Pada tanggal 9 Juli 2025 yang baru saja lewat, ingatan saya terhenti sejenak di sebuah titik sunyi—tujuh tahun ke belakang, ketika untuk pertama kalinya saya mengirimkan tulisan ke Ruangobrol. Bukan opini, bukan ulasan atau analisis yang kini sering saya buat, melainkan sebuah cerpen sederhana. Fiksi yang lahir dari kebingungan, namun juga dari keberanian untuk mulai. Saat itu, saya belum tahu akan dituntun ke mana oleh kata-kata—yang saya tahu hanya satu: saya harus menulis.
Waktu itu, buku Internetistan baru saja rampung saya tulis. Pikiran saya masih berkabut. Ruangobrol, saat itu, terasa seperti halaman kosong yang luas dan sunyi—menanti kata pertama ditorehkan. Tapi bagaimana menuliskannya? Dalam gaya seperti apa? Tentang apa? Belum ada yang benar-benar jelas. Hingga kemudian saya teringat perkataan seseorang yang kini telah tiada—almarhum Mas Hakiim:
“Tulis saja apa yang mau ditulis. Cerpen, puisi, cerita di penjara, atau apa saja yang ingin jenengan tulis silakan ditulis di Ruangobrol. Tidak ada gaya atau pedoman baku untuk orang-orang seperti jenengan yang ingin berkarya. Kami berikan tempatnya. Sesuai dengan tagline Ruangobrol, Dare to Share, yang penting adalah keberanian untuk berbagi. Dan kami akan sangat menghargai itu.”
Kata-kata itu, hingga hari ini, masih menjadi suluh yang saya nyalakan untuk teman-teman yang memiliki potensi menjadi credible voices. Saya ingin mewariskan semangat itu. Semoga menjadi pahala jariyah bagi Mas Hakiim—sebuah warisan yang tak terputus, lahir dari keberanian memberi ruang.
Dari Cerita Penjara ke Dunia P/CVE
Langkah awal saya di Ruangobrol diwarnai oleh tulisan-tulisan reflektif: kisah perjalanan saya menjadi bagian dari kelompok teror, titik balik yang membawa saya berhenti, dan perenungan dari kehidupan di balik jeruji.
Lama-kelamaan, keberanian untuk menulis opini atau analisa mulai tumbuh. Saya mulai mengekspresikan pandangan pribadi terkait isu P/CVE (Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Kekerasan). Ternyata, sudut pandang saya sebagai mantan pelaku menjadi narasi yang unik di tengah keriuhan wacana.
Di Ruangobrol, kemampuan menulis saya terasah. Bukan hanya karena konsistensi, tapi juga karena dukungan nyata: pelatihan-pelatihan, diskusi-diskusi, serta ruang yang lapang untuk tumbuh.
Seiring waktu, saya pun menjelma menjadi peneliti dan aktivis reintegrasi sosial. Perjumpaan saya dengan individu dan komunitas di lapangan membawa cerita-cerita baru, temuan yang memperkaya, luka yang menyembuhkan, dan harapan yang perlu dinarasikan.
Jejak Inspirasi yang Membekas
Banyak orang yang bertanya: Mengapa saya suka menulis?
Pertanyaan itu membawa saya pulang ke masa silam. Masa ketika saya masih menjadi santri di Pondok Pesantren Al Islam, Solokuro, Lamongan. Di sana, ada seorang ustaz—sosok yang begitu dekat dan hangat. Suatu hari, ia menunjukkan buku catatannya: rapi, teratur, penuh catatan hasil kajian dan bacaan. Saya terkagum.
“Catatan ini,” katanya, “bukan hanya untuk mengingat, tapi juga untuk memantik pemikiran baru.”
Sejak saat itu, saya mulai belajar menulis. Awalnya ringkasan kajian, kemudian pemikiran, kegalauan, bahkan kesan terhadap teman baru. Ketika menulis, saya seolah berdialog dengan diri sendiri. Menemukan pertanyaan, lalu menyusun rencana mencari jawabannya—dengan membaca, bertanya, atau menunggu waktu yang menjawabnya.
Inspirasi kedua hadir saat pertemuan saya dengan Dr. Noor Huda Ismail, pendiri Ruangobrol, pada Maret 2018. Beliau berkata:
“Cerita atau refleksi, jika dituliskan, akan menjadi pengetahuan bagi orang lain. Kalau disimpan sendiri, ia hanya menjadi milikmu seorang. Untuk membagikannya, memang perlu keberanian. Itulah kenapa gerakan di Ruangobrol ini memiliki tagline “Dare to Share”.
Ucapan itu menancap dalam. Sejak hari itu, saya tidak lagi sekadar menulis, tapi menulis dengan kesadaran untuk berbagi. Bahwa mungkin, di belahan bumi lain, ada yang sedang membutuhkan secercah pelajaran dari sepotong kisah di belahan bumi lainnya yang saya temukan.
Ketika Tulisan Menjadi Berkah
Sepanjang sejarah karir kepenulisan di Ruangobrol, ada banyak orang yang mengapresiasi dan terbantu dengan adanya tulisan-tulisan saya di Ruangobrol. Ada beberapa mahasiswa S1, S2, hingga dosen S3 pernah menghubungi untuk berbincang tentang tulisan-tulisan saya di Ruangobrol. Ada yang meminta data, ada yang ingin wawancara, ada pula yang menawarkan kerja sama penerbitan buku. Semua itu datang tanpa saya rencanakan—ibarat angin sejuk yang mampir di perjalanan menulis yang saya jalani dengan tulus.
Bagi saya, ini bukan soal popularitas. Ini soal keberkahan. Tulisan-tulisan itu telah menemukan jalannya sendiri. Saya hanya menulis dan membiarkannya mengalir. Karena saya percaya, ketika niatnya benar, karya akan tumbuh dan berdampak.
Untuk Sang Penerang Jalan
Tulisan ini saya dedikasikan untuk almarhum Mas Hakiim, lelaki yang memberikan ruang tanpa batas bagi saya untuk menulis. Semoga Ruangobrol menjadi jariyah baginya. Semoga setiap kata yang saya tulis, setiap ide yang saya bagi, menjadi lentera yang turut menerangi jalannya di sana.
Tujuh tahun bukan waktu yang pendek. Tapi dalam dunia kepenulisan, ini baru permulaan. Dan seperti kata Dr. Noor Huda Ismail: Dare to Share. Maka saya akan terus menulis, sejauh Allah SWT masih mengkaruniakan kemampuan itu pada diri ini.
Foto: Diskusi dengan Rosyid Nurul Hakiim, Dr. Noor Huda Ismail, dan Kharis Hadirin yang mengawali kisah bersama Ruangobrol.(Maret 2018/Dok. Ruangobrol.id)
Komentar