Duka, Mati Rasa, dan Pilihan yang Tidak Ideal

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Setelah Pulang, Aku Masih Bertarung Melawan Trauma Sunyi dan Luka yang Tak Terlihat

Ada masa ketika dunia terasa terlalu keras, tapi tubuhku terlalu lelah untuk melawan. Pada masa itu aku tidak sedang hidup, aku hanya bertahan supaya tidak hancur sepenuhnya. Yang hilang dariku bukan hanya pendidikan atau masa depan, tapi rasa percaya bahwa aku pantas berada di dunia. Rasa bahwa aku punya arah. Sebuah cahaya yang dulu pernah ada, dan kini padam begitu saja.

Semua terjadi cepat, kasar, dan sunyi. Tidak ada momen untuk memahami kapan hidupku mulai retak. Yang terdengar hanya suara orang-orang yang berkata bahwa semua itu salahku: salah bergabung dengan kelompok radikal, salah tidak berhati-hati, salah putus sekolah, salah mengecewakan keluarga, salah tidak kuat. Tidak ada yang menanyakan bagaimana aku terperangkap, bagaimana aku bertahan, atau berapa banyak yang hilang dariku. Kisahnya belum dibuka, tapi label sudah ditempelkan.

Aku cepat belajar bahwa lebih mudah bagi orang menunjuk korban daripada memahami sistem yang melahirkan pelaku. Di antara semua tudingan, tidak ada satu pun yang menyebut bahwa mereka tidak pernah hadir ketika luka itu terjadi.

Keluar rumah menjadi tantangan. Berdiri di depan pintu saja membuat tubuhku menegang. Tatapan orang terasa seperti pukulan. Dunia bergerak terlalu cepat, sementara aku masih tersekap di ruangan gelap di masa lalu.

Yang paling menyakitkan adalah hilangnya identitasku. Buku-buku yang dulu jadi teman, pena yang dulu kupakai untuk menulis mimpi, kini terasa asing. Ada versi diriku yang dulu ceria, berani, penuh ide, yang menatapku dari jauh dan bertanya, “Kamu kemana?” Aku tidak tahu jawabannya.

Orang-orang mengatakan bahwa putus sekolah berarti tamat. Mereka mengatakannya seolah itu hukum alam. Dan kata-kata itu bukan sekadar pendapat, itu vonis. Vonis bahwa aku sudah selesai sebelum sempat memulai ulang.

Tubuhku bertahan dengan fungsi dasar. Aku makan, tidur, minum, bernapas, namun tanpa makna. Seolah sistem darurat dalam diriku mengambil alih dan berkata “Tidak perlu merasa. Yang penting hidup.” Berbulan-bulan aku hanya diam. Tidak menangis, tidak marah, tidak menulis, tidak membaca. Hanya diam. Kesunyian itu seperti lorong panjang tanpa pintu dan tanpa akhir. Waktu berjalan, tapi aku tidak ikut di dalamnya.

Pada fase itu aku berduka atas diriku sendiri, tapi duka itu tidak pernah diakui. Tidak ada pemakaman. Tidak ada pelayat. Tidak ada yang mengatakan bahwa yang hilang itu berharga. Bahkan aku pun tidak tahu apakah aku berhak berkabung atas diriku sendiri atau tidak.

Lalu satu hari, tanpa rencana, aku membuat keputusan yang mengubah alur hidupku: aku menikah. Bukan atas nama cinta, dan bukan karena siap. Aku menikah karena aku ingin pergi dari lingkungan yang membuatku membusuk pelan-pelan. Aku ingin kabur dari stigma, tatapan, gosip, dan ejekan yang mereka lemparkan, seolah itulah tugas sosial mereka. Pada titik terendah, logika bukan lagi kompas. Prioritasnya hanya satu: bertahan.

Tentu ada suara kecil yang mengingatkan kemungkinan buruk. “Bagaimana kalau menikah justru jadi kehancuran baru?’ Tapi aku tidak punya energi untuk menjawab. Tinggal berarti mati pelan-pelan. Pergi berarti kemungkinan. Dan kemungkinan sekecil apapun tetap lebih baik dari kepastian hancur.

Tidak ada yang melihat bahwa aku sedang menjalani duka berlapis: kehilangan diri, masa depan, validasi, ruang aman, dan tempat pulang. Duka yang tidak diakui itu membusuk diam-diam.

Jadi aku menerima lamaran itu.

Yang tidak pernah kukatakan kepada siapapun adalah: aku menerima lamaran laki-laki yang bahkan belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak tahu pikirannya, prinsip hidupnya, atau bagaimana ia memandang perempuan. Semua hal yang seharusnya penting, tapi pada saat itu tubuhku tidak lagi mampu menimbang.

Energi untuk menilai hilang. Energi untuk mengantisipasi hilang. Energi untuk menolak pun hilang. Yang tersisa hanya satu kalimat pendek: “Semoga ini tidak memperburuk keadaan.”

Malam setelah menerima lamaran, aku berdoa, bukan dengan keyakinan penuh, tapi dengan harapan yang sederhana: semoga ia bukan orang yang akan menyakitiku. Semoga ia tidak menghancurkan sisa diriku yang masih bertahan. Aku tidak berharap diselamatkan. Pada fase itu aku bahkan tidak punya konsep tentang “diselamatkan.” Aku hanya tahu bahwa diam berarti mati, dan menikah berarti membuka kemungkinan, entah baik atau buruk.

Belakangan ada yang bertanya: “Saat itu apakah kamu tidak takut? Kamu tidak berpikir dulu?” Mereka tidak mengerti bahwa untuk takut, seseorang harus punya tenaga. Untuk berpikir, seseorang harus punya ruang. Dan untuk menolak, seseorang harus punya keberanian untuk menghadapi alternatifnya. Saat itu aku tidak punya ketiganya.

Yang orang lihat hanya seorang perempuan yang menikah. Mereka tidak tahu bahwa yang sebenarnya terjadi adalah seorang perempuan yang kehabisan jalan memilih pintu yang tidak ia kenal sama sekali.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar