Belajar, Luka, dan Keberanian yang Tersisa

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: “Aku Lolos, Yah”: Ketika Luka Masih Ada, Tapi Aku Tetap Melangkah

Beberapa hari setelah pengumuman itu, hidupku kembali bergerak. Bukan dengan loncatan besar, tetapi dengan keputusan-keputusan kecil yang justru terasa lebih berat karena harus diambil dengan sadar. Ada dua program beasiswa di tanganku. Keduanya baik. Keduanya membuka kemungkinan. Tapi aku tahu, aku tidak bisa memeluk semuanya sekaligus.

Aku harus memilih.

Keputusan itu tidak gaduh. Tidak ada diskusi panjang, tidak ada suara ramai yang ikut menimbang. Ia terjadi dalam diam. Dalam ruang yang hanya diisi oleh pikiranku sendiri, oleh rasa takut, oleh pertimbangan yang berulang-ulang. Bukan karena salah satu tidak berharga, justru karena keduanya berharga. Tapi aku sadar, hidupku tidak sedang berada dalam kondisi yang luas untuk menampung semuanya.

Waktuku terbatas. Tenagaku terbagi. Dan ada satu kehidupan kecil yang setiap hari menatapku tanpa tahu apa-apa tentang pilihan-pilihan yang harus kuambil.

Akhirnya aku merelakan salah satunya.

Bukan karena aku tidak ingin. Tapi karena aku harus jujur pada batas yang kupunya. Ada hal-hal yang, jika dipaksakan, justru akan merusak yang lain. Dan kali ini, aku tidak ingin lagi kehilangan sesuatu karena aku tidak tahu kapan harus berhenti.

Keputusan itu terasa seperti memotong sesuatu dalam diriku sendiri. Tidak terlihat, tapi terasa.

Hari-hari setelah itu mulai kuisi dengan hal-hal yang dulu terasa jauh dari hidupku. Aku menghubungi pihak kampus, mengurus registrasi, memilih mata kuliah. Semua kulakukan dengan hati-hati, pelan, seperti seseorang yang sedang belajar berjalan kembali setelah lama terjatuh dan masih belum sepenuhnya percaya pada kakinya sendiri.

Aku memilih jurusan studi Islam.

Keputusan itu tidak lahir dari sekadar minat akademik. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih personal. Aku ingin memahami kembali apa yang dulu sempat hilang dari hidupku, pemahaman yang jernih, yang tidak sempit, yang tidak memaksa, yang tidak melukai.

Karena aku pernah berada di titik sebaliknya.

Aku pernah mengenal agama dalam bentuk yang keras. Dalam cara yang membuatku merasa tertekan, bukan ditenangkan. Dalam pemahaman yang tidak memberi ruang untuk berpikir, hanya menuntut untuk patuh.

Luka dari pengalaman itu tidak hilang begitu saja.

Ia masih ada sampai sekarang.
Masih terasa.
Masih ikut memengaruhi caraku melihat diri sendiri.

Aku datang ke jurusan ini bukan sebagai seseorang yang sudah selesai dengan pertanyaannya. Aku datang sebagai seseorang yang justru masih membawa banyak tanya. Aku tidak sedang mencari pembenaran, aku hanya ingin memahami, dengan cara yang lebih utuh, lebih tenang.

Suamiku, seperti biasa, tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya terasa.

Ia membelikanku perlengkapan yang kubutuhkan. Hal-hal sederhana, meja kecil, buku catatan, alat tulis. Tidak mewah, tidak istimewa bagi orang lain. Tapi bagiku, itu seperti penanda bahwa langkah ini benar-benar dimulai. Bahwa ini bukan lagi sekadar rencana di kepala, tapi sesuatu yang sedang dijalani.

Setelah sekian lama, aku kembali menulis.

Tangan ini sempat terasa asing. Kaku. Seolah lupa bagaimana caranya bergerak mengikuti pikiran. Ada jarak yang jelas antara diriku yang sekarang dan diriku yang dulu. Dulu aku belajar dengan yakin. Sekarang, aku belajar dengan hati-hati.

Dengan lebih banyak ragu daripada percaya.

Aku mulai membuka modul, menyimak perkuliahan, mengerjakan kuis. Semua kulakukan di sela waktu yang tersisa. Tidak ada jadwal yang benar-benar rapi. Aku belajar saat anakku tidur, saat rumah mulai sunyi, saat tubuh sebenarnya sudah meminta istirahat.

Aku menjalani dua peran sekaligus. Dan tidak ada satu pun yang ringan.

Di tengah proses itu, satu hal menjadi semakin jelas, aku memang tertinggal.

Bukan sekadar tertinggal waktu, tapi juga tertinggal dalam banyak hal. Dalam cara berpikir, dalam kecepatan memahami, dalam rasa percaya diri. Ketika aku baru memulai semester satu, banyak orang sudah berada di tahap akhir. Mereka berbicara tentang skripsi, tentang kelulusan, tentang masa depan.

Sementara aku, masih berusaha memahami dasar.

Jarak itu terasa nyata. Tidak bisa diabaikan.

Rasa minder datang pelan, tapi konsisten. Ia tidak selalu datang dengan suara keras, tapi cukup untuk membuatku sering berhenti sejenak dan bertanya, apakah aku benar-benar bisa?

Dan yang membuatnya lebih berat, suara-suara dari masa lalu belum benar-benar pergi.

Kalimat-kalimat itu masih ada.
Masih terdengar.
Masih terasa dekat.

Kadang muncul saat aku tidak memahami materi.
Kadang saat aku merasa terlalu lambat.
Kadang bahkan tanpa alasan yang jelas.

Dan di saat-saat seperti itu, luka lama seperti terbuka lagi.

Radikalisme yang pernah kualami tidak berhenti ketika aku keluar darinya. Ia meninggalkan cara berpikir yang sulit dihapus. Ia membentuk kebiasaan untuk meragukan diri sendiri. Untuk merasa tidak cukup. Tidak layak. Tidak pantas berada di tempat yang lebih baik.

Luka itu belum sembuh.

Tapi ada satu hal yang berbeda sekarang.

Aku tidak lagi berhenti.

Aku tetap membuka buku, meski pikiranku berisik.
Aku tetap mencatat, meski tanganku kadang gemetar.
Aku tetap belajar, meski rasa percaya diri itu belum kembali.

Aku berjalan dengan luka yang masih terbuka.

Dan mungkin, justru di situlah letak keberanian yang sebenarnya.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk keperluan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar