Setelah Pulang, Aku Masih Bertarung Melawan Trauma Sunyi dan Luka yang Tak Terlihat

Tokoh

by WAVE Community Editor by Arif Budi Setyawan

Oleh: Vania

Baca kisah sebelumnya: Ketika Pulang Menjadi Perlawanan: Malam Paling Sunyi dalam Hidupku

Selama dalam perjalanan, pikiranku kacau. Jalanan yang melintas di luar jendela terasa seperti kilasan hidup yang berantakan. Tidak ada ruang untuk lega, bahkan setelah keluar dari rumah singgah itu. Aku hanya duduk diam, memeluk tas kecilku, mencoba memahami apa yang barusan terjadi. Rasanya hidupku benar-benar hancur dari berbagai sisi, pendidikan, pertemanan, rasa percaya, bahkan orientasi hidup. Semuanya seolah runtuh dalam sekali gores.

Untuk sementara aku tinggal di rumah bibi sebelum akhirnya pulang ke rumah orang tuaku yang berada di pulau berbeda. Rasanya asing, tetapi lebih aman. Saat ponsel sudah kembali di tanganku, hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi beberapa teman yang pernah berada di rumah singgah bersamaku. Termasuk kabar tentang Salsa. Alhamdulillah, ia dan beberapa lainnya juga berhasil keluar dari tempat itu. Setelah kami menghilang, rumah singgah itu tetap berjalan. Masih mendatangkan perempuan-perempuan dari berbagai daerah dengan narasi yang sama. Tidak ada yang benar-benar berubah, kecuali kami yang berhasil lolos.

Setelahnya aku memutuskan untuk memutus semua kontak. Bukan karena benci, tetapi karena aku tidak punya tenaga lagi untuk mengulang luka yang sama. Perjalanan pulang ke rumah orang tuaku memakan waktu dua hari dua malam melalui jalur darat. Di kepalaku hanya satu pertanyaan “bagaimana aku harus memulai semuanya kembali?”

Aku tiba di rumah pada dini hari. Ibuku memelukku tanpa banyak bicara. Pelukan itu justru membuatku ingin pecah berkeping-keping. Hari-hari setelahnya berjalan seperti ruang tunggu panjang yang tidak jelas ujungnya. Tidak ada yang membantuku memahami apa yang baru saja terjadi. Yang ada hanya badanku yang pulang, tapi kepalaku masih tersangkut di tempat itu, dengan rasa takut dan rasa malu yang saling menumpuk.

Lalu datanglah fase komentar dari manusia, fase yang tidak pernah diajarkan dalam buku pelajaran mana pun.

Komentar-komentar yang mungkin bagi mereka hanya basa-basi, tapi bagiku berubah menjadi hantaman.
“Kasihan ya… pinter tapi keblinger.”
“Udah pasti ujungnya nikah, mau ngapain lagi?”
“Sayang banget, padahal anaknya berprestasi.”
“Sia-sia orang tuanya nyekolahin.”
“Rusak masa depannya.”

Kalimat itu tidak datang sekali. Mereka datang bergelombang, dari mulut yang berbeda-beda, dengan tempo yang tidak pernah habis. Ada yang mengatakannya seperti analisis objektif, ada yang seperti gosip, ada yang seperti hukuman, dan ada yang seperti lelucon.

Yang paling aneh, aku tidak diserang oleh musuh, aku diserang oleh lingkungan yang seharusnya jadi tempat pulang.

Dan rasa sakitnya berbeda.

Ketika aku berada di rumah singgah dulu, aku tahu persis siapa yang harus kuwaspadai, siapa yang keras, siapa yang manipulatif, siapa yang marah, siapa yang dominan. Ancaman itu jelas bentuknya. Tapi setelah pulang, ancamannya berubah jadi abstrak, tatapan, gumaman, kesimpulan dangkal, analisis murah, dan stigma sosial yang menempel di kulit seperti lem.

Itu adalah trauma. Trauma yang tidak keras, tapi menggerogoti. Tidak menampar, tapi mengikis pelan-pelan. Tidak membuat luka luar, tapi menanam luka dalam.

Dan bagian paling beratnya? Aku menghadapinya sendirian.

Tidak ada yang berdiri di sampingku untuk berkata “hei, itu tidak pantas” atau “dia sedang mencoba bertahan”. Tidak ada yang memvalidasi rasa kehilangan yang kualami. Tidak ada yang menjelaskan bahwa hancurnya kehidupan bukan berarti hancurnya nilai seorang manusia.

Seolah-olah semua ini adalah kasus logika. Seolah-olah aku yang memilih. Seolah-olah aku punya lima opsi sehat tapi sengaja memilih opsi hancur. Seolah-olah aku tidak berjuang. Padahal hanya aku yang tahu betapa keras aku berusaha keluar, betapa mahal harga yang harus kubayar.

Di masa itu aku baru mengerti bahwa terkadang manusia bersimpati pada luka yang dramatis, tapi tidak pernah siap menghadapi luka yang tidak rapi dan tidak cantik.

Dan dari semua luka yang kubawa, luka sosial itulah yang paling melekat, karena ia membuatku percaya bahwa aku sendirian. Bahwa tidak ada yang ikut memikul. Bahwa tidak ada ruang aman. Bahwa kalau aku ingin sembuh, aku harus membangun jalanku sendiri.

Dan kesepian seperti itu bukan sekadar “tidak punya teman”. Kesepian seperti itu adalah kesadaran bahwa aku hidup di tengah manusia, tapi tidak ada satupun yang bisa memahami apa yang sedang aku rasakan. Itu trauma yang lebih sunyi. Trauma yang tidak punya bahasa. Trauma yang tidak punya saksi.

Dan sejujurnya? Itu jauh lebih memakan tenaga daripada tempat yang pernah kuberada sebelumnya.



*Ilustrasi dibuat dengan bantuan teknologi AI untuk kepentingan visualisasi

Komentar

Tulis Komentar