk mengendalikan seseorang, dan bagaimana lingkungan tertentu dapat membuat seseorang kehilangan keberanian untuk berpikir secara mandiri.
Pemahaman itu mengubah banyak hal dalam diriku. Untuk pertama kalinya, aku berhenti menyalahkan diriku sepenuhnya atas apa yang pernah terjadi. Aku memang pernah terjebak, tetapi aku juga berada dalam lingkungan yang secara perlahan mempengaruhi cara berpikir dan emosiku. Menyadari hal itu tidak langsung menyembuhkan luka, tetapi setidaknya membuatku mampu melihat diriku dengan lebih manusiawi.
Di sisi lain, perjalanan kuliah sambil menjadi ibu membawa tantangan yang tidak kecil. Tidak semua orang memahami alasan mengapa aku begitu mempertahankan pendidikan ini. Ada yang menganggap aku terlalu sibuk mengejar kuliah dan melupakan peran sebagai ibu. Kalimat seperti “sudah jadi ibu, kenapa masih kuliah?” terdengar sederhana, tetapi sering meninggalkan beban panjang di kepala. Mereka tidak melihat bagaimana rasanya kehilangan pendidikan di usia muda lalu mencoba membangun semuanya kembali dari awal. Mereka tidak tahu bahwa bagiku pendidikan bukan sekadar gelar, melainkan cara untuk mengambil kembali hidup yang pernah hilang.
Kini aku tidak lagi melihat pendidikan sebagai sekadar pencapaian akademik. Bagiku, ini adalah proses untuk menemukan kembali identitas yang pernah hilang. Aku ingin anakku tumbuh dengan melihat bahwa hidup memang bisa berubah menjadi sangat sulit, tetapi seseorang tetap bisa bangkit dan melanjutkan langkahnya. Perjalanan ini masih panjang. Rasa lelah, takut, dan ragu masih datang sesekali. Namun sekarang aku tahu satu hal dengan pasti: aku tidak sedang sekadar menjalani kuliah. Aku sedang merebut kembali pendidikan, pemahaman, dan diriku sendiri yang dulu pernah hilang.
Mungkin luka itu tidak akan benar-benar hilang sepenuhnya, tetapi sekarang aku tidak lagi membiarkannya menentukan seluruh arah hidupku. Aku memilih tetap berjalan, tetap belajar, dan tetap membangun masa depan meskipun membawa trauma kompleks yang masih meninggalkan jejak panjang dalam diriku setiap hari.
*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi
Komentar